
Sedari pulang dari sekolah, Arnold terus saja mengembangkan senyumnya membuat kedua kakaknya dan Nadia sangat heran. Apalagi saat ditanya, bocah laki-laki itu hanya menjawab sesuatu yang membingungkan.
"Ndak apa, Anol uma agi ceneng aja. Cenyum kan badah" jawab Arnold saat ditanya.
Akhirnya ketiganya tak bertanya lagi tentang penyebab dari bocah laki-laki itu selalu menampilkan senyumnya. Nadia yang memperhatikan tingkah Arnold dari jajan sendiri hingga duduk disamping gadis kecil pun tak mengetahui apa yang terjadi, pasalnya jarak yang lumayan jauh juga tak bisa mendengar pembicaraan mereka. Biarlah itu nanti menjadi urusan papanya saja.
Tak berapa lama mereka jalan kaki, akhirnya keempatnya sampailah di rumah. Arnold segera saja berlari masuk kedalam rumah sambil terus berteriak memanggil papanya.
"Papa... Papa..." seru Arnold.
Nadia dan kedua kakak Arnold hanya berjalan santai mengikuti bocah laki-laki itu yang sudah masuk dalam rumah. Andre yang tengah bersantai di ruang keluarga pun tersentak kaget mendengar anaknya menyerukan namanya. Karena takut terjadi sesuatu dengan anak dan istrinya membuat ia segera beranjak dari duduknya. Ia segera menangkap Arnold yang berlari kearahnya dengan wajah bercucuran keringat.
"Ada apa, dek? Bunda sama kedua kakakmu mana?" tanya Arnold dengan sedikit panik.
"Itu" ucap Arnold sambil menunjuk arah dekat pintu utama mansion.
Andre mengalihkan pandangannya kearah ketiga perempuan itu, seketika ia menghela nafasnya lega saat semuanya lengkap dan seperti tak ada apa-apa. Andre kembali menatap Arnold yang berada di gendongannya itu dengan mengerutkan alisnya heran.
"Jadi, anak papa yang satu ini kenapa teriak-teriak saat masuk rumah?" tanya Andre dengan lembut kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa ruang keluarga.
Nadia dan kedua anaknya telah naik ke lantai atas untuk menuju kamar agar bisa segera membersihkan diri. Sedangkan dia akan menunggu anak laki-lakinya ini untuk menceritakan semua yang terjadi hari ini.
"Papa, eliin Anol poncel don" seru Arnold dengan antusias.
__ADS_1
"Ponsel?" tanya Andre memastikan.
Arnold menganggukkan kepalanya membenarkan apa ucapan Andre itu. Andre dibuat bingung dengan permintaan anak laki-lakinya itu, pasalnya buat apa anak sekecil dia menggunakan ponsel.
"Untuk apa kamu ingin ponsel, dek?" tanyanya.
"Uat pidio kol wewek Anol. Ental alo angen, Anol bica telpon wewekku" ucap Arnold dengan antusias.
Andre yang mendengar ucapan Arnold hanya bisa menjatuhkan rahangnya. Anaknya yang paling kecil sudah mengenal cewek, namun dia masih heran darimana Arnold mengetahui hal-hal seperti ini.
"Anol dah unya wewek lho papa. Adi etemu di cekolah akak Bel dan Nala" ceritanya.
"Oh... Teman cewek" ucap Andre sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Ukan, papa ni imana cih. Ukan eman, api wewek tayak pacal" seru Arnold tak terima.
"Kamu tahu darimana tentang pacar, dek?" tanya Andre frustasi.
"Dali cinetlon yan diliat enek" ucap Arnold jujur.
Sepertinya Andre harus menegur mamanya agar tak melihat acara dewasa saat ada ketiga anaknya. Ia tak mau anaknya ini berpikiran dewasa sebelum waktunya. Apalagi pikiran polos ketiganya jangan sampai teracuni dengan hal-hal yang buruk.
"Astaga... Kalau adek sudah nggak pakai popok dan bisa makan sendiri, papa ijinin kamu pakai hp buat video call wewek kamu itu" ucap Andre.
