
"Sayang-sayangnya bunda" panggil Nadia dengan tersenyum.
Nadia segera dipapah Andre untuk duduk di kasur bersama ketiga anaknya. Begitu pula dengan Mama Anisa yang langsung duduk disana sedangkan Papa Reza dan Andre memilih untuk berdiri sambil memperhatikan mereka. Nadia langsung memeluk Anara yang ada disampingnya itu dengan sayang, sedangkan Abel dan Arnold yang melihat itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
"Napa Anol ndak di eluk? Ingin ini lho, utuh elukan bial anget" ucap Arnold kesal.
"Astaga... Dapat darimana dia kata-kata seperti itu" gumam Andre lirih namun masih bisa didengar oleh Papa Reza yang ada disebelahnya.
"Dari kamu lah, bibit rayuanmu menurun ke Arnold" bisik Papa Reza.
Andre mencebikkan bibirnya kesal karena merasa diledek oleh papanya. Sedangkan kini Nadia dan Mama Anisa hanya bisa terkekeh geli saat mendengar ucapan dari Arnold. Mama Anisa pun memeluk Abel dengan sayangnya sedangkan Arnold bertambah kesal akan hal itu. Tanpa bicara, Arnold segera merangkak kearah Nadia kemudian memeluknya dengan erat dari belakang.
"Uluh... Anak bunda yang paling ganteng" goda Nadia sambil mengelus lembut tangan Arnold yang ada di perutnya.
"Iya don. Anol eman aling anteng, bakan akek dan papa aja talah lho" ucap Arnold dengan peraya dirinya.
Semuanya hanya terkekeh geli dengan ucapan Arnold sedangkan Andre dan Papa Reza sudah pasrah menerima apapun ejekan Arnold. Yang terpenting bagi keduanya adalah Arnold kembali ceria seperti dulu.
"Kakak Abel, Kakak Nara, dan Abang Arnold... Sebentar lagi kalian akan punya adik kecil yang ada di perut bunda. Bunda harap kalian bisa menerimanya dan menganggapnya sebagai adik kandung kalian. Bunda berjanji akan memperlakukan kalian sama. Kalian bertiga kan juga anak-anak bunda, masa iya mau memperlakukan seperti yang di cerita cinderella. Kalau memang bunda nanti melakukan kesalahan, minta tolong kalian menegurnya. Bunda tak akan marah" ucap Nadia dengan lembut.
Matanya menatap teduh kearah ketiga anaknya yang begitu serius mendengarkan ucapannya. Bahkan Arnold yang semula di belakang Nadia kini memilih untuk duduk dipangkuan neneknya. Ia tak mungkin duduk di pangkuan Nadia karena takut perut bundanya tertekan.
"Tapi Bunda janji ya akan memperlakukan sama dengan adek yang ada di perut bunda? Nggak akan nyuruh nyuci piring dan masak kaya dongeng cinderella itu" ucap Abel dengan tatapan memohonnya.
__ADS_1
"Iya dong, kalian kan anak bunda yang pertama, kedua, dan ketiga. Adek bayi ini yang keempat, jadi semuanya anak bunda dan akan memperlakukan kalian sama. Bunda juga nggak akan nyuruh kalian masak atau bersih-bersih. Namun yang perlu diingat adalah sebagai perempuan kalian harus bisa memasak dan bersih-bersih sendiri barang pribadi saat besar kelak" ucap Nadia dengan lembut.
Anara dan Abel tentunya menganggukkan kepalanya antusias. Dia kini memahami dengan apa yang diucapkan oleh Nadia bahkan langsung memeluk bundanya itu dengan sayang. Mereka juga mengelus pelan perut rata Nadia. Pemandangan itu sungguh membuat terharu Andre, Mama Anisa, dan Papa Reza yang menyaksikannya.
"Talo pelempuan halus bica macak dan belcih-belcih, belalti wowok halus bica kelja" celetuk Arnold sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ughhhh... Pinter banget sih cucu nenek ini" gemas Mama Anisa yang langsung menguyel-uyel pipi Arnold.
