
Mama Anisa menyusul suaminya yang sangat lama dalam mencari kehadiran Nadia dan Andre. Mama Anisa meninggalkan ketiga cucunya di ruang keluarga dengan beberapa wejangan dan meminta Abel untuk menjaga kedua adiknya. Pertama Mama Anisa mencari di halaman belakang dan dapur, namun di kedua tempat itu tak ada tanda-tanda akan kehadiran suami dan anaknya. Ia segera saja menaiki tangga ke lantai 2 dan terlihatlah suami dengan anaknya itu terlibat percakapan.
Mama Anisa tak terlalu jelas mendengar apa yang sedang dibicarakan keduanya karena memang jaraknya masih lumayan jauh. Saat jaraknya sudah lumayan dekat, Mama Anisa samar-samar mendengar tentang suaminya yang menyatakan tentang bagaimana reaksinya saat dirinya mengetahui sesuatu yang tengah mereka bahas.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Mama Anisa tiba-tiba.
Papa Reza dan Andre pun seketika mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang sedang berbicara, keduanya seketika terkejut saat melihat Mama Anisa berada tak jauh dari mereka. Terutama Andre yang kini badannya sudah panas dingin karena takut kalau papanya akan mengadukan kelakuannya pada sang mama.
"Jadi ada apa sebenarnya sampai kalian ingin tahu bagaimana dengan reaksi mama?" lanjutnya saat kedua orang dihadapannya tak ada yang menjawab.
"Coba tanya aja anak laki-lakimu itu, ma" ketus Papa Reza.
Mama Anisa semakin dibuat bingung dengan keadaan ini, pasalnya Papa Reza itu tidak pernah bersikap seperti ini. Kalaupun marah, suaminya hanya akan diam dan menatap tajam kearah orang yang bersalah namun ini malah berucap ketus. Mama Anisa melihat kearah Andre yang hanya menundukkan kepalanya.
"Lalu ini dimana Nadia? Kok disini hanya ada Andre?" tanya Mama Anisa lagi.
"Nadia diusir sama anakmu itu, ma" jawab Papa Reza.
Mama Anisa terkejut dengan jawaban dari suaminya, ia menatap kearah Andre untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
"Nggak aku usir kok, dia yang pergi sendiri" ucap Andre tak terima.
"Ya kamu rendahkan harga dirinya kok makanya dia pergi" ucap Papa Reza tak mau kalah.
Mama Anisa hanya bisa melihat kedua laki-laki yang amat disayanginya itu berdebat didepannya. Dia masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"STOP" sentak Mama Anisa sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
Mama Anisa menatap tajam kearah dua laki-laki itu, bahkan nafasnya sudah naik turun akibat melihat perdebatan keduanya yang tak ada habisnya. Dia hanya butuh penjelasan bukan malah melihat perdebatan, sedangkan kedua orang itu tertunduk dihadapan sang nyonya besar.
"Kesabaran mama itu tipis, setipis benang jahit. Jadi kalau kalian masih mau terus berdebat tanpa menjelaskan permasalahan yang sebenarnya, mama bakalan jahit bibir kalian berdua. Biar sekalian nggak bisa ngomong" kesal Mama Anisa.
Papa Reza dan Andre hanya terdiam sambil memainkan bibirnya untuk memeriksa apakah bibirnya akan merasakan jahitan Mama Anisa itu.
"Maaf" ucap Papa Reza dan Andre lirih.
"Huhhh... Sekarang papa dulu, jelaskan apa yang diketahui" ucap Mama Anisa dengan tegas.
"Jadi Andre itu merendahkan harga diri Nadia, ma. Dia bilang kalau Nadia itu tidak becus mengurus ketiga anaknya bahkan meragukan ketika akan menjadi istrinya kelak gara-gara kejadian hari ini. Dia menyalahkan Nadia, makanya Nadia memilih pergi dari rumah kita. Bahkan kemungkinan besar rencana pernikahan mereka juga batal" jawab Papa Reza.
Mama Anisa yang mendengar itu begitu shock, impiannya untuk mempunyai menantu seperti Nadia mendadak runtuh. Sedetik kemudian Mama Anisa merubah raut wajahnya bak singa yang akan menerkam mangsanya.
