Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Balasan Arnold


__ADS_3

"Pukul aku, ma. Anggap aku ini samsak mama kalau lagi berlatih tinju sewaktu muda dulu" ucap Andre setelah menangis dipangkuan mamanya.


Mama Anisa dulunya sejak masih muda memang sangat menyukai olahraga yang dominan diminati oleh laki-laki. Beladiri dan tinju adalah dua olahraga yang paling diminati oleh Mama Anisa sejak ia masih remaja. Bahkan di rumahnya tersedia ruang olahraga khusus tinju yang ruangannya menyatu dengan kamar pribadinya dengan sang suami.


"Unda... Unda... Anol ngin tulun" bisik Arnold pada Nadia.


"Mau ngapain?" tanya Nadia dengan pelan.


"Anti uga unda tau" ucap Arnold dengan tersenyum misterius.


Nadia pun mengabulkan permintaan Arnold untuk turun dari brankar dengan menggendongnya menggunakan satu tangannya. Sedangkan tangan yang satunya untuk membawa botol infus. Nadia mendekat kearah Papa Reza yang duduk tak jauh dari istri dan anaknya. Nadia segera menurunkan Arnold diatas sofa samping Papa Reza membuat pria paruh baya itu mengacak rambut Arnold dengan gemasnya.


Tanpa mempedulikan kakeknya, Arnold turun dari sofa kemudian berjalan menuju keberadaan papanya yang masih menatap neneknya. Sedangkan Mama Anisa sedang berperang dengan batinnya untuk melakukan apa yang Andre ucapkan itu. Arnold mendekat kearah papanya dan berdiri dibelakangnya bersama Nadia yang membawa infusnya.


Dugh... Dugh... Dugh...


"Yo lawan Anol. Angan belanina ukul enek. Cini adi camcak inju Anol aja" seru Arnold.


Tangan mungil Arnold itu terus saja memukul punggung Andre dengan kerasnya. Arnold mengeluarkan seluruh tenaganya demi bisa membuat Andre terluka. Padahal setelah bentakan itu Arnold tak berani pada Andre, namun kini bocah itu sepertinya sudah bisa menghadapi rasa takutnya.


Awalnya memang pukulan-pukulan itu tak terasa namun entah dapat kekuatan darimana, semakin lama sangat menyakitkan. Bahkan Andre sampai meringis kesakitan karena pukulan itu. Papa Reza tersenyum puas melihat cucunya memukuli anaknya itu, sedangkan Mama Anisa sudah tertawa.


"Cakit ndak? Cakit ndak adi camcak inju Anol. Angan pikil Anol macih kecil telus melemehkan uatan atu ya. Calahna ciap uat Anol dan Kak Bel macuk lumah cakit" ucap Arnold meluapkan emosinya.

__ADS_1


Bahkan Arnold sampai menggunakan kakinya untuk menendang lutut papanya. Andre pun mengerang kesakitan karena ternyata tendangan anaknya ini benar-benar kuat. Telapak tangan kecil Arnold juga sudah mengepal erat dan terlihat memerah.


Nadia yang melihat hal itu segera saja menggendong Arnold walaupun bocah kecil itu memberontak dalam gendongannya. Sepertinya anak itu benar-benar meluapkan emosi yang sedari awal ia pendam setelah kejadian kemarin.


"Unda... Papa ahat hiks Papa kemalin entak Anol hiks" berontak Arnold sambil mengadu pada Nadia.


Papa Reza yang tahu bahwa menantunya kuwalahan pun akhirnya berdiri dari duduknya dan segera mengambil alih Arnold ke gendongannya sedangkan Nadia yang memegang botol infusnya. Ternyata Arnold belum lepas dari bayang-bayang kejadian kemarin membuatnya seperti ini kembali.


"Udah ya, nanti biar bunda yang kasih papa hukuman. Pasti papa langsung kapok dan nggak akan pernah bentak Arnold sama yang lainnya" ucap Nadia menenangkan dengan mengelus punggung kecil anaknya yang bergetar.


Arnold hanya menganggukkan kepalanya kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu lebar kakeknya. Tak berapa lama terdengar dengkuran halus pertanda bocah kecil itu telah terlelap dalam tidurnya. Papa Reza segera saja berjalan kearah brankar milik Arnold kemudian merebahkan cucunya disana diikuti Nadia yang langsung meletakkan botol infus ditempatnya.


