
Nenek Fikri marah besar dengan kelakuan anak dan menantunya hingga lebih memilih mengusir mereka. Ia tak ingin otak cucunya yang masih polos harus terkontaminasi dengan kegiatan-kegiatan tak masuk akal di rumah ini. Terlebih tadi Nenek Hulim diberi informasi bahwa anak dan menantunya itu memang sudah terbiasa mengadakan pesta-pesta seperti ini di rumah setiap satu bulan sekali.
Kemurkaannya benar-benar sudah diambang batas pasalnya mereka berpesta di saat kondisi Fikri sedang sakit. Harusnya jika memang benar mereka orangtuanya tentu akan lebih memilih menjaga anak di rumah sakit daripada mengadakan pesta seperti ini.
"Bereskan semua pakaian dan barang kalian. Aku tak ingin rumah yang ku bangun dengan susah payah ini digunakan untuk hal-hal tak berguna seperti ini" ucap Nenek Hulim mengusir anak dan menantunya itu.
Mereka berdua menganga tak percaya mendengar ucapan dari Nenek Hulim. Ditengah kesadaran yang masih tipis, keduanya saling menatap seakan merencanakan sesuatu. Tak mungkin mereka membiarkan begitu saja kejadian ini terjadi. Sebelumnya memang mereka sudah memperkirakan bahwa suatu saat kelakuannya akan diketahui sang ibu.
Rumah itu memang masih atas nama Nenek Hulim yang nantinya akan diberikan kepada sang cucu. Terlebih rumah ini dibangun atas kerja keras Nenek Hulim dan almarhum suaminya. Bahkan semua usahanya yang kini dikelola anak dan menantunya itu juga masih atas namanya. Bahkan ia diam-diam sudah mengalihkan semuanya atas nama sang cucu namun masih dalam proses.
"Mampus kau..." seru Mama Fikri sambil mengambil sebuah guci yang berada di belakangnya.
Mama Fikri mengangkat guci yang terbuat dari keramik itu keatas dan hendak memukulkannya kepada Nenek Hulim. Nenek Hulim menatap tak percaya dengan akan yang dilakukan oleh menantunya itu. Terlebih jika sampai guci itu mengenainya tentu akan membuatnya celaka atau bahkan tewas di tempat.
Sedangkan Nadia dan ART lain yang menyaksikan kejadian ini mendadak linglung. Baru tahu jika selama ini ada orang yang dengan sengaja melakukan sesuatu demi menghilangkan nyawa orang. Padahal jelas-jelas Nenek Hulim adalah ibu mereka, bahkan Papa Fikri pun hanya terdiam seakan mendukung perbuatan istrinya.
Aaaaaa...
Prang....
__ADS_1
Arrrghhhh....
Semuanya menganga tak percaya dengan kejadian yang begitu cepat itu. Nadia, Nenek Hulim, dan ART langsung menengok kearah atas tangga karena semua itu berasal dari sana. Ternyata disana ada Fikri, Alan, dan Arnold yang memegang pistol mainan yang bisa diisi dengan air ataupun yang lainnya.
Ketiganya menembakkan cairan yang ada didalam pistol mainan itu kearah mata Mama Fikri membuatnya kelilipan dan pandangannya kabur. Terlebih isi dalam psitol mainan itu ternyata adalah sambal cabai yang dicampur air. Ketika sudah tak fokus karena penglihatannya kabur dan pedas di matanya, Mama Fikri menjatuhkan guci yang tadi akan dilemparkannya kearah Nenek Hulim.
"Arrrrggghhhh... Sakit pa" seru Mama Fikri berteriak kesakitan.
Guci yang terjatuh itu pecah sehingga pecahan kacanya berhamburan dan mengenai kaki Mama Fikri. Bahkan Mama Fikri sudah berteriak kesakitan membuat suaminya langsung menggendongnya. Terlebih kaki istrinya itu sudah berdarah-darah dengan mata yang memejam.
"Lasain... Akana adi olang angan ahat-ahat" seru Alan dari atas tangga.
