Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Nenek Sihir


__ADS_3

Alice yang mendengar ucapan mamanya langsung menyenggolnya dengan sikunya. Alice tak menyangka bahwa mamanya dengan terang-terangan akan mengomentari tentang cucu bungsu dari keluarga Farda. Bahkan papanya kini juga sudah langsung menutup wajahnya karena malu dengan sikap istrinya yang terlalu ceplas ceplos itu. Papa Reza dan Mama Anisa pun melotot tak terima kearah mamanya Alice, Mama Farida itu. Orang yang tak dekat dengan cucunya bisa-bisanya mengucapkan seperti itu.


Walaupun Mama Anisa akrab dengan Alice namun ia sama sekali tak terlalu dekat dengan kedua orangtuanya. Bahkan dengan Mama Farida pun hanya beberapa kali ia bertemu. Kejadian hari ini yang mengatakan kalau kedua orangtua Alice ingin bertemu pun sebenarnya menimbulkan banyak pertanyaan di kepala Mama Anisa. Dia hanya dekat dengan anaknya, bukan orangtuanya terutama Mama Farida itu.


"Apaan sih, Al? Memang benar kok, dulu waktu mama ngasuh kamu itu di umur segitu sudah bisa makan sendiri. Kalau belum bisa makan sendiri dan masih disuapi itu berarti manja" ucap Mama Farida dengan sedikit mengejek.


Nadia dan Andre tentunya juga tak terima kalau anaknya dibilang manja. Bahkan pikiran dan sikap Arnold itu sudah jauh lebih dewasa dibandingkan umurnya. Dia bisa melindungi kedua kakak dan keluarganya yang lain, terutama saat kejadian Sukma kemarin.


"Nyonya tamu yang terhormat, jangan banding-bandingkan anak anda dengan Arnold. Perkembangan dan pertumbuhan anak itu beda-beda, lagi pula kami disini senang-senang saja memperlakukan Arnold seperti ini. Arnold juga sudah bisa makan sendiri, namun saya nya saja yang masih ingin menyuapinya. Kok anda begitu repot sekali mengomentari kegiatan orang? Nggak punya kegiatan lain yang lebih bermanfaatkah selain mencela oranglain?" ucap Nadia sambil tersenyum sinis kearah Mama Farida.


"Unda, ungkin enek cihil itu ngin dicuapi cama unda. Oba deh unda cuapin, ciapa tau langcung iam" ucap Arnold.


Sontak saja Mama Farida memelototkan matanya mendengar ucapan pedas yang keluar dari mulut Nadia dan juga anaknya. Wanita paruh baya itu tak menyangka jika Arnold mempunyai mulut pedas saat menyahuti orang yang menghinanya. Papa Reza begitu puas dengan ucapan yang dilontarkan menantu dan cucunya itu.


"Apa kamu bilang? Aku nenek sihir?" ucap Mama Farida sambil menatap tak terima kearah Arnold.


Melihat mamanya akan menyahuti ucapan Arnold, Alice langsung saja menggenggam tangannya. Bahkan saat mamanya menatap kearahnya pun Alice segera menggelengkan kepalanya pertanda untuk segera menghentikan hal ini. Ia tak mau jika suasana makan malam ini rusak hanya karena ucapan mamanya. Mama Farida ini tipe wanita yang akan terus meladeni ucapan orang sampai dia puas dan lelah sehingga harus secepatnya dihentikan.


"Jangan berbicara dan berdebat didepan makanan. Kalau mau berdebat silahkan keluar" ucap Papa Reza dengan tegas.

__ADS_1


Akhirnya perdebatan itu berakhir karena ucapan tegas dari Papa Reza. Mereka memakan makanannya dengan tenang dan hikmat bahkan tak ada pembicaraan apapun. Tak berapa lama, mereka akhirnya selesai juga melakukan sesi makan malam. Keluarga Alice pun memilih untuk undur diri dari rumah mewah keluarga Farda.


"Tante, om, Andre, dan yang lainnya... Kami pamit pulang dulu, terimakasih atas jamuan makan malamnya" ucap Alice dengan sopan.