***


"Kamu dengar dan lihat kan bagaimana Arnold membuatmu kesakitan begini?" tanya Mama Anisa yang langsung menarik tangan anaknya duduk disebelahnya setelah cucunya tertidur.


Bahkan kini Andre juga tengah mengusap kakinya yang terasa nyeri akibat tendangan dari Arnold. Sesekali ia meringis kesakitan saat mencoba menekan bagian yang sakit. Nadia yang melihat hal itu langsung saja duduk bersimpuh didepan Andre kemudian menggulung keatas celana bahan yang digunakan oleh suaminya.


"Eh... Jangan, Nad" tolak Andre saat melihat Nadia tengah memegang kakinya.


"Udah diam saja deh, mas" ketus Nadia karena merasa Andre sangatlah ngeyel.


Akhirnya Andre terlihat pasrah saja melihat apa yang diperbuat oleh Nadia. Sesekali ia mendesis kesakitan karena bagian yang sakit ditekan oleh Nadia. Terlihat bahwa ada beberapa bagian kaki Andre yang memerah.

__ADS_1


"Rasain, makanya jangan macam-macam sama Arnold" ucap Mama Anisa saat melihat anaknya itu terus kesakitan.


"Ini terakhir kalinya kamu seperti ini, Ndre. Kalau sampai kamu bentak-bentak atau nyakitin fisik ketiga cucu dan menantuku, mama akan bawa mereka pergi dari rumah. Mama akan sembunyikan mereka sampai kau tak bisa menemukan anak dan istrimu itu" ancamnya.


"Iya, ma. Andre janji nggak akan pernah ngulangi kejadian ini lagi" ucap Andre dengan sungguh-sungguh.


"Jangan cuma janji, buktikan" timpal Papa Reza dengan tegasnya.


Andre menganggukkan kepalanya dengan cepat mendengar ucapan papanya itu. Sebisa mungkin dia akan mengontrol emosinya agar tak melukai orang-orang disekitarnya. Nadia mengompres bagian kaki dan punggung Andre dengan es batu untuk menghindari pembengkakan.


***


Sudah 3 hari Arnold dan Abel dirawat di rumah sakit. Perkembangan keduanya sudah mulai membaik, namun dalam suatu waktu kejadian itu masih terus berputar dalam memori mereka. Bahkan kini Andre mulai mendekatkan diri kepada tiga anaknya lagi agar tak ketakutan saat melihat dirinya terutama Abel.


Beberapa terapi didampingi psikiater juga dilakukan selama dua hari ini. Perkembangannya cukup bagus karena keduanya sudah mau terbuka untuk mengutarakan semua emosi dan perasaan yang tersimpan. Terapi ini tentunya didampingi oleh Nadia, Andre, Mama Anisa, dan Papa Reza.


Ditengah-tengah masalah perusahaannya yang belum selesai, Andre dan Papa Reza selalu menyempatkan waktu untuk mendampingi bocah kecil itu saat melakukan terapi. Kini Papa Reza dan Andre tengah berada di ruang khusus CEO dengan beberapa tumpukan berkas didepannya.


"Ndre, coba kau lihat ini" ucap Papa Reza sambil menyerahkan satu bundle laporan keuangan.


Andre mengambil berkas yang ada ditangan papanya itu. Kemudian membaca seksama dan menelitinya hingga ia menemukan sebuah keganjilan pada berkas itu.


"Sepertinya ada yang mau main-main sama kita, pa. Dengan beraninya dia mensabotase proyek kita di kota D dengan menaikkan beberapa harga bahan baku. Namun lihatlah dia sangatlah bodoh menipu kita karena gaji untuk para pegawai disana ternyata lebih kecil dibandingkan apa yang sudah disepakati. Mana ini tercantum dalam laporan pula, ceroboh sekali dia" ucap Andre dengan terkekeh sinis.

__ADS_1


"Pantas saja para pegawai marah dan mogok kerja. Sialan memang" ucap Papa Reza sambil geleng-geleng kepala.


Andre menatap papanya yang juga tengah menatap dirinya itu kemudian mereka berdua tertawa bersama. Tanpa harus menjelaskan melalui ucapan, ternyata isi kepala keduanya sama tentang apa yang harus mereka lakukan untuk orang-orang yang telah mengusik perusahaannya.


__ADS_2