
Sedari semalam, kedua orangtua Nadia dibuat kuwalahan oleh tingkah Arnold dan Nadia. Memang benar cocok keduanya jika disandingkan sebagai pasangan anak dan ibu. Bahkan Andre, Anara, Abel, dan Alan sampai dibuat melongo dengan cara mereka mengerjai kedua orangtua itu.
"Ini ndak ada jus apa bagaimana? Yang dingin-dingin gitu, masa tamunya dibiarkan tenggorokannya kekeringan begini" sindir Arnold saat mereka telah selesai membersihkan diri.
"Minum aja air comberan, jangan manja. Udah gede juga" ketus Ibu Ratmi.
"Wooo... Tamu adalah raja, masa seorang raja dikasih air comberan" ucap Arnold dengan mencebikkan bibirnya kesal.
"Ibu itu kalau menjamu tamu itu yang baik, jangan sampai lho nanti waktu tamunya pulang terus merasa kehilangan asyeekkkk" ucap Nadia dengan bercanda.
Ibu Ratmi dan Ayah Deno hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari anak dan cucunya itu. Bahkan setelahnya mereka sama sekali tak menggubris kehadiran keduanya karena terlampau kesal menanggapi. Hanya Alan lah yang disapa dengan begitu hangat kehadirannya oleh kedua orangtua Nadia.
Entah apa yang terjadi dengan Ibu Ratmi hingga kini tak menyukai kehadiran ketiga anak Andre. Wajahnya terlihat ketus bahkan tak segan-segan melemparkan tatapan kebencian pada semuanya. Hal ini juga yang membuat suasana disana sangatlah canggung. Mereka seakan tak bisa bebas berekspresi.
***
Sedari pagi, kedua orangtua Nadia sudah tak terlihat batang hidungnya. Nadia dan Arnold bahkan berpikir kalau mereka sudah kena mental sejak kemarin menghadapi tingkah keduanya sehingga langsung saja pergi dari rumah.
"Bunda, hari ini kita kemana?" tanya Arnold dengan antusias.
Setelah semalam mereka tidur berdesak-desakan di kamar Nadia dulu, pagi ini mereka telah bersiap untuk jalan-jalan mengelilingi desa ini sekaligus membagikan oleh-oleh yang dibawa kepada tetangga dekat.
"Kita bagi-bagikan ini dulu ya ke tetangga, baru setelahnya bisa main di kebun teh. Pasti disana udaranya segar sekali" ucap Nadia sambil tersenyum.
"Let's go bunda" seru Arnold agar semuanya tampak ceria.
__ADS_1
Terlihat sekali kalau kini yang sangat antusias dalam liburan kali ini hanya Arnold sedangkan ketiga saudaranya yang lain tampak lesu karena adanya hubungan canggung dengan kedua orangtua Nadia. Bahkan Andre juga lebih banyak diam karena masih ada kekecewaan dihatinya pada sang mertua. Arnold dan Nadia lah yang harus berusaha keras untuk mencairkan suasana.
"Jangan pada bengong aja yuk, nggak usah mikirin sesuatu yang nggak penting. Yang penting disini kita happy dan nggak ganggu oranglain" lanjutnya.
Akhirnya semuanya menampakkan wajah cerianya walaupun masih terlihat seperti paksaan. Nadia sudah menyiapkan beberapa bungkus oleh-oleh untuk dibagikan ke tetangga sekitar. Dibantu dengan Andre, keduanya berjalan keluar dari rumah dengan membawa oleh-oleh itu.
Sedangkan Abel dan Anara menggandeng tangan Alan. Untuk Arnold sudah berjalan terlebih dahulu mengomandoi semua anggota keluarganya kemana akan melangkah. Padahal dia sendiri tak tahu jalan area desa ini.
"Bu Entin, ini ada oleh-oleh sedikit dari kami" ucap Nadia sambil menyerahkan satu bungkusan plastik pada tetangganya yang sedang menyapu halaman.
"Terimakasih. Malah repot-repot, nak. Lain kali kalau main kesini main aja nggak usah bawa oleh-oleh" ucap Ibu Entin ramah sambil menerima bungkusan itu.