__ADS_1
Arnold yang permintaannya tak disetujui pun kesal bukan main dengan papanya. Bahkan ia langsung saja melompat dari pangkuan Andre membuat laki-laki itu kaget. Ia khawatir dan kalut jika Arnold nanti akan jatuh apalagi didepannya ada meja membuat Andre emosi dan kalap.
"ARNOLD" bentak Andre tanpa sadar.
Arnold yang baru pertama kalinya dibentak oleh Andre pun langsung memundurkan jalannya dan menatap papanya dengan tatapan ketakutan. Bersamaan dengan itu Nadia, Abel, dan Anara berlari menuju kearah mereka berdua karena mendengar bentakan nada tinggi.
"Kamu tahu nggak? Kalau nanti kamu jatuh dan kena pinggiran meja itu kepalamu bisa bocor. Selama ini papa diam saja atas tingkah kamu yang bahkan terkesan tak sopan pada yang lebih tua, tapi sekarang kamu benar-benar keterlaluan. Dasar urakan, pecicilan, dan tak berguna" sentaknya dengan nada tinggi.
Sungguh bentakan yang membuat Arnold ketakutan dan menggeleng tak percaya. Bahkan kedua kakaknya yang baru saja datang pun memilih untuk tak mendekat kearah Arnold karena takut dengan wajah Andre yang memerah. Bukan hanya memerah namun matanya juga melotot kearah Arnold dengan kedua telapak tangan mengepal sempurna.
Nadia yang tak tahu ada masalah apa antara anak dan papanya itu kemudian mendekat kearah Arnold. Ia segera memeluk anak sambungnya itu namun Arnold sama sekali tak merespons apa yang dilakukannya. Ia hanya diam dan terus menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan satu patah katapun.
"Urus itu anakmu yang begadulan. Hukum dia nggak usah kasih keluar kamar selama satu minggu" ucap Andre yang kemudian berlalu pergi dari hadapan Nadia dan Arnold.
Bahkan saat melewati kedua anak gadisnya pun Andre sama sekali tak menyapa ataupun merubah mimik wajahnya. Setelah Andre pergi, Anara dan Abel langsung saja mendekat kearah Nadia serta Arnold yang masih berdiri mematung dipelukan bundanya. Anara dan Abel langsung memeluk keduanya disertai isakan lirih. Keduanya benar-benar ketakutan melihat Andre yang baru pertama kali ini marah-marah.
"Kita masuk kamar yuk. Biar nanti bunda yang ambilkan makan siang kalian, kita makan di kamar saja" ucap Nadia dengan lembut.
Nadia merasa kecewa kepada Andre yang dengan seenaknya meluapkan emosinya didepan anak-anak. Padahal baru tadi pagi kelimanya berpelukan erat dan saling mengucapkan kata-kata manis namun siang harinya sudah seperti ini. Biarlah nanti Nadia bertanya tentang apa permasalahannya pada Andre, yang penting ketiga anaknya tenang terlebih dahulu.
Nadia segera menggendong Arnold kemudian Anara dan Abel memegangi ujung baju bundanya. Mereka berdua masih ketakutan jika tiba-tiba saja Andre berada dihadapannya, Nadia pun yang memahami hal itu hanya membiarkannya saja. Sesampainya di kamar, Nadia segera membawa Arnold yang sedari tadi diam keatas kasurnya.
Anara dan Abel pun melakukan hal yang sama yaitu naik ketas kasur dan duduk berdampingan dengan Arnold yang masih menunduk. Nadia segera saja mengunci pintu kamar anak-anak kemudian mengambilkan gelas berisi air minum yang ada diatas nakas untuk diberikan kepada Arnold.
__ADS_1
"Ayo minum dulu, dek" ucap Nadia dengan lembut.
Namun Arnold sama sekali tak menggubris ucapan Nadia bahkan sampai tak mau menunjukkan wajahnya. Saat ini Nadia khawatir jika Arnold mengalami trauma atau terguncang jiwanya akibat bentakan dari Andre yang pertama kalinya bocah kecil itu dengar.