Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kedatangan Orangtua Nadia


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Pagi-pagi buta pukul 4 dini hari terdengar suara ketukan pintu berulang kali didepan rumah kontrakan Nadia. Nadia yang masih tertidur lelap seketika saja terganggu dengan ketukan keras itu. Saat dirinya hendak mengabaikan suara itu, ketukan pada pintu rumah kontrakannya semakin intens membuatnya mau tak mau harus bangun dari tidurnya.


"Siapa sih jam segini yang bertamu? Nggak mungkin Nenek Darmi kan? Atau jangan-jangan maling" gumam Nadia.


Segera saja Nadia beranjak dari tempat tidurnya dengan tergesa-gesa dan langsung mengikat rambut panjangnya asal kemudian berjalan mengambil sapu didekat pintu. Ia segera menuju kearah pintu kemudian dengan segera membukanya.


Puk... Puk... Puk...


"Pergi sana, dasar maling" seru Nadia.


Nadia terus mengusir dan memukul-mukulkan sapu itu kepada orag yang datang tanpa melihat dulu siapa tamunya. Nadia mengira bahwa orang yang mengganggu tidurnya adalah maling. Nadia tak berpikir bahwa maling nggak akan mengetuk pintu kalau ingin mencuri. Bahkan Nadia sampai tak mendengarkan teriakan dari tamunya karena kesakitan dipukul Nadia memakai sapu.


"Nadia..." seru Ibu Ratmi.


"Ini ayah dan ibu" seru Ayah Deno.


Saat mendengar suara yang sangat dikenalnya, Nadia segera saja menghentikan pukulannya. Nadia menegakkan badan dan kepalanya kemudian menatap dua orang tamu yang ada dihadapannya. Matanya membelalak kaget saat dihadapannya adalah kedua orangtuanya sendiri.

__ADS_1


Padahal kedua orangtuanya waktu ia hubungi waktu itu tak mengatakan kalau mereka akan ke kota secepat ini. Namun tanpa diduga, hari ini mereka ada dihadapannya. Bahkan dengan menbawa koper dan tas besar. Entah apa yang membuat kedua orangtuanya sepagi buta begini sudah sampai disini.


"Ayah dan ibu kenapa bisa ada disini?" kaget Nadia.


"Ajak ayah dan ibu masuk dulu" ucap Ayah Deno.


Nadia pun menuruti perintah ayahnya kemudian mengajak masuk kedua orangtuanya dan mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu kontrakannya. Nadia beranjak membuatkan minuman hangat untuk mereka karena melihat keduanya yang tengah menggigil kedinginan.


"Ini yah, bu. Diminum dulu" ucap Nadia dengan menyodorkan dua gelas berisi minuman hangat tepat dihadapan kedua orangtuanya.


Orangtua Nadia segera saja meminum minuman yang dibuatkan oleh Nadia. Mereka mengucapkan syukur setelah meminum minuman itu, tubuh keduanya kini terasa hangat apalagi suasana dipagi itu begitu dingin karena semalaman hujan turun dengan derasnya.


"Ibu dan ayah udah nggak betah tinggal disana. Kami kesal bukan main dengan keluarga Parno itu terutama anaknya. Setiap hari ada saja ulah ajaibnya membuat ayah dan ibu bisa-bisa kena hipertensi dan serangan jantung. Terlebih keluarganya dengan seenak jidatnya mempengaruhi para tetangga sebelah rumah kita untuk mengatakan mitos-mitos yang dibuat-buat yang membuat ibu dan ayah tidak nyaman. Pokoknya ibu nggak mau balik kesana, bahkan rumah kita sudah kami tempeli dengan tulisan dijual" ucap Ibu Ratmi dengan menggebu-gebu.


Selama satu minggu ini, setiap hari Parno ke rumah Nadia dengan membawa-bawa barang pribadi miliknya. Barang itu berupa TV, tikar, kasur, selimut, dan yang lainnya seperti orang akan pindahan. Bahkan ia sampai mendirikan tenda di halaman rumah Nadia dan menginap semalaman disana. Padahal sudah diusir dengan cara halus dan kasar namun tetap saja tak berpengaruh. Mereka juga sudah melaporkan ke RT setempat namun mereka angkat tangan, terlebih sudah ada sogokan untuk semuanya dari keluarga Parno.


