
"Arnold yang paling tampan se Indonesia raya pulang..." seru Arnold yang baru saja pulang menjemput kedua kakaknya di sekolah.
Andre dan Papa Reza yang sudah pulang dari kantor pun langsung berjalan cepat menuju kearah pintu utama rumah. Mereka pulang awal karena mendapatkan kabar dari sopir yang mengantar jemput Abel dan Anara kalau semuanya belum pulang dari sekolah. Padahal jam pulang sudah berlalu satu jam yang lalu, bahkan saat dihubungi pun Mama Anisa dan Nadia sama sekali tak ada yang mengangkat.
"Kalian darimana saja? Bukannya jam pulang sekolah sudah dari dua jam yang lalu" tanya Andre dengan raut wajah khawatir tanpa menjawab seruan dari Arnold.
Memanglah mereka sudah sampai rumah satu jam yang lalu untuk mengonfirmasi pada sang sopir yang mengantar jemput Anara dan Abel. Mereka meunggu hingga satu jam kemudian, jika tak ada kabar juga maka akan langsung mencari ke sekolah. Beruntungnya sebelum mereka berangkat ke sekolah, semuanya sudah pulang dalam keadaan selamat.
"Kita ada masalah sedikit di sekolah. Masuk dulu yuk, nanti kita jelaskan. Anara dan Abel langsung ganti baju ya, nak" ucap Nadia sambil tersenyum kearah dua anak gadisnya.
"Iya bunda" ucap Anara dan Abel dengan patuh.
Anara dan Abel langsung berlalu masuk kedalam rumah untuk masuk kamar demi mengganti seragamnya dengan baju rumahan. Sedangkan Papa Reza langsung mengambil Alan yang ada dipangkuan Nadia, begitupun dengan Andre yang memposisikan diri menggantikan sang mama mendorong kursi roda istrinya. Mama Anisa menggandeng tangan Arnold untuk masuk kedalam rumah menyusul yang lainnya.
***
Mereka memutuskan untuk duduk di ruang keluarga untuk membahas masalah hari ini. Bahkan Papa Reza dan Andre terlihat begitu penasaran dengan apa yang terjadi. Mama Anisa pun menjelaskan tentang Anara dan Abel yang dirundung karena ranking oleh teman-temannya sehingga harus dipanggil oleh guru akibat tuduhan orangtua murid yang menyebabkan anak-anak menangis.
Mendengar apa yang diceritakan oleh Mama Anisa, sontak saja membuat Andre dan Papa Reza mengepalkan kedua tangannya. Mereka emosi anaknya dijadikan sasaran keegoisan dan keambisiusan orangtua.
"Nenek gimana sih? Masa nggak ceritain bagian Arnold yang melawan siswa dan ibu-ibu itu" ucap Arnold dengan memberengut kesal.
__ADS_1
Mama Anisa memang hanya menjelaskan pokok permasalahannya saja, ia tak menceritakan tentang Arnold yang menendang kaki keempat siswi tersebut dan adu debat dengan ibu-ibu. Menurut Mama Anisa, hal itu tidaklah penting karena yang terpenting adalah kronologi dan penyebab kejadian itu.
Sepertinya Arnold memang ingin dipuji karena kehebatannya melawan keempat siswi dan ibu-ibu itu. Nadia dan Mama Anisa hanya terkekeh geli dengan tingkah Arnold itu, sedangkan Andre juga Paoa Reza terlihat kebingungan.
"Maksudnya gimana?" tanya Andre dengan mengernyitkan dahinya heran.
"Jadi Arnold, anak dari Papa Andre dan cucu Papa Reza ini lah yang mencegah keempat siswi itu untuk menyakiti kedua kakaknya. Bahkan dengan beraninya dia adu debat dengan ibu-ibu tanpa takut" ucap Mama Anisa dengan menatap julid kearah cucunya itu.
