Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Ngomel


__ADS_3

"Kasihan kan kakak-kakaknya yang ada didalam? Mereka lagi serius mengerjakan soal lho, malah kamu teriak" omel Andre saat keduanya sudah keluar dari area gedung.


"Ya mamap papa. Abisna... Alan bocan ndak bica ain dan nomong" kesal Alan mencurahkan unek-uneknya.


Andre hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar alasan yang diucapkan oleh anaknya itu. Sangat tidak dibenarkan mengganggu anak-anak yang sedang fokus dalam mengerjakan soal. Apalagi tadi juga sudah diberitahu oleh pihak panitia tentang peraturan bagi pengunjung dan pendukung yang hadir.


Alan dan Andre pun kini duduk di sebuah taman kecil yang cukup rindang dengan berbagai pepohonan. Andre menatap Alan yang sedang bertopang dagu. Sepertinya bocah kecil itu sedang memikirkan cara untuk menghilangkan rasa bosannya.


"Papa, Alan danteng ndak?" tanya Alan tiba-tiba sambil menaikturunkan kacamata hitamnya dengan tangannya.


"Enggak" jawab Andre dengan cepat.


Alan langsung memberengut kesal karena merasa dijelek-jelekkan oleh papanya itu. Bahkan kini dadanya sudah kembang kempis dan langsung berdiri dihadapan sang papa. Matanya melotot kemudian kedua tangannya berkacak pinggang.


"Talo Alan ndak danteng, telus papa apa? Papa tan olantuana atu. Kedantenan nanak pati menulun dali olangtuana. Belalti papana ndak danteng kalna nanakna di ilang delek" kesal Alan mengomel panjang lebar.


Bahkan kini air liurnya sampai keluar karena terlalu menggebu-gebu dalam mengomeli sang papa. Andre hanya bisa menutupi wajahnya agar tak terkena air liur dari anaknya itu. Beruntung disana tak ada orang sama sekali sehingga dirinya tidak menjadi pusat perhatian.


***


"Unda..." panggil Arnold lirih sambil menguap.


Nadia langsung mengalihkan pandangannya kearah Arnold yang sudah menguap bahkan matanya sayu dan merah. Nadia yang paham kalau anaknya mengantuk pun langsung membawa anaknya itu masuk dalam pangkuannya. Arnold menghadap kearah sang bunda kemudan menyandarkan kepalanya pada dada Nadia.

__ADS_1


Arnold langsung memeluk bundanya itu dengan Nadia yang mengelus lembut punggung anaknya. Mama Anisa dan Papa Reza yang melihat hal itu tentunya hanya bisa tersenyum melihat kemanjaan Arnold pada bundanya. Selama ini Arnold sudah jarang bermanjaan dengan Nadia karena harus mengalah pada Alan.


Mereka semua bangga pada kemandirian dan pengertian dari Arnold. Namun ada sedikit rasa sedih karena Arnold seperti dituntut bersikap dewasa dalam menghadapi saudara-saudarnya yang lain.


"Anak-anak selalu seperti ini ya, bu?" tanya Gea tiba-tiba.


"Maksudnya Alan yang sering bosan kalau hanya diam saja dan Arnold lebih memilih berdekatan dengan ibunya" lanjutnya menjelaskan maksud pembicaraannya.


Pasalnya tadi Nadia sempat menyiratkan kebingungan pada pertanyaan yang diajukan oleh Gea. Nadia tersenyum tipis menanggapi pertanyaan dari Gea. Mungkin orang luar tidak akan tahu jika sebenarnya mereka hanya anak sambung dan ibu tiri karena kedekatannya yang sudah bak lem dan kertas.


"Iya, bu. Kalau ada Alan, pasti Arnold nggak mau manja-manjaan gini karena adiknya itu suka iri. Jadi kalau Alannya nggak ada, Arnold bebas nih buat manja sama bundanya. Arnold ini banyak mengalahnya dan jauh lebih dewasa daripada kakak-kakaknya" ucap Nadia yang sedikit melirik kearah anaknya yang ada di pangkuannya.