"Apa itu benar, Ndre?" tanya Mama Anisa dengan nada rendahnya.
Mama Anisa dan Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala dengan pemikiran Andre. Bagaimana bisa Andre menyalahkan Nadia atas kejadian hari ini.
"Bodoh... Kamu benar-benar bodoh, Ndre. Yang tidak becus menjaga ketiga cucu mama itu kamu. Ide tentang bodyguard untuk menjaga mereka saja sudah beberapa minggu yang lalu disepakati namun sampai sekarang tak juga nampak. Kalau saja sudah ada bodyguard itu, dapat dipastikan kalau Nadia dan ketiga cucuku tidak mengalami ini" ucap Mama Anisa dengan nada tingginya.
"Sekarang kamu urus tuh ketiga anakmu yang lagi cari Bundanya" lanjutnya.
Namun tanpa aba-aba, Mama Anisa mendekat kearah Andre dengan tatapan amarahnya kemudian menendang area pribadi anaknya.
Dugh...
Arrrrghhhh....
__ADS_1
Andre memekik kesakitan bahkan langsung berjongkok sambil tangannya memegang area pribadinya. Wajahnya sampai memerah karena rasa sakit yang teramat.
"Itu pelajaran karena kamu menyakiti calon menantu mama. Awalnya mama ingin menjahit mulutmu biar kamu nggak bisa berbicara sembarangan lagi, namun sayang nanti kamu nggak bisa kerja. Kalau nggak kerja kan mama jadi susah" ucap Mama Anisa dengan santai.
Mama Anisa segera berlalu memasuki kamarnya meninggalkan Andre yang masih kesakitan sedangkan Papa Reza hanya terdiam disana sambil melihat kearah anaknya dengan meringis ngilu.
"Syukurin... Tuh temui ketiga anakmu, selamat berpusing-pusing ria dengan mencari jawaban kemana hilangnya Nadia" ejek Papa Reza.
Papa Reza segera berlalu dari hadapan Andre kemudian mengikuti istrinya yang masuk kedalam kamar. Sedangkan Andre masih menetralisir sakit yang berada di area pribadinya karena tendangan maut dari sang mama. Setelah rasa nyeri itu sedikit reda, Andre segera melangkahkan kakinya menuruni tangga untuk menemui ketiga anaknya.
Selama perjalanan menuju kearah ruang keluarga, Andre berpikir keras bagaimana cara mengalihkan pembicaraan tentang keberadaan Nadia. Karena asyik dengan pikirannya, Andre sampai tak sadar kala dirinya sudah sampai di ruang keluarga. Terlihatlah disana ada ketiga orang yang tengah menatapnya intens, bahkan mata mereka bergerak mencari keberadaan seseorang.
"Sabar Andre, kamu pasti bisa menaklukkan ketiga bocil itu walaupun tanpa bantuan Nadia" batin Andre menyemangati dirinya sendiri.
"Abel, Anara, Arnold... Kalian nyariin papa ya? Kenapa?" tanya Andre pura-pura tak tahu.
"Ukan, ami nyali Bunda ukan papa" jawab Arnold.
"Iya, Bunda mana?" tanya Anara.
Diberondong pertanyaan oleh kedua anaknya membuat Andre salah tingkah sampai menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk menghilangkan rasa sedikit cemasnya. Andre segera saja duduk didekat ketiga anaknya yang kini menatapnya dengan tajam. Sebenarnya dia sedikit kesal karena ketiga anaknya itu malah mencari oranglain bukan dirinya yang notabene adalah ayah kandungnya.
"Abel, Anara, Arnold... Mulai saat ini jangan panggil kak Nadia dengan panggilan Bunda lagi ya" ucap Andre dengan hati-hati.
"Kenapa?" seru ketiganya dengan menampilkan wajah galaknya.
Andre hanya bisa meringis pelan melihat tatapan penasaran dan menuntut dari ketiganya yang membuatnya tak bisa berkutik. Sepertinya dia harus berguru pada Nadia yang bisa menghadapi ketiga anaknya itu. Dia mengaku salah karena telah meremehkan dan menghina Nadia, memang benar kalau dirinya yang tidak becus disini.
__ADS_1