Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kepekaan Alan


__ADS_3

Alan terlihat terdiam saat mendengar ucapan Nadia yang memintanya seakan untuk berpikir. Sedangkan Nadia memberi kode kepada keluarganya yang lain untuk diam saja. Ia ingin melatih kepekaan dan jiwa sosial anaknya itu.


Tanpa menjawab pertanyaan sang bunda, Alan langsung turun dari kursinya dan berjalan keluar dari area restorant. Nadia pun mengikuti anaknya itu karena tentu semua gerak-gerik Alan yang begitu aktif ini harus diawasi.


"Napa talian dicitu?" seru Alan tiba-tiba sambil berkacak pinggang.


Sontak saja Nadia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh anaknya itu. Sedangkan dua anak kecil yang sepertinya seumuran dengan Arnold yang paling besar sedangkan yang kecil dibawah Alan sedikit usianya itu langsung terkejut bahkan memundurkan langkahnya. Mereka berdua takut karena image orang kaya yang nantinya akan mengusir keduanya.


"Enggak kok. Kami hanya lihat saja. Ini kami mau pergi" ucap seorang anak perempuan yang paling besar itu.


Bahkan terlihat sekali kalau mereka ketakutan karena badannya gemetaran. Bahkan kini sang gadis kecil itu terus menyembunyikan adik laki-lakinya dibelakangnya. Nadia sepertinya salah dalam mengajak Alan untuk hal seperti ini.


"Alan..." panggil Nadia membuat anaknya itu memberinya kode untuk diam dulu.


Saat kedua anak kecil itu akan pergi, dengan segera Alan memegang tangan gadis yang paling besar. Keduanya tentu sangat ketakutan apalagi baru pertama kali ini mereka terciduk seperti ini bahkan sepertinya akan dimarahi.


"Ayo matan. Liat matanan dali lual tu ndak atan tenyang. Enang... Talian ndak ucah pikiltan uat bayal, Alan wuwangna banak" ucap Alan tiba-tiba.


Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang tak ada lembut-lembutnya saat mau membantu orang. Pasalnya jika mau membantu orang itu tak boleh yang namanya menakut-nakuti dulu. Sedangkan Alan berbeda, ia malah seakan menakuti orang yang akan ditolongnya walaupun pada akhirnya membantu tetapi dengan menyombongkan dirinya sendiri.


"Ayo masuk ke dalam. Kita makan sama-sama" ajak Nadia dengan lembut agar keduanya tak ketakutan.


Mungkin karena wajah nyolot dari Alan juga sehingga membuat keduanya ketakutan. Bahkan lihat lah kini, Alan sudah menarik paksa tangan anak laki-laki kecil yang dibawah umurnya itu untuk segera mengikutinya. Bahkan bocah laki-laki itu seperti hendak menangis kemudian menatap sang kakak yang juga ketakutan.

__ADS_1


"Kami tidak jahat kok. Hanya ingin mengajak makan" ajak Nadia yang juga langsung menggandeng tangan sang gadis kecil.


Mereka berempat akhirnya berjalan masuk ke dalam restorant. Kedua anak kecil dengan pakaian lusuhnya itu hanya bisa menundukkan kepalanya saat melihat tatapan-tatapan merendahkan dari beberapa pengunjung. Bahkan tak jarang ada yang melemparkan tatapan sinisnya dan berpura-pura menutup hidungnya.


"Hei mbak, jangan dong bawa anak kampungan masuk kesini. Kan kami jadi nggak selera makan" seru salah satu pengunjung.


"Ini restorant besar dan hanya untuk orang kaya. Jangan bawa pemulung kesini" seru pengunjung lainnya.


Tak hanya para pengunjung yang sepertinya keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Nadia dan Alan. Namun beberapa pelayan restorant juga menatap jijik kearah keduanya. Alan yang melihat itu tentunya tak suka apalagi mendengar teman barunya di jelek-jelekkan.


