Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Marah


__ADS_3

Nadia pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki karena hari ini Andre tak bisa mengantarnya pulang akibat kekasihnya itu ada meeting penting yang harus dihadiri. Hari ini dirinya pun pulang lebih awal karena Mama Anisa akan membawa ketiga cucunya ke tempat saudaranya. Mama Anisa belum menceritakan tentang kejadian di perusahaan Andre kepada Nadia karena tadi sibuk menyiapkan perlengkapan cucunya untuk pergi.


Nadia berjalan menuju sebuah taman yang ramai dengan beberapa keluarga yang sedang bermain dengan anak-anaknya. Ia duduk disana sambil menikmati pemandangan dan udara sore hari yang sangat jarang dilakukannya akhir-akhir ini. Ia memejamkan matanya dengan duduk dibawah sebuah pohon menikmati angin semilir yang menerpa wajah dan rambutnya. Namun ketenangan dan kedamaian itu hanya berlangsung sebentar karena ada seseorang yang memanggilnya.


"Nadia..." seru seseorang yang sedang berlari dari kejauhan.


Seseorang itu adalah Parno yang dengan antusiasnya mendekat kearah Nadia berada. Sedangkan Nadia yang melihatnya sangat kesal karena bertemu dengan seseorang yang tak ingin ditemuinya. Nadia membiarkan kehadiran Parno kemudian menutup matanya kembali. Ia tak ingin kegiatannya ini terganggu.


"Nadia... Nadia... Tahu nggak, tadi aku ketemu sama cowok yang mengaku sebagai calon suami kamu lho" ucap Parno dengan antusias.


Mendengar hal itu, Nadia begitu penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Parno. Nadia hanya membuka matanya sedikit, namun Parno yang melihat itu sangat senang karena gadisnya penasaran dengan apa yang akan ia beritahukan. Walaupun sesuai pertandingan tadi dia kalah dan tak boleh mengganggu hubungan Nadia dan Andre, namun Parno tak mau melakukan hal itu. Ia harus tetap mendapatkan kekasih pujaan hatinya Nadia sehingga akan melakukan segala cara sebelum gadisnya itu dinikahi oranglain.


"Tadi aku lihat laki-laki yang bersama kamu di rumah sakit itu sedang bersama wanita cantik berduaan di mall" cerita Parno.


"Itu hanya clientnya saja, tadi dia bilang kok kalau dia sedang berada di mall bersama rekan kerjanya" ucap Nadia santai.


Parno memutar otak kembali saat ceritanya hanya dianggap angin lalu oleh Nadia. Andre memang sudah memberitahu Nadia kalau dia akan menemui rekan kerjanya di sebuah mall sekalian makan malam, walaupun tak diberitahu clientnya itu laki-laki atau perempuan.


"Nggak mungkin. Kalau clientnya, kok jalan sambil gandengan tangan terus makan dengan suap-suapan" ucap Parno dengan serius.

__ADS_1


Percayalah, Parno hanya mengarang cerita tentang Andre. Memang tadi saat Parno sedang ke mall, ia melihat Andre berjalan bersama dengan seorang wanita yang tak lain adalah rekan kerjanya. Mereka juga melaksanakan makan malam bersama namun tak seperti yang diucapkan oleh Parno sampai suap-suapan atau bergandengan tangan. Parno ingin membuat image Andre dihadapan Nadia menjadi jelek.


Nadia melirik kearah Parno yang terlihat serius saat mengatakannya, namun dia tak boleh percaya begitu saja. Bisa saja Parno mengatakan hal itu hanya untuk membuatnya salah paham dengan Andre.


Tanpa mempedulikan ucapan Parno, Nadia berdiri dari duduknya kemudian akan berlalu pergi dari taman untuk pulang. Parno yang melihat itu segera saja mencekal pergelangan tangan gadis itu.


"Terimalah aku jadi kekasihmu dan calon suamimu, Nad. Aku pasti akan setia tak seperti calon suamimu yang sekarang itu" ucap Parno tiba-tiba dengan nada memohon.


