
"Coalna Alan mau eli matanan yain, pa. Agian Alan tuma mau icip aja tok, tengen tau lasana tayak apa" ucap Alan dengan santainya.
Andre hanya bisa mengelus dadanya sabar melihat tingkah anaknya itu yang sepertinya tak malu dilihat oleh orang banyak. Bahkan mereka seperti menggunjing orangtua Alan yang terlalu irit. Kesal karena mendengar gunjingan itu membuat Andre langsung saja meminta untuk membungkus semua cilok yang ada di kuwali.
"Saya beli semuanya. Bungkus per plastiknya 5 ribuan lalu bagikan sama semua orang yang ada disini. Biar tuh bungkam mulut ibu-ibu yang ucapannya pedas bilang saya pelit sama anak" ketus Andre dengan emosi.
Alan langsung melihat papanya yang wajahnya sudah memerah. Sedangkan Ega malah kini takut kalau akan dimarahi oleh Andre. Ibu-ibu yang tadinya berkumpul disana bahkan langsung memilih undur diri setelah mendapatkan cilok yang mereka mau secara gratis.
"Papa tuh napa cih, ndak ucah emoci ditu talo ada olang yang hina tita. Bial Allah caja yang alas atau anti Alan yang atan lalawan. Ditu caja emocian" ucap Alan dengan ketus.
Andre mengusap dadanya sabar mendengar suara Alan yang malah menyalahkan dirinya itu. Akhirnya Andre memang memborong semua jualan penjual cilok itu kemudian dibagikan pada semua orang yang ada disana. Bahkan orang-orang yang menghinanya tadi seakan malu untuk bertemu dengan Andre.
Alan, Ega, dan Andre memutuskan untuk kembali ke dalam area gedung yang digunakan untuk olimpiade. Mereka segera berjalan mendekat kearah rombongan keluarganya yang sedang asyik bercengkerama. Test memang belum dimulai sehingga masih banyak yang berbincang dengan suara keras.
"Ni tilok wuwat abang dan kak Nai" ucap Alan sambil menyerahkannya kearah kedua saudaranya itu.
"Makasih dek" ucap Arnold dibalas dengan senyuman manis oleh Alan.
Sedangkan Zunai sendiri masih malu-malu sehingga hanya mengucapkan terimakasih dengan suara lirih. Mereka berempat makan cilok itu dengan pelan-pelan sedangkan Andre langsung duduk dibelakang keempatnya.
"Unda, adi papa tayak mau mamam olang lho. Papa bapelan dan emocian, tecel jadina Alan" adu Alan pada Nadia.
__ADS_1
Nadia dan kedua orangtua Andre yang duduk disamping laki-laki itu tentunya langsung menatap kearahnya. Mereka mendengus kesal karena Andre memang susah untuk menahan emosinya. Beruntung yang bersama dengan Andre itu Alan, coba kalau Arnold, Anara, dan Abel pasti mereka sudah ketakutan.
"Emangnya tadi papa kenapa, Alan?" tanya Nadia penasaran.
"Tu balu dituduh peyit caja cudah langcung bolong tilok ini wuwat cemua olang. Bahtan tuh mutana papa memelah tayak mau matan olang. Eda caja adi tatut telus cembuni di belatang adan Alan. Adahal Alan adi emang cengaja eli bikit coalnya tuma ngin icip caja" ucap Alan menjelaskan.
Mereka menganggukkan kepalanya mengerti kemudian mencubit paha laki-laki itu. Jelas-jelas mereka sudah memperingatkan Andre untuk tidak memperlihatkan kemarahan atau emosinya didepan anak-anak namun tetap saja laki-laki itu melakukannya. Andre hanya bisa meringis kesakitan mendapat cubitan dari dua wanita tersayangnya itu.
"Besok kalau Alan lihat papa emosian lagi, tendang saja itu kakinya" pesan Mama Anisa pada cucunya itu.