"Ah... Nggak repot kok bu, kalau begitu kami duluan ya" jawab Nadia sambil berpamitan.
Bu Entin hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Akhirnya Nadia dan keluarga kecilnya terus menyambangi rumah tetangga dekat sampai semua oleh-oleh yang dibawanya habis tak bersisa.
Bahkan Abel dan Alan juga terlihat lesu kecuali Arnold masih semangat untuk berjalan. Sedangkan Andre segera saja menggendong Alan yang kini bahkan sudah menguap.
"Kita istirahat di warung makan itu sambil minum dan nyemil yuk" ajak Nadia sambil menunjuk sebuah warung makan sederhana.
Mereka semua segera saja ke warung makan yang terlihat ramai pembeli itu. Segera saja mereka masuk dan duduk kecuali Nadia yang memesan minuman dan juga beberapa gorengan. Mereka memakannya dengan lahap karena rasa gorengan yang berbeda dari biasanya kecuali Alan yang makan biskuit yang dibawa Nadia dari rumah tadi.
"Kenapa ini mendoannya nggak letoy?" Tanya Arnold sambil memainkan gorengan itu setelah pesanan mereka diantarkan.
Biasanya jika Arnold membeli gorengan pasti akan bergoyang-goyang dan tak renyah walaupun baru saja digoreng. Sehingga saat dia melihat hal ini tentu menjadi hal baru baginya dan membuatnya heran.
__ADS_1
"Itu kemungkinan karena gorengnya belum terlalu matang sehingga tepungnya masih basah atau tempenya yang ketipisan waktu motong" jawab Nadia sambil terus menikmati gorengan dan es dihadapannya.
"Oh... Bunda, beli ini 20 biji buat besok dibawa oleh-oleh untuk nenek" ucap Arnold sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ide briliannya.
Nadia dan Andre tentu melongo tak percaya dengan ucapan aneh dari anaknya. Masa iya dalam perjalanan delapan jam lebih akan dibawakan oleh-oleh mendoan. Yang ada itu gorengan rasanya sudah akan sangat berbeda bahkan mungkin mendoannya berminyak.
"Kita carikan oleh-oleh yang masih bisa dimakan nanti ya abang. Kalau gorengan kan kalau dalam perjalanan jauh pasti udah nggak enak" ucap Nadia dengan hati-hati.
"Iya nih adek, harusnya kasih oleh-oleh itu yang bisa buat kenang-kenangan bukan yang nggak bisa disimpan lama" ucap Anara sambil geleng-geleng kepala.
"Wah... Kasian nenek, nggak bisa ngerasain gorengan enak ini. Perlu pamer deh ini sama nenek" gumam Arnold sambil terus makan gorengan entah sudah berapa biji.
Mendengar gumaman Arnold, Nadia dan Andre hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka yakin dalam otaknya sudah ada rencana untuk menjahili neneknya itu.
"Bunda, pinjam ponsel" lanjutnya.
Tanpa banyak bertanya, Nadia menyerahkan ponselnya kepada Arnold. Ia segera mengaktifkan kamera untuk membuat video tentang gorengan juga semua orang yang sedang memakannya. Di akhir video, Arnold mengalihkan kamera ponselnya kearah wajahnya kemudian memeletkan lidahnya.
Melihat pose aneh anaknya, mereka hanya tertawa lirih. Bahkan kini video itu ia kirimkan ke nomor neneknya melalui sebuah aplikasi hijau lalu mengembalikannya pada sang bunda.
"Jahil banget sih anakmu, bun" bisik Andre saat melihat apa yang diperbuat oleh anaknya.
"Anakmu juga, pa" bisik Nadia tak terima.
Mereka semua melanjutkan istirahat disana sampai satu jam kemudian pergi setelah membayar semua pesanan mereka. Bahkan kini Arnold sudah berada di gendongan papanya karena tak kuat jalan akibat terlalu kenyang. Perutnya yang bulat pun bertambah buncit akibat terlalu banyak makan.
__ADS_1
Mereka memutuskan kembali ke rumah sebelum nanti sore akan ke kebun teh. Terpaksa mereka mengubah rencana karena kondisi anak-anaknya yang masih lelah.