Ternyata Arnold sudah tertidur lelap karena usapan lembut bundanya. Nadia menatap sedikit sedih pada anaknya yang satu ini karena tak bisa bebas leluasa bermanjaan dengannya. Sifatnya yang selalu mengalah bahkan terkadang harus merendahkan egonya sendiri demi kebahagiaan saudara-saudaranya.


Gea menganggukkan kepalanya mengerti. Terlihat sekali memang jika Arnold ini lebih dewasa walaupun tingkahnya hampir sama dengan Alan jika berucap. Gea mengelus rambut Arnold dengan lembut berharap bocah cilik itu kelak jika dewasa bisa lebih bertanggungjawab pada keluarganya.


"Tapi Alan dan Arnold itu sangat mirip. Bahkan tingkahnya itu lho, sama-sama kocak" ucap Gea sambil geleng-geleng kepala.


"Tapi berisiknya itu lho, bu. Nggak ketulungan, mungkin saya harus memberitahu mereka bagaimana menempatkan diri di beberapa tempat. Tak boleh asal main bercanda di tempat serius seperti ini" ucap Nadia sambil terkekeh geli.


Nadia memang harus mengajarkan anak-anaknya belajar menempatkan dirinya agar suatu saat nanti mengerti kalau tak segala sesuatunya bisa diajak bercanda. Gea setuju dengan apa yang akan diterapkan Nadia. Ia yakin kalau orangtuanya bisa mendidik anak super aktif ini menjadi orang yang lebih bijak dalam menempatkan diri.


***

__ADS_1


Jam terus berlalu, sudah hampir 2 jam peserta olimpiade berkutat dengan banyaknya soal untuk babak penyisihan. Bahkan sudah banyak peserta yang keluar dari area gedung karena yang sudah selesai bisa langsung meninggalkan kursi duduknya. Anara dan Abel juga sudah berdiri kemudian meninggalkan kursinya dengan keadaan lembar jawab yang dibalik.


Nadia dan keluarganya juga langsung ikut keluar area gedung dengan kini Arnold berada dalam gendongan Papa Reza. Untuk Gea dan Ibu Yuni sendiri masih harus disana hingga semua peserta olimpiade yang dibawanya itu selesai dan keluar area gedung. Bahkan nanti mereka juga lah yang akan menunggu pengumuman hasilnya.


***


"Gimana tadi soalnya, nak? Bisa?" tanya Nadia yang melihat Anara dan Abel kini sudah duduk didekat pintu keluar.


Nadia bahkan kini langsung menggandeng keduanya untuk segera mencari keberadaan Alan dan Andre. Suasana yang sudah banyak orang membuat mereka harus ekstra kerasa dalam mencari keberadaan keduanya.


"Alhamdulillah... Banyak yang bisa, bunda" jawab Anara dengan cerianya.


"Apa pun hasilnya nanti, kalian harus yakin kalau itu adalah hasil yang terbaik" ucap Nadia membuat mereka mengganggukkan kepalanya.


Anara dan Abel sudah melakukan usaha terbaiknya selama beberapa hari ini dengan belajar, untuk hasil sudah dipasrahkan saja sama Tuhan. Tak berapa lama mereka berjalan, akhirnya keluarga itu menemukan Andre dan Alan sedang duduk sambil makan es krim.


"Adek, es krim buat kita mana?" seru Anara dan Abel saat melihat adiknya masih asyik dengan es krimnya.


Alan dan Andre sontak saja mengalihkan pandangannya kearah semua keluarganya disana. Alan segera memberi kode untuk mereka duduk didekat keduanya. Mereka pun langsung duduk di area taman kecil itu.


"Ni eklim uat kak Bel dan kak Nala. Uat abang Anol yan tidul, bial Alan akilin aja makanna. Akut telamaan malah cail" ucap Alan.


Setelah menyerahkan es krim untuk kedua kakaknya, Alan langsung saja membuka kantong plastik lagi. Ia hendak membuka bungkus es krim yang masih tersegel yang rencananya buat sang abang. Andre dan Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan anaknya itu.

__ADS_1


"Alan emang dasarnya nggak niat berbagi sama abang" sindir seseorang dengan suara serak seperti bangun tidur.


__ADS_2