
Nadia membawa keempat anaknya ke taman dekat rumah Nenek Darmi. Wanita tua itu kini tinggal sendiri dengan mengandalkan uang dari kontrakan rumahnya. Beberapa kali Mama Anisa mengajak beliau untuk tinggal bersama keluarganya namun ia menolaknya.
"Disini jauh lebih tenang. Tetangga juga banyak yang mudah untuk ditemui" ucap Nenek Darmi waktu itu memberi alasan.
Jika pindah ke rumah Keluarga Farda yang berada di lingkungan perumahan, tentunya akan jarang ada tetangga yang bisa diajak ngobrol atau nongkrong karena semuanya sibuk. Nenek Darmi yang tak bisa hidup kesepian dalam lingkungannya pun tak bisa jika harus berada di rumah terus.
Apalagi nanti jika tinggal bersama keluarga Andre, Nadia juga yang lainnya akan ada kesibukan sendiri-sendiri. Lebih utamanya sih karena Nenek Darmi tak mau merepotkan siapapun di masa tuanya ini. Akhirnya keluarga Andre berhenti untuk menawari wanita tua itu untuk tinggal bersama namun setiap minggunya akan menjenguk beliau.
"Unda, ke lumah nenek Dalmi ndak?" tanya Alan yang digandengan kedua kakak perempuannya.
Sedangkan Arnold sendiri digandeng oleh Nadia mengawasi dari belakang. Keempatnya memang berjalan kaki menuju area taman dekat rumah Nenek Darmi karena ingin sekalian jalan-jalan sore. Lagi pula tadi orang rumah juga sedang tak berada di tempat membuat mereka memilih jalan kaki.
"Iya dong, kita main di rumah Nenek Darmi dulu. Kita cek keadaannya" ucap Nadia sambil tersenyum.
Nenek Darmi selalu senang jika sudah dikunjungi oleh anak-anak Andre dan Nadia. Rumah yang tadinya sepi pasti akan menjadi ramai saat kedatangan mereka. Bagi Nenek Darmi kehadiran keempatnya merupakan hiburan bagi dirinya yang tinggal sendiri.
"Nenek..." seru Alan saat sudah sampai didepan rumah Nenek Darmi.
Terlihat Nenek Darmi yang tengah menyapu halaman rumahnya tersenyum mendengar suara dari orang yang dikenalnya. Alan dan Arnold langsung berlari menuju Nenek Darmi yang sudah melepaskan sapunya juga melebarkan kedua tangannya.
Arnold dan Alan langsung masuk dalam pelukan Nenek Darmi juga dibalas oleh wanita tua itu. Bahkan Nenek Darmi langsung menciumi pipi gembul keduanya. Nadia dan kedua anak perempuannya berjalan santai menyusul mereka.
"Nenek tu ndak ucah capu-capu agi nih lalaman. Tan luas nih pati apek tan? Talo ental cencok imana oba?" seru Alan mengomeli Nenek Darmi setelah melepaskan pelukannya.
"Iya, lebih baik biar Alan saja yang sapu halaman ini" usul Arnold yang kemudian menggandeng Nenek Darmi menuju teras rumah.
__ADS_1
Nenek Darmi tertawa mendengar ucapan dari Arnold yang membuat Alan akan menggantikan menyapu halaman rumahnya. Sapu dengan Alan saja tingginya hampir sama masa ia membiarkan dipegang oleh bocah kecil itu.
Alan yang menganggap serius ucapan dari Arnold pun langsung saja mengambil sapu lidi panjang itu kemudian mencoba menggerakkannya dengan kedua tangannya. Nadia yang melihat itu tertawa terlebih Alan sangat kesusahan menggerakkannya.
"Tadi abang itu cuma bercanda lho. Masa iya Alan yang tangannya kecil gitu bisa buat nyapu halaman seluas ini" ucap Nadia menghentikan kegiatan anaknya itu.
"Abang adi antang Alan lho, unda. Matana nih Alan abanin" ucap Alan dengan percaya dirinya.
Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anaknya begitu keras kepala. Sedangkan Arnold sudah duduk dengan Nenek Darmi di teras menunggu Nadia, Abel, dan Anara. Akhirnya Anara dan Abel dimintanya oleh Nadia segera ke teras saja biar dia yang mengurus Alan.
