Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kekesalan


__ADS_3

"Kita sudah baik-baik kesini minta maaf dan mau menanggung biaya rumah sakit lho kok kalian cuma mengurungkan niat lapor polisi saja nggak mau" kesal seorang wanita paruh baya yang diyakini adalah Ibu Dinda.


Sontak saja ucapan Ibu Dinda membuat kemarahan Nadia dan Mama Anisa sudah tak bisa dibendung lagi. Mereka tak menyangka ada seorang wanita yang tak punya simpati sama sekali dengan keadaan seorang anak kecil. Pantas saja anaknya melakukan kekerasan dengan tanpa bersalahnya, ternyata ibunya juga mengajarkan seperti itu.


"Jadi kalian kesini minta maaf karena ada maunya? Kami tarik lagi ucapan yang memaafkan kalian karena sepertinya kalian tak ikhlas meminta maaf pada kami" ketus Mama Anisa.


Nadia menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan dari Mama Anisa. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh keluarga kedua guru anaknya itu. Mama Anisa dan Nadia menatap menelisik kearah semua orang yang ada dihadapannya itu dengan tatapan tajamnya. Mereka hanya mampu menundukkan kepalanya karena sepertinya tersadar ucapannya yang salah.


"Silahkan kalian pergi dari sini sebelum saya panggil satpam untuk mengusir kalian semua" ucap Nadia.


Sontak saja keenam orang tamu tak diundang itu menegakkan kepalanya karena tak menyangka jika diusir oleh orang-orang didepannya ini. Bahkan sifat mereka mulai terlihat saat menatap sinis kearah Nadia dan Mama Anisa yang menatap tajam semuanya.


"Tidak sopan, main usir tamu begitu saja. Harusnya tamu itu disuguhi minum dan makanan yang enak bukannya dianggurkan kaya gini. Kami kesini juga terpaksa demi membersihkan nama baik agar tak masuk ranah hukum. Lebih baik kita sewa pengacara terkenal saja pak untuk lawan mereka, biar kalah sekalian semuanya" ucap Ibu Dinda sinis.


"Silahkan saja sana sewa pengacara terkenal atau terkaya kek, kami nggak peduli. Dasar manusia tak tahu malu, sudah melakukan kesalahan tapi tak merasa bersalah sama sekali. Kalau minta maaf itu yang ikhlas bukan karena ada maunya" sindir Mama Anisa.


Sindiran Mama Anisa itu menohok semua tamunya itu. Memang mereka datang kesana karena terpaksa terlebih tuntutan dari instansi sekolah yang memintanya untuk segera menyelesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan. Namun memang dasarnya kalau punya niat jelek pasti akan ketahuan juga di akhir. Beruntung keluarga Farda bukan orang bodoh yang bisa menilai seseorang yang tulus dan mana yang tidak.


Tanpa mengucapkan kata apapun lagi, mereka berenam langsung saja berdiri kemudian pergi berlalu dari hadapan Mama Anisa dan Nadia yang masih menatap tajam semuanya. Mereka juga melayangkan tatapan sinisnya kepada anggota keluarga membuat Nadia geram. Apalagi melihat tatapan merendahkan mereka padanya.


"Sampai jumpa di pengadilan" teriak kedua guru Arnold sebelum pintu benar-benar tertutup.

__ADS_1


Tentu saja Mama Anisa dan Nadia yang merasa tertantang dengan ucapan merendahkan kedua oknum guru itu membuat mereka menahan emosinya. Ternyata masih ada orang yang tak mau mengalah padahal jelas-jelas mereka telah berbuat salah.


"Sabar... Kalau mereka tak takut dengan bukti-bukti yang sudah kita siapkan, biarkan saja. Biarkan mereka menjilat ludahnya sendiri karena berani menantang kita" ucap Papa Reza menenangkan.


Nadia dan Mama Anisa menganggukkan kepalanya mengerti, mereka pun memilih untuk melanjutkan acara makan malam yang tertunda akibat kedatangan tamu yang tak diundang itu. Dalam kondisi hati yang kesal karena ucapan-ucapan menyakitkan dari orang-orang yang datang, mereka melanjutkan makan malam dalam kondisi hening.


***


"Bunda... Bunda... Bunda..." lirih Arnold dari atas brankar tempat tidurnya.


