
Nadia tengah berada disekolah bersama dengan Arnold. Mereka berdua menunggu Anara dan Abel yang tengah bersekolah. Sedangkan Mama Anisa berada di rumahnya menjaga Andre yang kini masih terduduk diatas kursi rodanya. Andre terlihat lebih dingin ketika berinteraksi namun semuanya paham kalau laki-laki itu tengah berperang dengan hati dan pikirannya.
"Ma, Andre mau keluar bentar ke halaman rumah. Ingin cari udara segar" seru Andre dengan mendorong kursi rodanya menggunakan sebelah tangannya tanpa mempedulikan Mama Anisa yang sudah berteriak.
"Astaga Andre... Diluar panas kenapa malah keluar, itu wajah kamu yang luka masih sensitif" seru Mama Anisa dari dapur.
Mama Anisa tadi tengah membuatkan jus buah untuk anaknya itu, namun saat dirinya tengah sibuk didapur ia mendengar teriakan Andre yang akan keluar dari rumah. Sontak saja dia langsung melarangnya karena kondisi luka di wajah Andre yang masih sensitif jika terkena matahari.
Karena tak mendapatkan jawaban apa-apa dari Andre, akhirnya Mama Anisa meninggalkan jus yang masih ada didalam blendernya kemudian pergi ke ruang keluarga. Pasalnya tadi Mama Anisa meninggalkan Andre di ruang keluarga sebelum dirinya pergi ke dapur. Sesampainya di ruang keluarga, ternyata Andre tak berada disana membuat Mama Anisa kesal bukan main.
"Andre... Astaga anak itu, kenapa susah dibilangin kaya Arnold sih sekarang?" gerutu Mama Anisa.
Mama Anisa berjalan keluar dari ruang keluarga kemudian menyusul Andre yang katanya akan ke halaman depan. Sesampainya di halaman rumah, ia segera mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat dan terlihatlah Andre tengah berada dibawah pohon mangga.
"Huft... Untungnya itu anak pintar juga memilih tempat. Kalau sampai kena terik matahari langsung kan bisa kebakar tuh muka" batin Mama Anisa menghela nafasnya lega.
"Andre, jangan lama-lama cari anginnya. Nanti kamu malah masuk angin lho" seru Mama Anisa dengan suara melengkingnya.
"Iya ma" teriak Andre.
Mendengar jawaban Andre, seketika saja Mama Anisa segera masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Andre yang melihat mamanya sudah masuk ke rumah tentunya merasa senang karena tak direcoki lagi. Andre sekarang tengah berada dibawah pohon mangga halaman rumahnya yang hanya berada sekitar 2 meter dari jalanan komplek.
__ADS_1
Ia sedang memandang anak-anak kecil yang tengah lewat didepan rumahnya. Melihat anak-anak berjalan seperti itu membuatnya teringat masa kecilnya yang juga selalu menghabiskan waktu siang atau sore harinya dengan mengitari komplek. Namun kini dia terlempar di masa sekarang yang tengah diberikan ujian dengan tak bisa menggunakan kakinya untuk berjalan.
Masih ada rasa sedih yang menggerogoti hatinya saat melihat kakinya sangat sulit digerakkan. Namun ia mencoba menutupi kesedihan itu dengan raut wajah datar andalannya agar orang-orang disekitarnya tak terlalu sedih memikirkan keadaannya.
"Woyyy... Calon suaminya Nadia" seru seorang laki-laki yang ada didepan pagar rumah Andre.
Saat dirinya tengah melamun, ada seseorang yang tengah memanggil dirinya dengan suara keras dari arah depan rumahnya. Hal itu membuat Andre tersentak kaget kemudian mengalihkan pandangannya kearah seseorang itu. Terlihatlah laki-laki yang dikenalnya yaitu Parno tengah menampilkan wajah tengilnya.
"Ngapain kau ada disini? Bukannya sudah ku suruh kau untuk pergi dari kota ini" ucap Andre dengan nada ketusnya.
