Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Keberangkatan


__ADS_3

Setelah beberapa hari mengurus segala administrasi dan berkas rumah sakit yang diperlukan, akhirnya Andre dapat berangkat ke luar negeri untuk melakukan operasi bedah plastik. Papa Reza sudah mengurus semuanya dari akomdasi hingga tempat tinggal untuk istrinya juga karena tak mungkin Mama Anisa istirahat di rumah sakit.


Kemarin Andre telah menghabiskan waktu seharian penuh bercanda tawa dengan Nadia dan ketiga anaknya. Walaupun hanya di halaman belakang rumah, namun moment yang begitu berkualitas itu membuat rasa kekeluargaan begitu kental dan hangat. Bahkan mereka terlihat semakin kompak dalam hal membully Andre. Namun Andre sama sekali tak marah, walaupun kemarin Arnold juga memberi pesan-pesan yang begitu menohok hatinya.


"Papa, talau ke lual negli angan lilik-lilik wewek ule. Wewek ule mang ceci, amun unda ebih ahenol" ucap Arnold membuat Andre dan Nadia menganga tak percaya.


"Kamu dapat kata-kata itu darimana, nak?" tanya Nadia.


"Dali bang ukang cayul yan da di epan lumah unda" ucap Arnold jujur.


Arnold memang mendengar beberapa kata-kata yang menurutnya lucu dan asing dari pedagang sayuran yang selalu lewat didepan rumah Nadia. Pernah sekali dia mengikuti Ibu Ratmi untuk membeli dan disana banyak ibu-ibu dengan pedagang itu sedang bergosip mengenai bule yang baru saja datang di luar negeri. Jadilah otak polos Arnold tercemar oleh ucapan-ucapan mereka.


Nadia hanya meringis malu dihadapan Andre yang menatapnya tajam. Namun apa boleh buat, dia tak bisa memarahi kekasihnya itu karena ucapan seseorang memang dia tak bisa mengaturnya. Tanpa melanjutkan obrolan itu, akhirnya mereka memasuki rumah setelah hari beranjak sore.


***


Kini Mama Anisa dan Nadia tengah menarik dua koper. Yang satu milik Andre dan sisanya milik Mama Anisa. Hari ini adalah hari dimana Andre dan Mama Anisa akan berangkat ke luar negeri. Abel dan Anara langsung saja tak berangkat sekolah demi ikut mengantarkan kepergian nenek dan papanya itu.


"Sudah siap?" tanya Papa Reza kepada semuanya setelah melihat istrinya dan Nadia kini sudah berkumpul di ruang keluarga.


Mereka semua menjawab pertanyaan Papa Reza dengan sebuah anggukan. Akhirnya semua berjalan keluar dari rumah mewah itu kecuali Papa Reza yang mendorong kursi roda Andre. Ketiga anak Andre berjalan dengan riangnya berada didepan para orang dewasa.

__ADS_1


Semua memasuki mobil yang telah disiapkan dengan Papa Reza yang berada dibalik kemudi. Perjalanan menuju Bandara itu penuh dengan celotehan-celotehan dari Arnold dan juga Anara membuat suasana didalam mobil menjadi ramai.


***


Sesampainya di Bandara, mereka semua segera turun dari mobil. Semuanya memasuki area Bandara kemudian duduk sambil menunggu panggilan untuk take off bagi Mama Anisa dan Andre. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya panggilan bagi penumpang terdengar. Mama Anisa dan Andre bersiap-siap untuk memasuki area check in, namun sebelum itu mereka berpamitan dahulu kepada keluarganya.


"Mama dan Andre disana selalu berhati-hati ya. Kalau ada sesuatu, segera saja hubungi salah satu dari kami. Jaga kesehatan" pesan Papa Reza kemudian memeluk istri dan anak laki-lakinya.


"Hati-hati disana tante, jaga kesehatan" ucap Nadia kepada Mama Anisa.


