
Akhirnya Lukman dan Tina dibawa pulang ke kota oleh Papa Reza juga Andre. Bagaimana pun juga Lukman adalah ayah dari keponakannya dan Tina masih ada hubungan darah dengannya. Ia tak tega meninggalkan mereka di desa ini yang tentunya tak ada yang merawat. Apalagi kedua orangtuanya yang tak waras itu kini sedang menjalani proses hukum.
Mama Anisa sudah setuju membawa mereka pulang ke kota bahkan beliau akan mencarikan perawat laki-laki dan perempuan untuk menjaga keduanya. Bukannya tak mau merawat keduanya secara langsung, namun Mama Anisa juga punya pekerjaan lain. Tak mungkin juga Nadia yang merawat seorang laki-laki.
"Terimakasih atas bantuannya selama ini bapak dan ibu semuanya. Ini ada sedikit rejeki untuk kalian, semoga bisa diterima dan digunakan sebagaimana semestinya. Jangan berhenti jadi orang baik ya pak, bu" ucap Papa Reza sambil menyerahkan sebuah amplop tebal di tangan Pak RT.
Sedikit rejeki untuk warga disini yang sudah membantu Zunai dan Ega selama ini. Bahkan tadi membantu Papa Reza membersihkan rumah kemudian mengeluarkan semua baju milik pemiliknya. Setelah urusan dengan pihak kepolisian tadi selesai, segera saja Papa Reza kembali ke kota.
***
Perjalanan ke kota membutuhkan waktu yang cukup lama namun beruntung Tina hanya diam tak bergeming dan tidak mengamuk seperti yang dikatakan Budhe Ana saat di kantor polisi tadi. Bahkan Zunai kini terlihat anteng dalam pelukan ayahnya membuat Andre hanya tersenyum melihat pemandangan itu.
Tadi saat berpamitan akan kembali ke kota malam itu juga, beberapa warga langsung membawakan mereka banyak makanan untuk menemani selama perjalanan. Jadi mereka tak perlu lagi untuk mencari makan sehingga harus berhenti di tengah perjalanan.
Tak berapa lama, mereka sampai juga di rumah setelah melakukan perjalanan panjang. Tepat pukul 2 dini hari mereka sampai di rumah. Bahkan Tina dan Zunai sudah tertidur dengan pulasnya di kursi belakang, sedangkan Lukman memilih menemani Andre dan Papa Reza.
"Akhirnya kalian pulang juga. Kenapa nggak nunggu sampai besok pagi saja sih?" tanya Mama Anisa saat melihat keluarganya turun dari mobil.
Mama Anisa dan Nadia tak bisa tidur karena suami keduanya mengabarkan akan pulang malam ini. Akhirnya keduanya memilih untuk menunggu di ruang keluarga demi menyambut kedatangan mereka. Saat mendengar suara mobil yang berhenti didepan rumah, sontak saja keduanya bergegas keluar dari rumah.
"Nanggung, ma. Kita juga nggak enak dengan warga sekitar apalagi sedari siang sudah membuat kegaduhan disana" ucap Papa Reza.
__ADS_1
Akhirnya semua barang-barang yang dibawa oleh Papa Reza segera diambil alih oleh Mama Anisa, sedangkan laki-laki paruh baya itu langsung saja menggendong Tina. Andre membawa Lukman sedangkan Nadia menggendong Zunai. Mama Anisa langsung mengambil kursi roda milik Nadia dulu saat tak bisa berjalan kemudian meletakkannya di kamar tamu.
"Untuk sementara pakai kursi roda ini saja dulu" ucap Mama Anisa membuat Papa Reza menganggukkan kepalanya mengerti.
Tak mungkin juga Papa Reza atau Andre akan mengangkat tubuh Lukman setiap hari. Bisa saja mereka encok berjamaah. Mereka pun memilih keluar dari kamar tamu itu kemudian menyelesaikan urusan ini pada pagi harinya. Walaupun bisa dikatakan kalau ini waktu sudah menunjukkan saat pagi hari.
***
Semuanya telah berada di ruang makan untuk sarapan. Bahkan Lukman dan Tina pun sudah ada disana membuat Alan, Ega, Arnold, Anara, dan Abel kebingungan melihat dua orang yang tak mereka kenali. Terlebih yang wanita hanya diam saja menatap kosong kearah makanan didepannya.