"Capa nanak tampungan? Talian tu yang tampungan. Balu bica matan dicini caja cudah cok melaca ebat. Talo talian bica matan apapun di culga, tu balu ebat. Pelbaiki bulu tu copan cantun dan hati talian cehingga bica melacakan matanan culga" teriak Alan dengan wajah marahnya.


"Talo talian bilang meleta tampungan, talian cemua ini lebih dali ampungan. Tuma taya bompetna tapi ukan hatina" lanjutnya.


"Hati mereka sudah mati. Didalam pikiran dan hati mereka hanya dipenuhi dengan duniawi sehingga rasa simpati untuk saling membantu sesama sudah mati" ucap Arnold dengan jelas.


Tentunya perpaduan kalimat pedas yang diucapkan Alan dan Arnold itu membuat semua orang yang ada disana diam. Orangtua serta kakek dan nenek keduanya begitu tercengang mendengar keduanya begitu kompak dalam menjatuhkan mental orang-orang yang merendahkannya.


"Ayo tita matan caja. Talo meleka ndak cuka, yebih aik tita dindah lestolan caja. Agian dicini tuma lamai talna pilal di totok caja. Inumanna caja lacana ndak manis cama cekali" ucap Alan memprovokasi.


Tadi sebelum Alan dan Nadia pergi memang minuman sudah disuguhkan. Namun Alan yang tadinya meminta teh hangat manis itu merasa kesal karena rasanya tak sesuai ekspektasinya. Nadia dan Alan langsung menggandeng lagi kedua anak kecil menuju meja mereka. Keluarga Andre menyambutnya dengan senyuman hangatnya.


"Tolong pindahkan semua makanan ini di ruang privat. Saya menyewa ruangan privat itu untuk 3 jam" ucap Papa Reza pada pelayan yang baru saja mengantar pesanan.

__ADS_1


Disana memang ada ruang privat namun jarang disewa pengunjung. Kebanyakan pengunjung memilih makan dibagian luar karena view bangunannya jauh lebih bagus untuk yang suka foto-foto. Para pelayan itu langsung meminta temannya untuk membantu memindahkannya kearah ruang privat. Papa Reza mengurus semua administrasinya terlebih dahulu apalagi ruang privat harus ada pembayaran sewa didepan.


"Ayo tita matan dicana. Dicini banak olang yang bucuk hatina" teriak Alan yang sengaja menyindir orang-orang yang tadi merendahkannya.


Nadia dan Mama Anisa hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Alan itu. Alan langsung menggandeng tangan adik kecilnya itu kemudian membawanya masuk dalam sebuah ruangan. Pelayan yang tadinya juga menatap tak suka kearah mereka langsung memilih menjauh daripada nantinya disindir.


Saat masuk ruangan, kedua anak kecil itu hanya memandang kearah makanan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sepertinya mereka baru melihat makanan sebanyak ini bahkan tadi Papa Reza meminta tambahan menu.


"Ayo duduk" ajak Nadia.


"Nanti kursinya kotor kalau kami duduk disitu" ucap gadis kecil itu sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau kotor nanti bisa dibersihkan lagi kok" ucap Abel dengan lembut kemudian menggandeng gadis kecil itu.


Anara dan Abel langsung duduk mengapit bocah kecil seumuran adiknya itu. Sedangkan Alan langsung duduk lesehan bersama dengan bocah laki-laki kecil itu.


"Alan, duduk di kursi" ucap Nadia.


"Alan mau duduk dicini aja. Ladian ini ada kalpetna tokk, tami mau matan cama-cama. Alan mau cuapi adik, ya tan abang?" tanya Alan pada Arnold.


Arnold menganggukkan kepalanya kemudian ikut duduk bersama Alan dan bocah laki-laki yang tampak kebingungan itu. Bahkan Alan sedari tadi mengelus rambut bocah kecil itu dengan sayangnya.


"Nama amu capa?" tanya Alan dengan penarasan.

__ADS_1


__ADS_2