Mama Anisa dan Nadia saling berpelukan karena mereka akan lama tak bertemu. Setelah melepaskan pelukannya, Nadia segera berjongkok didepan Andre yang duduk di kursi roda. Matanya menatap dalam kearah laki-laki yang sudah beberapa bulan ini menjadi kekasihnya.


Andre menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis saat mendengar pesan yang Nadia sampaikan. Ia tak menyangka bahwa si gadis tomboy kekasihnya itu bisa mengucapkan kalimat manis seperti itu. Apalagi kedua orangtuanya kini tengah menatap dua sejoli itu dengan tatapan haru.


"Aku akan selalu menjaga hati dan perasaanku hanya untukmu. Aku akan membuktikan bahwa semua ucapanku bukanlah hanya sekedar kata" janji Andre pada kekasihnya itu dengan tegas.


"Dombal" ucap Arnold lagi setelah mendengar ucapan yang keluar dari bibir papanya.


Hahahaha


Sontak saja ucapan Arnold itu membuat kedua orangtua Andre tertawa terbahak-bahak. Suasana yang begitu haru dan romantis itu lenyap akibat ucapan bocah kecil itu, Andre hanya bisa mendengus kesal. Nadia segera berdiri dari posisi jongkoknya kemudian memberikan waktu kepada ketiga bocah kecil itu untuk berpamitan. Ketiganya segera berjalan mendekat kearah Andre.

__ADS_1


"Papa, cepat kembali ke rumah ya. Abel mau kita kumpul sama-sama lagi dalam keadaan sehat. Abel nggak mau lihat papa, bunda, nenek, dan kakek sakit-sakit lagi. Pokoknya Abel cuma mau kita kumpul sama-sama lagi" ucap Abel dengan mata berkaca-kaca.


Terlihat sekali dari tatapan Abel kalau dia sangat takut jika kehilangan moment kebersamaan dengan keluarganya. Ia sudah pernah merasakan kesepian, untuk kali ini Abel ingin egois untuk ditemani seterusnya. Andre menganggukkan kepalanya kemudian memeluk Abel dengan eratnya.


"Nara juga cuma ingin kita kumpul sama-sama lagi. Cepat kembali ya papa" seru Anara setelah melihat Abel dan papanya telah melepaskan pelukannya.


"Angan ampe cantol ule cekci" pesan aneh Arnold tiba-tiba.


Dengan gemas, Andre segera menarik tangan bocah laki-laki itu kemudian mencium dan memeluknya dengan erat. Akhirnya mereka berempat berpelukan bersama, Andre menikmati harum tubuh ketiga anaknya saat memeluk semuanya. Ini adalah hal yang nanti pasti akan ia rindukan saat jauh dari mereka.


Setelah keempatnya melepaskan pelukannya, akhirnya Mama Anisa mendorong kursi roda milik Andre untuk berjalan kearah tempat check in. Keduanya terus melihat kearah belakang dan melambaikan tangannya kepada semua orang yang mengantar kepergian mereka.


Mata Abel sudah berkaca-kaca melihat kepergian nenek dan papanya, walaupun hanya sebentar namun tetap saja ia merasa kehilangan. Arnold yang melihat kakaknya sedih pun langsung memeluknya dengan erat sambil mengucapkan kata-kata penenang.


"Enang ya, kak Bel. Pati meleka cegela embali kecini. Ita beldo'a cama Tuhan bial meleka celalu celamat dan cehat" ucap Arnold.


Abel pun memeluk adik laki-lakinya itu dengan erat, ia beruntung mempunyai dua saudara yang saling menguatkan. Anara pun ikut-ikutan memeluk Abel sehingga ketiga bocah itu berpelukan di tengah-tengah hiruk pikuk keramaian Bandara.


Nadia dan Papa Reza yang melihat ketiga bocah kecil yang berpelukan itu hanya bisa tersenyum haru. Keduanya berharap agar ketiga anak kecil itu saat dewasa nanti bisa saling menyayangi dan melindungi satu sama lain.


Setelah acara haru itu berakhir, akhirnya mereka semua berjalan keluar dari area Bandara untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2