Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Pelajaran


__ADS_3

"Benar apa kata cucuku, kita cek CCTV sekarang" titah Nenek Hulim.


Sontak saja pemilik toko dan beberapa karyawan disana menatap gugup dan takut kearah Nenek Hulim. Mereka kenal dengan sosok Nenek Hulim yang bahkan wajahnya begitu terkenal dalam majalah bisnis. Bahkan ia juga berulang kali memesan tas dari toko ini untuk dikirimkan ke rumahnya yang ada di kota.


Selama ini memang Nenek Hulim menyembunyikan tentang rumah dan beberapa aset miliknya itu di rumahnya yang ada di kota. Bahkan anak dan menantunya tak tahu apa yang bisa dilakukannya saat dia berada di desa untuk mengendalikan roda bisnis di kota. Pemilik toko dan para pelayan hanya bisa meneguk salivanya kasar. Niatnya untuk membela dan melindungi rekannya malah seketika menjadi boomerang untuk toko ini.


"Maaf nyonya, CCTV di toko ini rusak" alibi pemilik toko.


"Oh iya kah... Rusak kok itu saya lihat CCTV setiap sudut menyala berwarna begitu" ucap Mama Anisa sambil menunjuk kearah semua ruangan.

__ADS_1


Memang benar adanya jika semua CCTV di toko ini masih lah menyala dan bekerja. Namun mereka si pemilik toko itu berniat membohongi Nenek Hulim dan Mama Anisa agar tak memeriksa CCTV. Hal ini karena pemilik toko yakin jika memang karyawannya yang salah. Namun ia ingin menyelesaikan ini secara damai saja namun sepertinya pihak keluarga tak terima.


"Lho ada apa ini kok kumpul-kumpul disini? Bukannya itu ada pelanggan yang ingin bayar tasnya" ucap seorang pelayan yang tiba-tiba datang dengan senyum ramahnya.


Bagaimana tak ramah, orang yang akan membeli tas hampir beberapa biji itu tentunya akan menambah keuntungan toko. Semakin banyak keuntungan toko dan barang terjual, pasti semua gaji karyawan akan naik. Namun ini ada yang memborong banyak namun semua rekan kerja bahkan pemilik tokonya malah pada diam dengan wajah pucat.


"Kayanya ini deh nek yang tadi kasar sama Alan dan Fikri. Buktinya dia baru saja datang" ucap Arnold sambil berpikir.


"Apa maksudmu anak kecil?" tanya pelayan itu heran.

__ADS_1


"Tadi kamu kan yang bentak adik saya karena ada air liur di bibirnya sehingga nggak boleh pegang tas?" tuduh Arnold dengan langsung.


Pelayan itu terkejut kemudian mengedarkan pandangannya kearah rekannya yang lain dan pemilik toko itu. Mereka semua yang dipandang oleh pelayan bernama Inge itu hanya terdiam karena semuanya pun juga tengah terpojok. Tak mendapatkan jawaban apapun dari mereka, Inge langsung saja menatap tajam kearah Arnold.


"Jangan ngada-ngada dan nuduh sembarangan ya anak kecil. Tadi saya itu bukan bentak yang katanya adik kamu. Saya hanya menegurnya namun mereka malah pada ngelunjak ingin tetap memegang tas itu. Itu tas mahal yang seharusnya tak boleh dipegang sembarangan" seru Inge.


Bahkan gadis itu sepertinya lupa dengan sikap ramahnya karena ada Nenek Hulim dan Mama Anisa. Kebanyakan memang sifat aslinya akan keluar saat ia sedang marah. Terbukti sekarang karena merasa terpojokkan dan tertuduh membuatnya langsung saja marah-marah kepada Arnold sehingga bisa mengungkap kejadian sebenarnya.


Arnold memejamkan matanya karena mendengar bentakan itu membuat Mama Anisa sedikit khawatir. Namun tak berapa lama Arnold membuka matanya kemudian menatap tajam kearah Inge. Bahkan Inge sampai mundur ke belakang karena merasa sedikit takut menghadapi anak laki-laki didepannya ini.

__ADS_1


__ADS_2