"Iya, sama-sama nak. Oh ya... Besok lain kali kalau mau datang kesini, pastikan tidak ada burung beo yang ikut ya. Biar nggak terlalu berisik karena kebanyakan bicara" ucap Mama Anisa dengan sarkas.


Mama Anisa memang sangat kesal karena Mama Farida terlalu banyak mengoceh sedari awa bertemu. Bahkan ia juga mengomentari seluruh isi rumahnya membuat Mama Anisa benar-benar naik pitam. Dan jangan lupakan tentang dia yang mengomentari tentang cucunya ittu.


Sontak saja ucapan Mama Anisa itu membuat Mama Farida tersinggung, sedangkan Papa Alice dan gadis itu menatap dengan tatapan minta maaf. Sedangkan Papa Reza, Nadia, dan Andre tentunya hanya bisa menahan tawanya.


"Ante ini awa bulung eo?" tanya Arnold dengan mengerutkan dahinya bingung.


"Iya, mbul. Tuh burung beonya yang mirip sama nenek sihir" ucap Mama Anisa dengan menyindir.


"Olong ante awa bulung eo dan enek cihil ini kelual dali lumah Anol" lanjutnya sambil menunjuk kearah Mama Farida.


Mama Farida pun segera saja maju ke hadapan Arnold namun langkahnya itu langsung dihadang oleh Nadia dan Mama Anisa. Keduanya menjadi garda terdepan untuk melindungi Arnold dari amukan Mama Farida. Bahkan kini kedua wanita berbeda usia itu berdiri sambil melipat kedua tangannya didada. Matanya menatap tajam kearah Mama Farida membuat wanita paruh baya itu mundur teratur.


"Duo N kembali beraksi" batin Andre dan Papa Reza dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Kenapa mundur? Takut?" tanya Nadia dengan tersenyum menyeringai.


"Papa, Alice... Ayo kita pulang dari sini" ajak Mama Farida dengan bergetar ketakutan.


Alice dan papanya pun segera saja mendekat kearah Mama Farida kemudian mengucapkan permintaan maaf kepada keluarga Farda. Namun tetap saja walaupun keduanya minta maaf, Mama Farida hanya diam tak berkutik bahkan tetap melayangkan tatapan sinis kepada keluarga Farda terutama Arnold dan Mama Anisa.


Alice dan papanya segera menarik tangan Mama Farida untuk keluar dari rumah itu. Namun ia memberontak dan akhirnya anak serta suaminya itu hanya pasrah saja membiarkan wanita paruh baya itu berjalan sendiri. Namun tanpa diduga, Mama Farida jatuh terjengkang ke belakang karena menginjak sesuatu.


Dugh...


Hahaha...


Sontak saja Mama Anisa, Nadia, dan Arnold langsung saja tertawa dengan lepasnya. Yang diinjak itu adalah kulit pisang yang tadi dibawa oleh Arnold untuk menjahili Mama Farida karena telah mengejeknya manja. Ia begitu kesal dengan ucapan wanita paruh baya itu membuatnya dendam dan ingin membalasnya.


Alice dan papanya meringis pelan melihat bagaimana posisi Mama Farida yang terjatuh dengan tidak elitnya. Namun keduanya langsung dengan sigap membantunya berdiri dan memapahnya keluar rumah itu membiarkan ketiga orang yang masih tertawa itu. Mereka begitu malu dengan kejadian hari ini yang memungkinkan tak mau lagi bertemu dengan keluarga Farda terutama Mama Anisa dan Arnold.


"Cukulin... Kalma kalena belani ilang Anol anja. Ndak tau aja talo Anol ini anak celdas, natana bica ngeljain olang dewaca" teriak Arnold sambil berkacak pinggang membanggakan dirinya.


"Oh jelas... Cucu oma yang satu ini memang cerdas" puji Mama Anisa.

__ADS_1


"Iya don. Angan upa ita halus membelantas alat-alat yan empel ekat papa dan akek" seru Arnold.


Papa Reza dan Andre seketika menjatuhkan rahangnya setelah mendengar ucapan Arnold. Pasti Mama Anisa yang mengajari Arnold tentang lalat-lalat yang dimaksudnya itu. Sungguh mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah cucu dan nenek itu.


__ADS_2