"Ngapain juga David harus nurutin perkataan kamu. Toh ini kota bukan milikmu saja, jadi siapapun boleh tinggal disini" ucap Parno dengan nada tengilnya.
Isu yang tersebar tentang kondisi Andre pun sudah menyebar ke semua lapisan masyarakat karena banyaknya foto yang diambil tak sengaja oleh para awak media. Apalagi Andre dan keluarganya adalah pengusaha terkenal yang tentunya gerak-geriknya tak luput dari media. Namun selama ini keluarga Andre tak pernah melihat acara gosip sehingga hal ini luput dari pantauan mereka.
Bahkan awalnya perusahaan yang dipimpin oleh Andre itu sempat goyah sahamnya akibat kecelakaan yang menimpa laki-laki itu, namun dengan sigap Papa Reza mengatasinya.
"Oh... Kalau begitu, siap-siap saja jika kasus yang waktu itu saya bawa ke pihak berwajib" ucap Andre dengan tersenyum smirk.
Walaupun wajahnya tengah terluka, namun aura menyeramkan yang dikeluarkan dan diperlihatkan oleh Andre masih begitu kental. Sampai-sampai Parno yang berada di luar pagar sedikit bergidik ngeri. Namun dengan secepat kilat, Parno menegakkan wajahnya dan menantang Andre.
"Silahkan saja kamu laporin David dan orangtuaku ke polisi. Ah... Mungkin saja polisi akan langsung kabur jika melihat wajah buruk rupamu itu" ejek Parno.
__ADS_1
"Mana sekarang nggak bisa jalan lagi. Udah nggak bisa ngejar ataupun kasih bogeman kearah wajah tampanku walaupun aku ejek kaya gini hahaha" lanjutnya dengan menghina Andre.
Andre hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya ketika mendapatkan hinaan dari Parno. Kalau saja ia bisa berjalan, dia sudah pasti akan mengejar Parno dan memberikan cekikan dilehernya itu sehingga mulutnya bisa terdiam.
"Cieee... Kenapa kok mukanya merah gitu? Duh pasti lagi marah nih ya sama David, mau nampar dan kasih pukulan ke wajah tampanku? Oh tentu tiak bisa, kan situ nggak bisa jalan" ucap Parno.
Hinaan dari Parno membuat mental Andre down bahkan kini dia seakan terpengaruh dengan ucapan laki-laki itu. Kini dia merasa minder ketika berdekatan dengan orang normal lainnya. Satpam yang berjaga tengah pergi mengantar Mbok Imah ke supermarket sehingga ruangan penjaga tengah kosong.
"Aku yakin sebentar lagi Nadia pasti akan ninggalin laki-laki tak berguna seperti kamu. Udah nggak ganteng, nggak bisa jalan lagi. Gimana bisa jagain Nadia coba? Nadia kecopetan aja pasti kamu cuma bisa duduk diatas kursi roda sambil ngeliatin. Eh... Nggak deng, tapi cuma bisa bantu do'a aja" ucapnya.
"Sialan... Pergi kau dari sini" sentak Andre.
Mendengar hinaan yang dilontarkan oleh Parno membuat rasa panik dalam dirinya timbul apalagi tentang Nadia yang akan meninggalkannya. Andre sudah dihantui dengan pikiran-pikiran buruk yang seakan berputar dalam kepalanya gara-gara ucapan Parno.
"Aku juga mau pergi kok, santai... Lagi pula aku juga takut melihat wajah buruk rupamu itu" ucap Parno dengan menghina Andre lagi.
"Pergi" sentaknya lagi dengan wajah memerah.
Andre sudah kehilangan kesabarannya menghadapi Parno yang terus menghina dirinya. Saat Parno akan pergi dari sana, tiba-tiba saja ada seseorang yang tengah memanggil dirinya dengan nada marah.
"Parno..."
__ADS_1