
Mobil milik Andre memasuki halaman rumah mewah milik keluarga Farda. Ketiganya turun dengan wajah sumringah karena satu per satu masalahnya dengan Aneta telah selesai. Mereka segera masuk kedalam kemudian langsung menuju kearah ruang keluarga karena dari arah sanalah terdengar suara gelak tawa.
Saat sampai diruang tamu, terlihatlah Nadia bersama Anara, Abel, dan Arnold tengah bermain monopoli. Ketiganya asyik bermain sampai tak sadar akan kehadiran Andre, Mama Anisa, dan Papa Reza.
"Hmm... Hmm... Asyik banget nih mainnya, sampai kita datang nggak ada yang nyambut" ucap Mama Anisa.
Keempat orang yang ada disana seketika saja mengalihkan pandangannya kearah suara yang tengah menyindirnya. Anara dan Abel seketika saja matanya berbinar cerah saat melihat papa, nenek, dan kakeknya sudah berada di rumah jam segini. Biasanya ketiga orang dewasa itu akan berada di rumah saat sore hari, namun nelihat ketiganya sudah pulang saat siang hari membuat mereka bahagia.
Kedua gadis kecil itu seketika berdiri kemudian berlari mendekat kearah ketiganya dan langsung memeluknya dengan erat. Kedua gadis kecil itu memang sangat manja apabila Andre dan kedua orangtuanya ada di rumah. Sedangkan Arnold tetap duduk dipangkuan Nadia sambil bermanja ria dengan gadis itu tanpa menghiraukan kedua kakaknya.
"Adek gembul sekarang udah jarang nih peluk nenek semenjak ada kak Nadia. Arnold udah nggak sayang lagi sama nenek kayanya" ucap Mama Anisa dengan membuat wajahnya terlihat sedih.
Arnold yang melihat itu hanya mencebikkan bibirnya kesal karena disindir oleh neneknya. Dirinya sudah merasa menjadi laki-laki dewasa jadi malu kalau masih sering dipeluk.
"Anol itu nak aki, ndak oleh seling-seling di eluk" ucap Arnold dengan gaya memperingatinya.
Semua orang dewasa yang ada disana seketika tertawa melihat gaya Arnold yang seperti orang dewasa itu. Bahkan wajahnya terlihat sangat lucu ketika kesal. Ada-ada saja tingkah ajaib bocah ini.
Semenjak hadirnya Nadia, Arnold berubah menjadi lebih ceria bahkan selalu menganggap dirinya sudah dewasa sehingga bisa menjaga kedua kakaknya dengan baik.
"Ada-ada aja sih" ucap Nadia dengan gemas saat melihat Arnold.
Nadia kini malah menciumi pipi bocah laki-laki yang sedari awal tak menyukainya itu namun sekarang justru malah lengket kepadanya seakan tak mau dipisahkan.
Cup... Cup... Cup...
"Huaaa... Angan ium-ium Anol ya, anti ipi Anol adi besal" ucap Arnold dengan wajah galaknya.
"Biarin, biar tambah besar pipinya makanya kak Nadia ciumin terus" ucap Nadia.
__ADS_1
Tanpa mempedulikan pemberontakan dari Arnold, Nadia terus menciumi pipi balita laki-laki itu. Hal itu membuat Arnold tertawa renyah karena merasa kegelian sehingga Anara dan Abel langsung saja berlari kearah keduanya. Keduanya seketika saja menyerang Nadia dengan membalas menciumi pipi gadis itu.
Nadia yang pipinya dicium oleh kedua gadis kecil itu pun seketika melepaskan Arnold dan membuat bocah laki-laki itu ikut-ikutan seperti kedua kakaknya. Jadilah Nadia harus menghadapi ketiga bocah kecil yang mencium pipinya membuatnya tertawa lepas.
Andre dan kedua orangtuanya yang melihat pemandangan itu tentunya sangat bahagia melihat keakraban Nadia dengan Anara, Abel, dan Arnold. Andre bersyukur karena kekasihnya mampu meluluhkan ketiga anaknya itu.