Arnold memberontak di pelukan neneknya saat pipinya dimainkan oleh Mama Anisa. Sedangkan yang lain hanya bisa menonton adegan itu dengan tertawa geli. Wajah Arnold yang memerah karena ulah Mama Anisa menjadi pemandangan yang begitu menentramkan hati.
***
Semuanya berjalan membaik setelah Nadia mampu memberikan pemahaman kepada ketiga anaknya. Nadia masih memberikan perhatian kepada ketiganya bahkan terus melakukan kegiatannya seperti biasa. Nadia masih menunggu kedua anaknya yang bersekolah dengan Arnold yang selalu menyibukkan diri bersama seorang gadis kecil disana.
Kini Nadia tengah duduk di ruang keluarga sambil mengawasi ketiga anaknya yang bermain. Dia sedang memakan kue yang tadi dibawakan oleh Mama Anisa namun tiba-tiba saja dia menginginkan sesuatu. Dia segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Andre.
"Halo... Papa, aku ingin buah kedondong. Tapi yang langsung di petik dari pohonnya ya, jangan lupa bawa setelah pulang dari kantor" ucap Nadia langsung saat Andre baru saja mengangkat ponselnya.
Bahkan tanpa menunggu jawaban Andre dari seberang sana, Nadia langsung saja menutup panggilannya. Ia segera saja kembali makan kue yang ada di pangkuannya tanpa memikirkan Andre yang berada di kantor sedang pusing memikirkan permintaannya.
***
"Astaga..." gerutu Andre setelah istrinya menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban darinya.
__ADS_1
Andre seketika mengingat ucapan dari mamanya yang memintanya untuk sabar menghadapi wanita hamil. Pasalnya dia akan lebih sensitif dan permintaannya harus dipenuhi. Walaupun ini bukan pertama kalinya ia menghadapi wanita hamil, namun saat dulu dengan Aleta permintaannya jauh lebih mudah karena wanita itu selalu ngidam shopping. Sedangkan Nadia yang baru pertama kali meminta sesuatu namun membuatnya pusing setengah mati.
"Dimana juga dapat kedondong dari pohonnya langsung? Beli di toko buah aja jarang ada" kesalnya sambil mengacak-acak rambutnya.
Tok... Tok... Tok...
Saat Andre tengah frustasi dengan permintaan Nadia, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangannya. Ternyata itu adalah Bayu, sekretaris sekaligus asistennya.
"Permisi pak, saya membawakan anda laporan keuangan bulan ini" ucap Bayu sambil menyerahkan beberapa map yang dibawanya.
Andre menerimanya kemudian menata map itu didepannya. Bahkan ia tak membuka map itu sama sekali karena Andre sedang tak berminat untuk mengerjakannya hari ini. Sedangkan Bayu mengernyitkan dahinya heran melihat tingkah atasannya yang terlihat lesu itu.
"Bay, kamu tahu ada pohon kedondong dimana nggak? Istri saya lagi ngidam dan meminta buah kedondong yang langsung dipetik dari pohonnya" tanya Andre.
"Di rumah ketua RT daerah saya ada pak. Kebetulang juga sedang berbuah banyak kemarin saat saya lewat didepan rumahnya" jawab Bayu setelah berpikir cukup lama.
Andre seketika menegakkan kepalanya dan menatap dengan tatapan berbinar kearah Bayu. Andre begitu beruntung karena bertanya pada orang yang tepat. Tanpa berkata apapun, Andre segera berdiri dari kursi kebesarannya kemudian mengajak Bayu menuju ke rumah ketua RT itu.
"Pak Andre sebentar, masalahnya pohonnya itu...".
Ucapan Bayu tak digubris oleh Andre pasalnya ia kini sedang terburu-buru untuk mendapatkan buah kedondong itu. Andre bahkan langsung memotong ucapan asistennya itu. Bahkan kini Bayu terlihat pasrah saja saat tangannya ditarik oleh atasannya itu.
"Nggak usah banyak bicara, Bay. Mau nanti pohonnya tinggi atau disuruh bayar berapapun, akan saya berikan" ucap Andre dengan yakin.
__ADS_1