"Males... Ntal tati Alan cakit talo wuwat endang-endang. Ending anti Alan wuwang caja papa di cempat campah. Ndak belguna, bitin tatut olang caja" ucap Alan sambil menganggukkan kepalanya.
***
Anara dan Abel sudah fokus mengerjakan soal bersama dengan peserta lainnya. Hanya satu jam waktu yang diberikan untuk menyelesaikan 20 soal olimpiade itu. Setelah waktu yang ditentukan selesai, semua tengah berharap-harap cemas mendengar hasil yang akan segera diumumkan.
Anara dan Abel duduk di kursinya masing-masing sambil berpegangan tangan. Sedangkan para guru pembimbing sudah berdiri didekat pesertanya. Mereka sama gugupnya dengan para peserta. Alan dan Arnold tiba-tiba saja turun untuk mendekat kearah kedua kakaknya itu.
Karena tinggal menunggu hasil saja, keduanya diperbolehkan mendekati kedua kakak mereka. Bahkan banyak anak-anak yang juga mendekati para peserta. Alan dan Arnold langsung dipangku kedua kakaknya itu.
"Angan tatut, celahkan cemuana pada Allah. Kakak cudah belucaha yang telbaik, talo ndak lolos belalti butan lejetinya. Nih ninum bulu" ucap Alan menenangkan kedua kakaknya itu dengan menyerahkan sebotol air mineral.
__ADS_1
"Iya benar apa yang dikatakan oleh Alan, kak. Lagi pula malah enak kalau enggak lolos ke seleksi olimpiade yang dikirim ke luar negeri. Kalian nggak akan jauh-jauh atau malah belajar terus menerus" ucap Arnold menimpali.
Alan dan Arnold begitu kompak ingin kalau kakaknya malah tidak lolos dalam seleksi kali ini. Mereka ingin waktu kakaknya banyak untuk keluarga sehingga bisa berkumpul seperti biasanya. Apalagi kalau sudah lolos, pasti keduanya akan sangat sibuk bahkan sering ke luar negeri.
"Kami ingin membanggakan bunda dan papa dengan prestasi yang kami raih" ucap Anara.
"Papa dan unda itu cudah bangga tama talian. Engan talian nulut dan ndak dulhaka cama olangtua caja meleka cudah bahadia" ucap Alan sambil mengusap lembut lengan Anara.
Mereka menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kedua adiknya itu. Lagi pula selama ini orangtua dan keluarganya yang lain tak pernah menuntut mereka untuk menghasilkan sesuatu. Mereka selalu bangga dengan apa yang dilakukan anak-anaknya asal tidak merugikan oranglain.
Tak berapa lama semua panitia lomba keluar dan naik keatas panggung. Ada salah seorang diantara mereka berdiri paling depan dengan membawa satu kertas.
"Baiklah... Semua jawaban sudah kami periksa dengan seksama. Ada 5 orang terpilih yang nantinya akan melanjutkan seleksi lanjutan untuk di kirim dalam Olimpiade tingkat Internasional" ucap seorang wanita itu.
"Miguel Danio, Leticia Balilei, Nicko Al Damar, Anara Listya Farda, dan Abella Listya Farda" serunya memanggil nama-nama peserta yang lolos.
Prok... Prok... Prok...
Tentu saja ruangan itu menjadi begitu riuh dengan tepuk tangan dari semua yang hadir. Tak terkecuali Nadia yang sudah meneteskan air mata harunya. Anara dan Abel langsung berdiri setelah kedua adiknya turun dari pangkuan keduanya. Mereka bahkan langsung memeluk kedua adiknya itu sambil menangis haru. Keduanya segera naik keatas panggung bersama dengan yang lainnya.
"Yah... Tok malah telpilih cih. Abang, halusna adi ita beldo'a caja cama Allah wuwat kak Nala dan Bel ndak ucah lolos" ucap Alan dengan bahunya yang meluruh.
__ADS_1