Hari itu, keempat orang dewasa dan tiga anak kecil itu menghabiskan waktunya bersama dalam keadaan hati yang bahagia. Mereka hanya berharap dalam hati agar kebersamaan ini akan selalu tercipta dan tak pernah berlalu.
***
Sedangkan didalam sel tahanan...
Aneta dan Sukma ditempatkan dalam satu sel bersama dengan tahanan wanita lainnya. Ruangan yang begitu sempit dengan hanya beralas tikar tipis membuat Sukma dan Aneta menggerutu.
"Mama nggak betah disini" bisik Sukma pada menantunya itu.
"Sama, ma. Aneta juga nggak mau disini apalagi sampai puluhan tahun" kesal Aneta.
"Bagaimana kalau kita kabur?" bisik Sukma.
"Jangan deh, ma. Kita nanti hidup sebagai buronan, akan susah kalau mau cari tempat tinggal. Harus pindah-pindah tempat dan itu merepotkan" tolak Aneta.
Benar juga apa yang dikatakan oleh Aneta, kalau mereka kabur pasti polisi akan menyebar gambar beserta identitas keduanya. Akan susah bagi keduanya untuk nanti cari tempat tinggal, apalagi harus selalu keluar dengan keadaan menyamar.
Keduanya kembali terdiam dengan pikiran yang sangat buntu, mereka hanya berharap kalau suaminya dapat menemukan solusi secepatnya.
***
Semakin hari Andre semakin posesif dengan Nadia, hal ini membuatnya sedikit risih karena ia merasa kalau tindakan kekasihnya itu sangat berlebihan. Namun di satu sisi, dia paham kalau Andre sebenarnya hanya ketakutan karena masa lalunya itu.
__ADS_1
Seperti saat ini, Andre tengah mengikuti kemanapun Nadia pergi yaitu dengan ikut ke pasar. Hari ini dia menggantikan Mbok Imah yang ke pasar karena wanita paruh baya itu hanya bisa datang siang hari.
"Nanti Parno nemuin kamu, goda-godain, terus bikin kamu salah paham sama aku" ucap Andre tadi saat Nadia hendak ke pasar sendirian.
Padahal hari itu masih pukul 5 pagi, namun Andre yang biasanya bangun agak siang pun memutuskan pagi-pagi sekali sudah berada didepan rumah kontrakan Nadia. Untung saja dia tak di gerebek lagi sama warga sekitar.
"Ini berapa, bang? 1 kg saja ayamnya" ucap Nadia pada penjual ayam.
"Siap, neng. Pagi amat neng ke pasarnya, nggak dingin apa? Biasanya juga kalau kesini agak siangan" tanya penjual ayam.
"Kalau dingin ya tinggal saya peluk, kan anget" sela Andre.
Nadia yang mendengar jawaban dari Andre pun seketika menjitak dahinya dengan kencang membuat laki-laki itu meringis pelan.
Tak...
Sedangkan penjual ayam yang melihat itu hanya terkekeh pelan karena merasa lucu dengan tingkah dua sejoli itu.
"Kalau ngomong jangan asal deh" kesal Nadia.
Tanpa menghiraukan kesakitan yang dialami Andre, akhirnya Nadia segera membayar ayam yang dibelinya kemudian berlalu untuk berbelanja keperluan lainnya. Nadia pun pergi meninggalkan Andre yang masih menggerutu didepan penjual ayam.
"Itu pacarnya udah pergi, mas. Nanti kalau kejauhan, bisa-bisa tak ambil lho" ledek penjual ayam itu.
"Saya bogem kamu, bang" ucap Andre dengan nada mengancam.
Hahahaha
Bukannya takut, penjual ayam itu malah tertawa lebar saat bisa menggoda Andre. Tanpa menghiraukan penjual ayam yang masih tertawa, Andre segera saja menyusul Nadia yang kini sedang melakukan tawar menawar dengan pedagang lain.
__ADS_1
Andre terus mengikuti kemanapun Nadia berada sambil membawakan beberapa barang belanjaan. Setelah memeriksa semua barang belanjaannya dan lengkap, maka keduanya segera pulang ke rumah keluarga Farda.