Pasalnya kini Arnold menunjukkan wajah songongnya karena merasa dipuji oleh neneknya dan sebentar lagi pujian itu akan keluar dari bibir bunda, kakek, dan papanya. Nadia hanya bisa menepuk dahinya pelan melihat tingkah anak laki-lakinya ini terlebih saat ini Alan juga mengikuti raut wajah Arnold.
"Ayo papa dan kakek... Puji Arnold yang hebat ini dong" ucap Arnold dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Papa Reza dan Andre begitu shock melihat Arnold yang terlihat begitu genit seperti itu. Entah meniru dari siapa tingkah bocah kecil itu, yang pasti mereka berdua kaget. Terlebih dari mereka tak ada yang pernah bersikap seperti itu.
"Sama-sama. Tapi jagain orang itu harus ada cuannya lho, Arnold ndak mau rugi" ucap Arnold sambil melipat kedua tangannya didepan dada dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bahkan kini Alan sudah memajukan kedua telapak tangannya kehadapan kakeknya pertanda ia yang akan menerima uang hasil kerja keras kakaknya menjaga seluruh keluarga. Hal ini sontak saja membuat semua tertawa dengan tingkah kedua cucu laki-laki keluarga Farda itu yang benar-benar kompak.
"Astaga... Kenapa punya dua cucu laki-laki tingkahnya gini amat yak?" keluh Mama Anisa sambil geleng-geleng kepala.
"Harusnya nenek bangga punya cucu kaya kami dong. Sudah imut, lucu, dan membahagiakan orang sekitar" ucap Arnold dengan percaya dirinya.
__ADS_1
"Terserahmu saja lah, mbul" pasrah Mama Anisa menanggapi cucunya yang satu itu.
Baru menghadapi Arnold yang banyak bicara saja sudah membuatnya stress. Apalagi jika nanti Alan sudah pintar berbicara dan bergabung dengan Arnold, ia yakin akan semakin membuatnya sering terkena darah tinggi. Nadia yang melihat anak-anaknya tumbuh dengan baik walaupun ia tinggal saat koma pun merasa sangat bersyukur.
Saat semuanya sedang berbincang seru, tiba-tiba saja Anara dan Abel datang kemudian duduk dipangkuan kakek dan neneknya. Alan duduk dipangkuan Andre, sedangkan Arnold ada disebelah papaynya itu. Nadia langsung mengelus rambut milik Abel yang duduk dipangkuan neneknya itu.
"Rambut kakak Abel tadi dijambak kan? Masih sakit enggak, nak?" tanya Nadia dengan lembut.
Nadia tadi memang melihat kalau Abel tengah dijambak oleh temannya membuat ia segera berteriak meminta tolong pada satpam yang lewat dekat mobilnya untuk membantunya turun dari mobil. Ia pun segera diantarkan ke ruang guru untuk melaporkan kejadian ini.
"Enggak bunda, soalnya tadi jambaknya cuma bentar karena adek datang nyelamatin Abel dengan berteriak" ucap Abel dengan senyum cerianya.
Sebenarnya Nadia bertanya hal ini untuk memastikan bahwa trauma Abel tak kambuh lagi. Melihat respons dari Abel membuat para orang dewasa disana lebih lega, bahkan kini anaknya itu lebih ceria.
"Terimakasih abang Arnold. Abang hebat" ucap Nadia sambil tersenyum lembut sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah bocah laki-laki itu.
"Sama-sama bunda. Besok-besok kalau ada masalah, langsung panggil superhero Arnold okey" ucap Arnold dengan gaya sombongnya.
Akhirnya pujian yang ditunggu-tunggu datang juga dari bundanya, sedangkan Mama Anisa, Andre, dan Papa Reza hanya menatap sinis kearah Arnold. Bahkan dengan sombongnya, Arnold memeletkan lidahnya seakan mengejek papanya sendiri. Sontak saja hal ini membuat semua orang tertawa tak terkecuali Alan yang ikut-ikutan.
"Sombong amat, lagaknya superhero padahal minum susu aja kadang masih pakai dot" gumam Andre kesal dengan gaya Arnold itu.
__ADS_1
*******************
Maaf ya guys baru update... WiFi seharian error hehehe