
"Unda... hiks..." lirih Arnold dengan menangis dalam pelukan Abel.
"Bunda akan baik-baik aja kan, nek?" tanya Anara dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.
Abel juga menangis dalam diam, hanya ada air mata yang terus mengalir di kedua pipinya sambil memeluk adiknya. Melihat keadaan ketiga anaknya yang begitu menyedihkan membuat Andre merasa bersalah karena tak bisa menjaga istrinya dengan baik. Mbok Imah dan Pak satpam sudah pulang atas perintah Andre.
"Bunda dan adik bayi pasti baik-baik saja. Bunda kan kuat kaya superhero, kita berdo'a ya untuk keselamatan mereka berdua" ucap Mama Anisa pelan.
Ketiganya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian diam dengan isakan yang masih terus terdengar dari bibir kecil mereka. Tadi saat ketiganya tengah mengaji, mereka disusul oleh Mama Anisa dan Ibu Ratmi ke masjid untuk meminta ijin ke pengajar karena bundanya masuk rumah sakit. Akhirnya mereka pulang dengan kedua orangtua Nadia tak bisa datang ke rumah sakit karena Ayah Deno kakinya sedang bermasalah. Mereka meminta tolong kepada Mama Anisa untuk selalu menghubungi perkembangan anaknya.
"Kalau sampai istri dan anakku kenapa-napa, kalian akan merasakan akibatnya" batin Andre geram saat mengetahui siapa pelakunya.
***
Ceklek...
Setelah satu jam menunggu, akhirnya dokter yang memeriksa Nadia keluar dari ruang IGD. Sontak saja mereka semua yang menunggu Nadia langsung mendekat kearah dokter itu. Terlihat sekali kalau dokter yang memeriksa itu tengah kebingungan dan sedikit panik walaupun tak diperlihatkan pada keluarga pasien.
"Bagaimana dengan keadaan istri saya, dok?" tanya Andre mewakili semuanya.
"Kami akan melakukan operasi sesar untuk mengeluarkan bayi yang ada dalam kandungan pasien. Hal ini untuk menyelamatkan nyawa keduanya karena terjadi pendarahan hebat akibat terjatuh dalam posisi duduk. Kalau keluarga pasien menyetujuinya, kami akan segera melakukan tindakannya" ucap dokter itu meminta persetujuan dari Andre.
Andre yang mendengar hal itu tentunya lemas bahkan kakinya seakan tak bertenaga untuk menopangnya. Dibantu dengan Papa Reza yang langsung menahannya, Andre dibawa duduk oleh papanya ke kursi tunggu. Mama Anisa pun keadaannya sama namun ia harus berusaha kuat demi ketiga cucunya yang kini menangis karena mengetahui keadaan bundanya sedang tak baik-baik saja.
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dan bayinya, dok" putus Papa Reza.
"Silahkan tanda tangan surat persetujuan tindakan ini ya, pak" ucap salah satu perawat mendekat kearah Papa Reza.
Papa Reza pun membubuhkan tanda tangannya diatas surat persetujuan itu sebagai perwakilan keluarga kemudian menyerahkannya kembali ke perawat. Dokter dan perawat itu segera berlalu untuk menyiapkan semua prosedur tindakan. Papa Reza langsung menguatkan Andre agar kembali bangkit demi istri dan anak-anaknya yang lain.
"Kamu harus kuat, Ndre. Ingat istri dan anak-anakmu yang butuh dukunganmu" bisik Papa Reza pada anaknya.
Mendengar bisikan papanya itu membuat Andre langsung meraup kasar wajahnya dengan tangan kemudian menguatkan hatinya untuk berdiri tegap. Andre menatap ketiga anaknya yang menangis sambil berpelukan membuatnya segera mendekat kearah mereka. Andre memeluk ketiganya dengan erat sambil membisikkan beberapa kalimat penenang.
"Berdo'a untuk bunda dan adik ya, nak. Mereka pasti baik-baik saja" bisik Andre pada ketiganya.
Ketiganya menganggukkan kepala kemudian memeluk balik Andre membuat laki-laki itu merasa terenyuh. Benar kata Papa Reza kalau dirinya harus menguatkan hati dan mental demi anak-anaknya yang membutuhkan dirinya.