Dan kemarin orangtua Parno menyuruh tetangga sebelah rumah untuk mempengaruhi Ayah Deno dan Ibu Ratmi dengan mengatakan sebuah mitos yang membuat mereka sedikit takut dan tidak nyaman. Mitos tentang menolak lamaran orang bisa jauh dari jodoh namun jika ingin menghilangkan hal seperti itu maka harus menikah dengan orang yang ditolak lamarannya. Mendapati hal seperti itu, mereka memutuskan untuk menyusul Nadia ke kota dengan berbekal alamat yang diberikan anaknya waktu itu. Untung saja malam itu Parno tak berada didepan rumahnya.


Nadia mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang dirasakan oleh kedua orangtuanya. Akhirnya setelah mendengarkan cerita itu, Nadia keluar rumah untuk membelikan mereka sarapan dan bilang kepada Nenek Darmi bahwa orangtuanya akan tinggal bersamanya.

__ADS_1


***


Setelah membiarkan kedua orangtuanya beristirahat di kontrakannya, Nadia berangkat bekerja ke rumah Mama Anisa. Dengan berjalan kaki, ia bersenandung ceria sambil menyapa beberapa orang yang dikenalnya. Setelah beberapa menit berjalan, sampailah ia di depan rumah mewah milik Mama Anisa. Nadia segera masuk kedalam rumah dan terlihat Mbok Imah yang tengah menyirami tanaman.


Anara dan Abel hari ini belum bersekolah karena Andre masih mengurus surat-surat kepindahan kedua anaknya dari sekolah lama. Ternyata mengurus semua itu agak ribet karena mereka pindah dari sekolah berbasis Internasional ke sekolah biasa.


Kini setelah sarapan, ketiga bocah kecil itu tengah bermain di ruang keluarga ditemani oleh Andre. Sedangkan Mama Anisa dan Papa Reza tengah mengurus sesuatu di kantor polisi. Sambil menunggu Nadia datang untuk menjaga kedua anaknya, Andre sibuk dengan ponselnya sehingga tak tahu kalau gadis yang ia tunggu telah berada dibelakangnya.


"Kalau jagain anak kecil itu jangan sambil main ponsel, nanti kalau anaknya ilang jadi kalang kabut. Dasar pan-tat monyet" sindir Nadia.


"Ciapa antat onyet?" tanya Arnold menyambar.


Arnold yang mendapatkan kalimat asing langsung bertanya pada Nadia maksud dari kata yang ia ucapkan. Arnold melihat kearah Nadia dengan tatapan penasaran begitu pula dengan Anara dan Abel. Mendengar apa yang diucapkan oleh Arnold membuat Nadia langsung saja menutup mulutnya dengan kedua tangannya sedangkan Andre menatap tajam kearah gadis itu.


"Udah sana cepetan berangkat" ucap Nadia mengalihkan pembicaraan tanpa menjawab pertanyaan Arnold.


Andre yang mendengar perintah Nadia pun dengan segera berdiri kemudian mencium kening ketiga anaknya dan berlalu pergi ke kantor. Namun sebelum itu, ia melirik tajam kearah Nadia seakan memberi peringatan "awas saja nanti kalau aku pulang, akan aku balas". Sedangkan Nadia yang melihat tatapan tajam dari Andre hanya meneguk salivanya kasar, pasti nanti akan ada drama pulang terlambat lagi.


"Kak Nadia... Apa itu artinya?" tanya Anara.

__ADS_1


Ketiga bocah kecil itu masih melihat kearah Nadia dengan tatapan meminta jawaban. Bahkan ketiganya menghentikan acara bermainnya. Nadia terlihat gelagapan melihat tatapan penasaran itu dan kini dia sedang memutar otak agar bisa memberikan jawaban yang tidak berpengaruh jelek pada ketiga anak kecil itu. Karena tak bisa menjawab pertanyaan dari Anara, akhirnya Nadia memilih mengalihkan perhatian ketiganya dengan mengajak belajar membaca. Beruntungnya ketiga anak itu menurut, terutama Abel dan Anara yang sangat antusias untuk belajar.


__ADS_2