
Hari ini keluarga kecil Nadia telah selesai dengan liburannya. Hari ini diputuskan bahwa mereka akan kembali ke kota setelah hampir satu minggu lamanya berada di kampung halaman keluarga Nadia. Arnold begitu bahagia karena akan kembali ke kota, pasalnya ia sudah tak sabar untuk pamer foto-foto dirinya selama di desa kepada Mama Anisa.
Semua koper yang semalam berisikan beberapa pakaian dan oleh-oleh sudah dimasukkan kedalam mobil. Kini semuanya tengah duduk di ruang tamu untuk berpamitan dengan kedua orangtua Nadia. Kedua orangtua Nadia menatap semua anak dan cucunya dengan sendu. Mereka masih rindu kepada anak dan cucunya, namun karena kesibukan membuat semuanya tak bisa lebih lama lagi tinggal disana.
"Ayah dan ibu nggak mau ikut ke kota aja?" tanya Nadia bertanya lagi.
Sejak semalam dirinya sudah menawarkan kedua orangtuanya agar ikut mereka kembali ke kota. Namun kedua orangtuanya tetap kukuh untuk berada di desa. Mereka sepertinya lebih nyaman tinggal di desa, apalagi sudah tak ada lagi keluarga Parno disini yang biasa mengganggunya.
"Enggak, Nad. Kami di desa saja, lebih nyaman tinggal disini. Lagi pula kalau kalian kangen kami bisa lah datang kesini atau video call" ucap Ibu Ratmi menolak.
Akhirnya Nadia menganggukkan kepalanya pasrah karena sudah tak bisa memaksa mereka. Mereka semua pun akhirnya kelyar dari rumah kemudian masuk kedalam mobil. Mobil bergerak dikemudikan oleh Andre dengan keempat anaknya langsung melambaikan tangan kearah nenek dan kakeknya.
"Nenek, kakek... Jangan kangen sama Arnold ya. Arnold tahu kok kalau aku tampan dan lucu, tapi jangan sampai kebawa mimpi ketemu aku ya" seru Arnold sambil melambaikan tangannya.
Kedua orangtua Nadia yang mendengar hal itu hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala. Walaupun Arnold selalu membuatnya darah tinggi namun mereka sangatlah terhibur dengan tingkah bocah cilik itu.
"Rumah bakalan sepi nih tanpa mereka terutama si Arnold perusuh cilik itu" ucap Ibu Ratmi sambil terkekeh geli.
"Kalau kita ada rejeki lebih, kita kembali ke kota untuk menjenguk mereka ya bu" ucap Ayah Deno.
Ibu Ratmi menganggukkan kepalanya mengerti kemudian mereka berdua masuk kedalam rumah sederhanya. Hari masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas kerjanya membuat mereka lebih memilih menghabiskan waktu didalam rumah.
***
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, baru satu jam melakukan perjalanan akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah area lapangan. Disana banyak sekali penjual sarapan untuk mengisi perut mereka yang tengah keroncongan. Mereka memang tak sempat untuk sarapan di rumah karena memang hari masih terlalu pagi. Akhirnya mereka turun dari mobil kemudian duduk didekat penjual bubur ayam.
"Bang, buburnya 6 ya" seru Nadia.
__ADS_1
"Siap neng" jawab abang penjual buburnya.
Mereka duduk diatas tikar sambil melihat-lihat area lapangan itu. Banyak sekali orang berlalu lalang mencari sarapan disana. Saat semuanya tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, tiba-tiba saja Arnold berdiri kemudian berjalan pergi menjauh dari keluarganya.
"Pa, ikutin anaknya itu" titah Nadia yang melihat Andre hanya terdiam melihat kepergian Arnold.
Andre segera menyusul anaknya yang kelewat aktif itu, sedangkan Alan ingin mengikuti kakaknya namun ditahan oleh Nadia. Mereka berempat hanya memperhatikan Arnold yang terus berjalan kearah seorang ibu yang tengah berbaring di rerumputan dan anak perempuan yang tengah duduk tak jauh dari lapangan itu.
***
"Adek kenapa menangis disini? Ibu juga kenapa berbaring diatas rumput?" tanya Arnold.