***
Sudah dua jam berlalu Nadia melakukan tindakan operasi di ruangan khusus, namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda berakhir. Belum ada juga suara bayi menangis dalam ruang operasi itu membuat semuanya dilanda kekhawatiran.
"Sabar ya, nak. Hmm... Gimana kalau kita pulang dulu? Ini udah malam lho, kalian harus istirahat" ucap Mama Anisa pada ketiga cucunya.
"Ndak mau" seru Arnold sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Kedua kakaknya pun sama, mereka tak mau pulang jika belum mendapatkan kabar tentang bundanya. Kini memang waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam yang tentunya membuat para orangtua juga memikirkan ketiga anak yang bersama dengan mereka.
__ADS_1
Akhirnya mereka hanya pasrah saja dengan sikap kukuh ketiganya yang sama sekali tak mau pulang. Mereka semua terdiam sambil terus berdo'a demi kelancaran operasi yang dijalankan oleh Nadia. Saat keheningan tengah melanda, tiba-tiba saja terdengar suara bayi menangis dari dalam ruangan operasi.
Owekkkk.... Owekkkk... Owekkk...
"Alhamdulillah..." ucap Andre, Mama Anisa, dan Papa Reza.
Mereka begitu bersyukur anggota keluarga baru yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir juga ke dunia. Mereka begitu terharu sekaligus merasa khawatir karena belum ada kabar mengenai kondisi Nadia saat ini. Kekhawatiran itu semakin membuncah saat beberapa suster keluar dari ruang operasi dengan setelah berlari.
"Silahkan untuk ayah dari bayi ibu Nadia untuk mengikuti saya ke ruangan khusus" ucap salah satu perawat yang keluar sambil mendorong sebuah inkubator berisi bayi Nadia.
Bayi berjenis kelamin laki-laki yang terlihat sangat kecil karena lahir di usia kehamilan sang ibu yang baru menginjak 8 bulan. Andre pun dengan sigap mengikuti perawat itu untuk mengadzankan anak laki-lakinya. Semuanya begitu bersyukur dengan hadirnya sosok bayi laki-laki mungil yang menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga mereka.
"Tu edek ayina tok ecil anget?" tanya Arnold bertanya kepada neneknya.
"Soalnya kan masih bayi jadi kecil. Besok kalau udah bisa makan kaya Arnold dan yang lainnya pasti juga cepat besar" ucap Mama Anisa dengan sedikit menghapus air mata yang keluar dari sudut matanya.
Ada sedikit rasa sedih di hati Mama Anisa saat melihat cucu barunya yang terlihat sangat kecil. Namun ia bersyukur karena cucunya lahir dengan selamat walaupun harus dimasukkan dalam inkubator. Papa Reza segera saja mengajak cucu dan istrinya duduk kembali menunggu Nadia yang masih bertarung nyawa didalam ruangan operasi.
***
Andre masuk kedalam ruangan khusus bayi baru lahir dengan kelahiran prematur, ruang NICU. Ia segera mengenakan pakaian khusus dan membersihkan tangannya dengan antiseptik. Andre segera mendekatkan dirinya di dekat inkubator bayinya kemudian mulai mengadzankan anak laki-lakinya itu.
"Allahu akbar... Allahu akbar..." bisik Andre pada tepat telinga anaknya.
__ADS_1
Andre terus fokus mengadzankan anaknya yang baru lahir itu dengan berlinangan air mata. Ia begitu bersyukur berkat sang pencipta bisa lagi merasakan menggendong seorang bayi dan diberi kepercayaan untuk mendidik anak lagi. Walaupun anaknya kali ini harus lahir lebih cepat dari prediksinya, bagi Andre itu tak masalah asalkan ibu dan bayinya bisa selamat.
"Terimakasih sudah melengkapi kebahagiaan papa dan bunda. Do'akan bunda agar lancar dalam operasinya" bisik Andre setelah selesai melafadzkan adzan. Setelah melihat anaknya tertidur, Andre segera keluar dari ruangan itu kemudian berlalu kembali ke ruang operasi.