Setelah makan malam berakhir, Papa Reza dan Mama Anisa langsung mengajak ketiga cucunya untuk segera pulang ke rumah. Tak mungkin ketiga cucunya menginap di rumah sakit karena akan tak baik untuk kesehatan mereka. Walaupun awalnya mereka menolak, namun setelah dibujuk oleh para orangtua membuat akhirnya semua menurut.


Tentunya Nadia menyetujui permintaan dari anak bungsunya itu. Terlebih besok pasti semua sudah melakukan aktifitasnya masing-masing yang membuat Alan akan sendirian di rumah jika tak dibawa ke rumah sakit. Sedangkan kedua kakaknya akan ke rumah sakit setelah pulang sekolah. Sedangkan Nadia dan Andre akan memilih berjaga di rumah sakit.


Mendengar suara panggilan lirih yang memanggil namanya, Nadia yang tertidur diatas sofa bersama sang suami pun langsung bangun. Ia segera mendudukkan tubuhnya seraya turun dari sofa dengan pelan agar Andre tak terganggu. Ia melihat kearah brankar milik Arnold yang ternyata anaknya itu sudah bangun dengan memanggil namanya.


"Sayangnya bunda..." ucap Nadia dengan lembut setelah mendekat kearah brankar.


Nadia segera mengambilkan gelas berisi air minum kemudian membantu anaknya untuk meminumnya dengan sedotan. Setelahnya, Nadia duduk diatas brankar anaknya sambil mengelus rambut Arnold dengan lembut. Arnold yang merasa aman dan nyaman di dekat Nadia pun memejamkan matanya menikmati elusan lembut itu.


Nadia tak menyangka jika hanya dengan usapan lembut seperti ini mampu membuat anaknya ini tenang tak seperti siang tadi yang kata Andre sampai histeris. Walaupun terlihat sekali tatapan matanya ada sebuah luka dan ketakutan, namun dengan hadirnya keluarga yang mendukung tentunya akan mampu membuat anaknya sembuh.

__ADS_1


"Jangan tinggalin Arnold lagi bunda. Arnold udah nggak mau sekolah lagi" ucap Arnold dengan mata yang terpejam.


Nadia langsung merebahkan tubuhnya disamping sang anak kemudian memeluknya dengan erat. Ia terus memberikan kenyamanan pada anaknya itu dengan memasukkannya dalam pelukan hangatnya. Nadia sedih di moment pertama sekolahnya harus dihadapkan kejadian yang tak mengenakkan sehingga membuatnya trauma.


"Bunda nggak akan ninggalin abang. Kita semua ada disini untuk menjaga dan menyayangi abang" ucap Nadia menenangkan.


Setelah ucapan itu terdengar di telinga Arnold, Nadia merasakan bahwa anaknya ini semakin memeluknya dengan erat. Bahkan terdengar suara dengkuran halus yang menandakan jika anaknya kembali tertidur setelah merasa dirinya aman disini.


"Abang harus sembuh, bunda udah kangen nih sama celotehan dan kejahilan kamu" bisiknya sambil tersenyum.


Nadia begitu rapuh jika sudah menyangkut dengan anak yang disayanginya ini. Ia yang tak pernah membentak bahkan melakukan kekerasan pada anaknya namun dengan tega oranglain melakukan itu pada Arnold. Padahal niat anak itu baik ingin membela temannya yang sedang kesusahan namun nasib sial ternyata sedang berteman dengannya.


Dia berjanji dalam hatinya untuk membalas perlakuan kejam dua orang itu. Bahkan jika perlu ia akan melakukan kekerasan kembali pada keduanya dihadapan polisi dan hakim agar mereka merasakan rasanya disakiti didepan banyak orang.


"Arnold bangun sayang?" tanya Andre tiba-tiba.


Saat Nadia tengah melamun dan berpikir cara untuk membalas perlakuan keji orang-orang itu ternyata Andre bangun dan mendekat kearahnya. Nadia langsung saja tersentak kaget kemudian menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Andre.


"Mas tidur lagi saja, aku akan disini dengan Arnold" ucap Nadia.


Andre menganggukkan kepalanya mengerti kemudian kembali tidur diatas sofa, sedangkan Nadia memilih memeluk Arnold dan melanjutkan kegiatan melamunnya.

__ADS_1


__ADS_2