"Talian capa? Tuh uga... Tok tuma liatin matananna caja. Matanan wuwat di matan ukan diliatin" seru Alan yang kemudian tangannya menggoyangkan kaki Tina.
Tadi Mama Anisa yang membersihkan Tina karena perawat yang mereka cari baru akan datang esok hari. Sedangkan Zunai sudah duduk diatas pangkuan Lukman dengan senyum merekah. Tak menyangka, Tina langsung melihat kearah orang yang menggoyangkan kakinya itu.
"Lutuna..." seru Tina sambil mengelus lembut pipi Alan.
Alan yang terkejut pun langsung memundurkan langkahnya. Bahkan Lukman yang selama ini menemani Tina juga begitu terkejut melihat hal ini. Baru kali ini Lukman mendengar suara dari Tina yang sebelumnya hanya gelengan dan anggukan kepala saja saat diajak berinteraksi.
"Tau tok talo Alan lutu. Api angan pedang-pedang pipina Alan uga don" seru Alan sedikit kesal.
"Aku cuma mau pegang saja kok" elak Tina sambil geleng-geleng kepala seakan takut akan tuduhan dari Alan itu.
__ADS_1
"Nak, ini nenek eh tante Tina. Dia adalah saudaranya kakek, jadi Alan harus baik ya sama dia. Jangan suka digangguin" ucap Nadia mencoba memberi pengertian.
Tadinya ia ingin memanggil Tina dengan sebutan nenek namun melihat wajah dari wanita itu yang sepertinya malah seumuran dengan Andre pun akhirnya memilih panggilan tante saja. Nadia berusaha memberi pengertian kepada anak-anaknya kalau Tina ini berbeda.
Namun mereka masih tak menyangka jika Tina mau berinteraksi dengan Alan. Padahal sebelumnya Mama Anisa yang memandikannya saja tak pernah mendengar suaranya walaupun sudah ia ajak berbincang. Tentunya mereka akan sangat bahagia jika dengan hadirnya Alan dan anak-anak bisa membuat wanita itu mau membuka dirinya.
Mungkin saja dengan hadirnya anak-anak malah membantu Tina kembali dalam dunianya yang sekarang. Namun mereka nanti tetap akan memeriksakan kondisi Tina dan Lukman pada ahlinya sendiri.
"Adi atu halus pandil dia nenek atau ante? Angan leda-lede deh unda" protes Alan.
"Tante Tina, nak" ucap Nadia membuat Alan menganggukkan kepalanya.
"Oh... Ante capana Ina olo-olo itu?" tanya Alan sambil menggerakkan kepalanya.
Sontak saja mereka yang mendengarnya itu malah tertawa dengan celotehan Alan yang sangat polos itu. Bahkan Tina juga tertawa karena melihat kelucuan gerakan yang ditampilkan oleh Alan. Akhirnya mereka segera saja makan makanan yang sudah tersedia di meja makan secara bersama-sama. Ketakutan Mama Anisa dan Nadia tak terjadi sama sekali.
***
Dokter yang memeriksa Lukman dan Tina sudah pulang satu jam yang lalu. Sebenarnya penyakit stroke dan kelumpuhan yang terjadi pada Lukman itu bisa disembuhkan hanya saja saat ini butuh waktu yang lumayan lama. Hal ini dikarenakan sejak awal tak ada pengobatan apapun yang dilakukan sehingga terlalu lama dibiarkan.
Sedangkan kondisi Tina sendiri sudah masuk dalam kategori depresi sedang. Hanya pada Alan dan anak-anak lainnya saja, ia mau diajak interaksi. Sedangkan pada dokter atau yang orang dewasa lainnya sama sekali tak bisa diajak berbincang. Sepertinya dunianya masih stuck pada masa anak-anak.
__ADS_1
"Alan, Arnold, Ega, Zunai... Kalian bisa ajak ngobrol tante Tina ya biar dia nggak ngerasa kesepian disini. Siapa tahu dengan kalian ajak ngobrol terus itu bisa membuat dia sembuh" ucap Mama Anisa meminta tolong pada cucu-cucunya.
Mereka hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Sepertimya benar kata dokter kalau terapi ini sebisa mungkin dilakukan oleh orang-orang terdekatnya dulu.