Untuk ke sekian kalinya, Parno mengungkapkan perasaannya kepada Nadia. Didalam kebimbangan dan keraguannya, Nadia hanya bisa terdiam sambil melihat kearah Parno. Saat kejadian itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dengan wajah memerahnya.


"Nadia..." seru seseorang.


"Andre..." gumam Nadia.


Andre mendekat kearah dua sejoli itu dan tiba-tiba saja tangannya langsung menyentak tangan Parno yang masih memegang lengan Nadia. Wajahnya memerah bahkan otot-otot di lehernya menonjol akibat emosi yang ingin meledak didadanya. Melihat hal itu Nadia paham kalau kekasihnya itu sedang marah besar. Sedangkan Parno yang melihat raut muka yang mengerikan dari Andre segera saja berlalu dari sana.


Namun sebelum Parno melangkahkan kakinya untuk pergi, Andre seketika menghadang laki-laki itu. Andre segera mencekik leher Parno dengan eratnya bahkan sampai tubuh laki-laki itu melayang tak menapakkan kakinya di tanah. Nadia yang melihat kekalapan Andre pun hanya bisa menatap tak percaya. Baru kali ini dirinya melihat Andre seperti ini.


"Lepas" lirih Parno dengan memberontak agar dilepaskan.

__ADS_1


"Tadi pagi kau sudah membuat perjanjian dan kau kalah sehingga kau harus menjauh dari hubunganku dan Nadia, tetapi kau melanggarnya. Kemarin adalah peringatan pertama bahkan di taman ini juga, kali ini jangan harap aku memberikanmu toleransi lagi. Aku bukan orang yang mempunyai kesabaran yang besar untuk menghadapi kau" ucap Andre dengan terus mencekik erat leher Parno.


Parno sudah susah bernafas membuat wajahnya memerah dan pucat pasi karena kekurangan oksigen. Nadia yang melihat itu segera meminta kepada Andre agar segera melepaskan cekikannya di leher Parno.


"Mas Andre, tolong lepaskan cekikan itu dari Parno. Jangan sampai kamu membunuhnya, dia sudah hampir kehabisan nafas" ucap Nadia dengan lembut.


Nadia mengelus punggung Andre dengan lembut agar laki-laki itu bisa menetralkan emosinya. Tangan Nadia yang sebelahnya pun mencoba untuk melepaskan cekikan dileher Parno.


"Kamu belain dia?" sentak Andre dengan melotot tajam kearah Nadia.


Nadia yang dibentak oleh Andre pun seketika mundur menjauh dari laki-laki itu. Ia benar-benar ketakutan, pasalnya baru pertama kali ini dia dibentak oleh oranglain selain kedua orangtuanya. Nadia meyakini bahwa Andre kini tengah marah dan cemburu atas kedekatannya dengan Parno.


"Bukan, aku tak membelanya. Aku hanya tak ingin kamu menjadi seorang pembunuh. Lepaskan ya" ucap Nadia sambil menggelengkan kepalanya.


Walaupun ketakutan, Nadia masih tetap mencoba untuk membantu Parno dari kemarahan Andre. Dengan sekali sentakan, Andre melepaskan cekikannya dari leher Parno sehingga tubuh laki-laki itu ambruk di tanah. Parno segera meraup udara dengan rakusnya agar pernafasannya normal kembali. Sedangkan Nadia yang melihat itu hanya meringis pelan, ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya dicekik seperti itu.


"Jangan pernah kau dekati lagi kekasihku. Jika kau masih nekat, siap-siap saja masuk kuburan" ancam Andre.


Parno dan Nadia yang mendengar ancaman Andre hanya meneguk salivanya kasar. Andre benar-benar mengerikan. Tanpa bicara apapun, Andre segera menarik tangan Nadia untuk pergi dari taman itu meninggalkan Parno yang masih mengatur nafasnya. Sembari berjalan, Nadia melihat kearah Parno yang juga melihatnya sambil mengucapkan kalimat maaf.

__ADS_1


Mau bagaimanapun Nadia masih mempunyai hati untuk tidak melukai orang hanya karena masalah percintaan.


__ADS_2