
Nadia mempersiapkan ketiga cucu dari Keluarga Farda agar segera bersiap untuk berangkat ke sekolah, kecuali Arnold yang akan dengan setia menunggu kedua kakaknya. Sejak kejadian kemarin Nadia pulang ke rumahnya dengan cepat, ketiga bocah kecil itu sama sekali tak mau jauh dari gadis itu. Setiap Nadia akan pergi, mereka akan terus mengikuti dan kalau tidak dituruti maka mereka akan menangis. Bahkan saat mau ke toilet pun, ketiganya sampai menunggu didepan pintu kamar mandi.
Nadia yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafasnya pasrah dan menuruti keinginan ketiganya. Sedangkan Mama Anisa dan Papa Reza hanya geleng-geleng kepala melihat Nadia yang terlihat sangat pasrah menghadapi kelakuan ketiga cucunya. Seperti kejadian saat ini yang ada di meja makan.
"Uapin..." titah Arnold pada Nadia.
"Suapin kami dulu, Bunda. Kami kan yang mau sekolah, kalau Arnold bisa makan nanti-nanti" ucap Anara.
"No... Anol ulu" ucap Arnold tak mau kalah.
Nadia dibuat bingung oleh ketiganya yang ingin didahulukan untuk disuapi. Mereka juga tak mau disuapi oleh Mama Anisa, Papa Reza, dan juga Andre.
"Suapan kakek, nenek, dan papa beda. Lebih enak suapan Bunda" ucap Anara saat tadi nenek dan kakeknya akan menyuapi.
Kedua orangtua Andre hanya mencebikkan bibirnya kesal saat ketiga cucunya menolak untuk disuapi oleh mereka. Akhirnya Nadia menyuapi mereka bertiga secara bergantian dengan satu piring nasi dan sayur. Mereka makan sarapan dengan lahapnya membuat semua yang duduk disana begitu lega. Sedangkan Andre menatap sendu kearah Nadia yang terlihat menghindarinya. Bahkan saat tadi dirinya menyapa pun, gadis itu hanya menjawabnya singkat.
Setelah selesai sarapan, keempatnya berangkat ke sekolah dengan Andre yang akan mengantarnya. Entah setan apa yang merasuki dirinya hingga Andre memaksa mereka untuk mau diantarkan olehnya. Padahal biasanya mereka berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.
Andre masuk kedalam mobilnya diikuti Nadia yang duduk di kursi penumpang dengan ketiga anaknya. Andre hanya bisa menghela nafasnya pasrah saat kini melihat dirinya sudah seperti seorang sopir.
"Pak sopil, yo angkat" seru Arnold sambil mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
"Ngengggg... Gasss..." seru Anara.
Andre begitu kesal karena diledek sebagai sopir oleh anaknya, sedangkan Nadia hanya bisa menahan tawanya melihat wajah masam dari laki-laki itu. Tanpa berkata apa-apa, Andre segera menyalakan mesin kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Didalam mobil itu dipenuhi dengan suara celotehan dari Anara dan Arnold, sedangkan Abel hanya mendengarkan saja sambil bernyanyi lirih. Nadia merasa lega ketika kondisi Abel sudah jauh lebih baik.
Setelah beberapa menit berkendara, mobil yang dikendarai oleh Andre berhenti tepat didepan sebuah gerbang sekolah. Andre segera turun dari mobilnya kemudian membukakan pintu untuk keempat orang yang disayanginya.
"Terimakasih" ucap Nadia singkat.
Andre menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis saat Nadia sudah mau berbicara lebih baik dengannya. Saat Andre tersenyum, Nadia sempat tertegun melihatnya bahkan keduanya saling menatap dalam. Namun kegiatan itu tak berlangsung lama karena Arnold segera menarik tangan Nadia.
"Ganggu aja tuh bocil" gerutu Andre saat melihat anaknya melayangkan tatapan tak suka padanya.