Bahkan ketiganya sudah menampilkan wajah songongnya karena merasa berhasil sudah menumpaskan kejahatan. Namun mata Fikri terlihat sendu, ada perasaan bahagia dan sedih ketika kedua orangtuanya bahkan sama sekali tak melihat kearahnya. Malah mereka ingin menyingkirkan sang nenek yang akan menemani dirinya.
Benar saja saat mereka keluar dengan membawa senjata itu, ketiganya melihat Mama Fikri hendak melukai Nenek Hulim. Sontak saja dengan asal mereka menembakkan pistol itu kearah Mama Fikri dan tepat sasaran dalam diam.
Nadia dan Nenek Hulim begitu bangga dengan kesigapan mereka menolong orang terdekatnya. Bahkan Papa Fikri yang akan membawa istrinya ke rumah sakit menatap keatas tangga terlebih dahulu. Ia menatap tajam kearah anaknya dengan tatapan kebencian membuat Fikri tersentak.
"Jangan tatap kakakku seperti itu. Yang harusnya dibenci itu kalian berdua, dasar manusia tak punya hati" seru Arnold.
__ADS_1
Arnold tak terima ada yang menatap Fikri seperti itu. Terlebih ada kobaran dendam dari pria dewasa itu kepada sang anak. Bahkan Nenek Hulim yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi tadi langsung tersadar kemudian menatap anaknya.
"Jangan tatap cucuku seperti itu. Sadarlah Hasan, dia anakmu dan aku ibumu. Kau seperti ini karena dibutakan cinta kepada istrimu. Harta yang ku punya ini pun takkan pernah akan jadi milikmu. Percuma kalian kerja siang malam karena semua ini akan ku berikan pada yayasan amal" sentak Nenek Hulim dengan sedikit berbohong.
Nenek Hulim takkan membiarkan mereka mengetahui jika Fikri lah yang akan menerima semua hartanya. Pasti mereka akan mengincar cucunya yang bahkan tak tahu apa-apa. Papa Fikri yang bernama Hasan itu menatap tak percaya kearah ibunya begitupun dengan istrinya langsung membuka matanya mendengar ucapan sang ibu.
"Aku ini anak ibu, kenapa kau melakukan semua ini? Harusnya yang berhak atas semua ini adalah aku, bukan yayasan amal" seru Papa Hasan tak terima.
"Kelakuan kalian yang culas ini lah yang membuatku memberikan harta ini pada yayasan amal" ucap Nenek Hulim acuh.
"Sudah, mas. Kita nggak usah dengarin apa kata ibumu, lebih baik bawa aku ke rumah sakit segera karena kaki dan mataku sakit. Kita pikirkan cara lain untuk mengambilnya" ucap Mama Fikri mulai mempengaruhi suaminya yang kini terdiam.
Dalam pikiran kalut dan bercabangnya, Papa Hasan segera saja melanjutkan kepergiannya dengan menggendong sang istri. Ia takkan membiarkan istrinya kesakitan lebih lama dan meninggalkan ibu juga anaknya yang kecewa dengan keputusannya.
"Hasan... Pergilah sejauh mungkin karena kebebasan kalian hanya berakhir sampai disini. Arnold yang ganteng itu sudah menghubungi polisi dan menunggu kalian didepan" ucap Nenek Hulim berteriak.
Papa Hasan dan istrinya yang memang sudah diambang pintu keluar tentunya terkejut karena mereka tak melihat ada yang melaporkan ke polisi. Benar saja, saat mereka berdua masih berdiri dengan kaku di dekat pintu rumah ada empat orang polisi yang datang dan langsung menangkap keduanya.
"Tidakkkk....".
__ADS_1
"Aku nggak mau di penjara, bu".
Teriakan itu hanya dianggap angin lalu oleh Nenek Hulim karena hatinya sudah mati rasa akibat ulah mereka. Sedangkan Fikri dengan hati-hati turun dari tangga kemudian memeluk neneknya sambil menangis.