"Beneran deh, abang itu nggak serius. Ayo kesana sebelum cemilannya dihabisin sama abang" ucap Nadia menakut-nakuti
Alan memang selalu takut jika kehabisan cemilan kue yang selalu disediakan oleh Nenek Darmi. Walaupun kadang di rumahnya sendiri selalu tersedia cemilan itu namun menurut Alan berbeda.
Dengan kesalnya Alan melemparkan sapu lidi yang dipegangnya kemudian melemparkannya dengan asal. Bahkan tangan bundanya yang ingin menggandeng dirinya pun ia abaikan. Alan langsung saja berlari masuk dalam teras rumah Nenek Darmi.
"Abang, angan habicin emilan unya Alan" seru Alan yang kemudian duduk disamping Arnold.
"Kamu sih telat. Yang duluan sampai disini yang dapat cemilan banyak dong. Jadi abang yang berkuasa atas cemilan ini" seru Arnold sambil menyembunyikan toples berisi cemilan.
Semua yang mendengar perdebatan ini hanya bisa geleng-geleng kepala. Tak disangka jika hanya karena sebuah cemilan saja sudah membuat keduanya ribut. Namun memang keduanya itu sangat maniak dalam makan membuat apapun yang berkaitan dengan makanan pasti jadi masalah.
"Kalian ini, itu cemilannya masih banyak lho. Ayo saling berbagi" tegur Nadia menatap tajam kearah Alan dan Arnold.
Akhirnya Arnold membagi cemilan yang ada di toples itu kemudian makan bersama. Apalagi tadi Alan langsung meledeknya karena merasa dia berada diatas angin. Melihat keduanya yang sudah akur membuat semua yang ada disana geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Bagaimana kabar nenek?" tanya Nadia dengan lembut.
"Baik, nenek selalu sehat. Apalagi ditambah dengan kedatangan kalian, nenek bahagia dan bertambah sehat" ucap Nenek Darmi dengan antusias.
"Kami bukan dokter yang bisa bikin tambah sehat pasiennya lho nek" seloroh Arnold.
Nenek Darmi tertawa mendengar ucapan dari Arnold dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Hal ini lah yang membuat Nenek Darmi selalu rindu dengan kehadiran anak-anak kecil ini.
"Bukan itu maksudnya, nak. Kalian datang kesini bikin suasana di rumah nenek tuh ramai dan selalu bikin ketawa itu lho yang buat sehat" ucap Nenek Darmi sambil terkekeh pelan.
"Matana nenek tuh halus inggal ama Alan. Pati nenek atan cehat, sejahtela, dan teljamin hidupna. Alan yan atan anggung cemua kepeluan nenek" ucap Alan dengan percaya dirinya.
Semuanya tertawa mendengar ocehan dari Alan itu. Apalagi dengan gayanya yang langsung menepuk dadanya dengan tangan seakan dia sudah bisa mengatasi segala permasalahan tanpa bantuan orang dewasa.
"Anakmu itu lho, astaga..." ucap Nenek Darmi sambil geleng-geleng kepala.
Mereka menghabiskan waktu sore itu dengan berbincang di teras rumah Nenek Darmi. Awalnya mereka yang mau ke taman akhirnya memutuskan untuk jadi kesana karena di halaman rumah saja sudah membuat lupa waktu. Nadia begitu bahagia berkumpul seperti ini dan tak lupa ia mengundang Nenek Darmi untuk datang ke acara perayaan pesta di rumah. Nanti akan ada sopir yang menjemput beliau.
"Kami pulang dulu ya, nek. Jangan lupa malam minggu nanti siap-siap. Arnold akan jemput nenek untuk kencan" ucap Arnold sambil tertawa.
"Baiklah, nenek akan dandan cantik untuk kalian semua" ucap Nenek Darmi dengan antusias.
Akhirnya mereka pulang dari rumah Nenek Darmi dengan berjalan kaki. Namun saat mereka keluar dari halaman rumah itu, ada seseorang yang memanggil Nadia.
"Nadia..."
__ADS_1