Kini Andre segera saja masuk kedalam mobil saat meliat ketiga anaknya dan Nadia sudah memasuki area sekolah. Ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke tempatnya bekerja.
***
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya salah satu resepsionis itu dengan tersenyum manis.
"Hadiah atau kejutan untuk seorang cewek tomboy apa?" tanya Andre dengan wajah datarnya.
Sedangkan semua resepsionis yang ada disana seketika memekik histeris akibat pertanyaan yang diajukan oleh Andre. Mereka semua seketika berpikir tentang siapa perempuan yang tengah dekat dengan bosnya itu dan ada beberapa diantara mereka yang tengah patah hati karena orang yang dikaguminya sudah memiliki kekasih. Berita tentang CEO perusahaan yang telah mempunyai kekasih pastinya nanti akan dengan secepat kilat menyebar diseluruh isi kantor.
__ADS_1
"Ehemmm... Kalian mendengarkan saya atau tidak?" ketus Andre.
Andre kesal karena semua orang yang ada disana malah bengong menatap dirinya dengan tatapan tak percaya. Mendengar ucapan Andre seketika saja membuat semua resepsionis tersadar dari lamunannya dan seketika gelagapan melihat aura gelap dari wajah bosnya itu.
"Itu bos, saya rasa cewek tomboy lebih suka dikasih kejutan makan malam. Bukan malam romantis tetapi seperti ditempat pinggir jalan gitu atau pasar malam, apalagi perempuannya sederhana pasti dia akan sangat bahagia" ucap salah satu resepsionis dengan membayangkan dirinya sendiri.
"Bukan bunga atau cokelat?" tanya Andre lagi.
"Cewek tomboy jarang suka hal seperti itu, bos. Kalaupun mau kasih hadiah kayanya makanan kesukaannya atau barang seperti alat musik" ucap resepsionis itu.
Andre mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, kemudian mengucapkan terimakasih kepada resepsionis itu. Setelahnya ia berlalu dari meja resepsionis dan berjalan kearah lift untuk menuju ke ruangannya meninggalkan beberapa resepsionis yang memekik histeris.
***
Sesampainya didepan ruang CEO, Andre segera masuk ke ruangannya kemudian duduk di kursi kebesarannya. Ia duduk termenung memikirkan berbagai rencana untuk membuat Nadia bisa kembali ke pelukannya. Ia tengah menimbang-nimbang usulan dari resepsionisnya tadi untuk mengajak Nadia keluar makan malam atau pergi ke pasar malam. Hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan apalagi untuk seorang perempuan.
Andre membuka ponselnya kemudian mencari referensi tempat makan pinggir jalan yang bersih dan informasi tentang pasar malam. Saat informasi itu tersedia, Andre memekik histeris karena apa yang diinginkannya sudah ada didepan mata.
"Oke, nanti malam ajak Nadia ke pasar malam habis itu jajan di pedagang kaki lima. Lagi pula perempuan seperti Nadia itu tak mungkin suka jika diajak ke restorant mewah" ucap Andre dengan bahagia.
"Tapi nanti si bocil-bocil itu? Apa aku minta bantuan sama mama dan papa untuk menyingkirkan ketiga bocil itu dulu? Atau kusimpan saja mereka bertiga didalam lemari" lanjutnya memikirkan berbagai rencana.
__ADS_1
"Astaga... Ya kali kusimpan ketiga bocil pengganggu itu di lemari, bisa habis digeprek sama mama lampir dan Nadia gayung itu bisa-bisa" lanjutnya.
Andre sudah seperti orang tidak waras karena berbicara sendiri didalam ruangannya. Bahkan ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat nanti jalan-jalan dengan Nadia dengan senyum-senyum sendiri. Untung saja sekretarisnya sedang berada diluar sehingga tak melihatnya bertingkah seperti ini. Saat ini dirinya hanya bisa berharap kalau ketiga bocilnya tak mengacaukan rencana pendekatannya dengan Nadia.