Terlihat raut wajah ibu itu sangat pucat sambil memegangi perutnya dengan seorang gadis cilik tengah mengusapnya dengan tangan kecilnya. Bahkan gadis cilik yang usianya kira-kira dibawah Arnold itu juga menangis melihat kondisi ibunya. Baju lusuh dan badan yang terlihat kotor membuat Arnold dan Andre begitu iba. Ternyata di sekitar kita masih ada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita semua.
"Ibu sakit perut, sudah 2 hari nggak makan" ucap gadis cilik itu sambil menangis.
"Ayo ikut kami makan" ajak Andre yang kemudian membantu ibu itu agar posisinya menjadi duduk.
"Tapi kami nggak punya uang" ucap gadis cilik itu sambil menundukkan kepala.
Tanpa menjawab ucapan gadis cilik itu, Arnold langsung menggandeng tangannya untuk ikut dengannya. Sedangkan Andre memapah ibu-ibu itu untuk berjalan menuju tempat keluarganya akan sarapan. Setelah sampai di tempat keluarganya, Nadia segera membantu ibu-ibu itu untuk duduk disana.
"Bang, buburnya tambah 2 ya" seru Andre.
"Siap, den" jawab penjual bubur itu.
***
__ADS_1
"Kok bisa ibu kamu belum makan selama 2 hari?" tanya Anara kepada gadis disampingnya yang bernama Yuli itu.
Setelah bubur diantarkan kepada keluarga Andre, akhirnya semua memilih makan terlebih dahulu. Tak ada yang bertanya mengenai apa yang terjadi pada ibu dan gadis cilik itu. Semua fokus dengan makanannya masing-masing. Setelah menyelesaikan makanannya, mereka duduk disana sebentar.
"Kami nggak dapat makanan daari tempat sampah jadi terpaksa nggak makan" ucap Yuli lirih.
"Kalian tinggal dimana?" tanya Andre penasaran.
"Kami tinggal dimana saja, tuan" jawab Ibu Yuli sekenanya.
Badan Ibu Yuli kini sudah tak selemas tadi, pasalnya sudah terisi dengan makanan. Setiap hari keduanya memang berjalan di sekitar area lapangan itu untuk mencari barang rongsokan dan juga makanan bekas. Mereka tak mempunyai tempat tinggal tetap karena memang rumah mereka sudah digusur.
Mendengar jawaban dari ibu dan anak itu membuat Anara, Abel, dan Arnold merasa kasihan. Mereka tak menyangka masih ada orang yang mempunyai kehidupan dibawah mereka. Padahal mereka makan tinggal ambil atau ingin sesuatu langsung bisa dapat, namun ternyata ada orang yang bahkan untuk makan saja masih kekurangan.
"Terimakasih untuk buburnya, kalau begitu kami pamit dulu. Suatu saat kami akan membalas kebaikan kalian" ucap Ibu Yuli sambil tersenyum.
"Tunggu, bu" cegah Nadia.
Ibu Yuli dan anaknya langsung duduk kembali pada posisinya. Nadia mengambil sesuatu dalam tasnya kemudian menyelipkan beberapa lembar uang di tangan Ibu Yuli. Sedangkan Ibu Yuli hendak mengembalikan uang itu namun langsung ditolak oleh Nadia.
"Anggap ini rejeki dari Allah melalui saya. Rejeki nggak boleh di tolak" ucapnya dengan lembut.
"Ini juga dari aku untuk kamu adik kecil. Jangan ditolak, nolak rejeki dari Arnold nanti buat Allah marah" ucap Arnold menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan Yuli.
"Terimakasih, kak" ucap Yuli dengan mata berkaca-kaca.
Uang yang diberikan Arnold kepada gadis cilik itu berasal dari Mama Anisa waktu mereka berangkat liburan kemarin. Ibu Yuli dan anaknya begitu terharu melihat orang-orang dihadapannya ini begitu baik pada mereka. Padahal mereka tak saling mengenal namun dengan ikhlas semuanya memberikan bantuan kepadanya.
__ADS_1
Ibu Yuli dan anaknya pun akhirnya pergi setelah berpamitan pada keluarga baik itu. Sedangkan keluarga Andre langsung masuk kedalam mobil setelah membayar bubur pesanannya. Mereka melanjutkan kembali perjalanan untuk pulang ke kota.