
Keempat bocah kecil itu sudah mandi bahkan mereka kini tengah berada di ruang makan dengan makan disuapi oleh bunda dan papanya. Keempatnya terlihat begitu ceria walaupun sedari tadi Arnold dan Alan berulang kali menguap.
"Nah... Sudah habis, kalian mainlah dulu di ruang keluarga" ucap Nadia.
Keempatnya turun dari kursinya masing-masing kecuali Alan yang langsung digendong oleh Abel. Sedangkan Nadia berusaha membantu membereskan piring walaupun hanya mengumpulkannya kemudian Andre yang mengangkat semua itu ke wastafel. Setelah selesai, Andre mendorong kursi roda istrinya kemudian berjalan menuju kearah ruang keluarga menyusul keempat anaknya.
***
Sedangkan di ruang keluarga, keempat bocah kecil itu sedang berdiskusi. Arnold tampak serius sedangkan kedua kakaknya sudah santai saja. Alan pun hanya bergulingan diatas karpet tak memikirkan Arnold yang yag tengah pusing.
"Gimana? Kamu udah siap belum sama kadonya?" tanya Anara sambil menaikturunkan alisnya meledek Arnold.
"Diam dulu. Arnold baru mendapatkan ide yang sangat cemerlang, pasti bunda akan memuji aku setinggi langit. Kalian nggak usah ikutin aku" ucap Arnold dengan percaya dirinya.
Kedua kakaknya hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Tanpa berpamitan, Arnold segera saja pergi dari ruang keluarga menuju pintu keluar rumahnya. Sedangkan Alan yang melihat kakaknya pergi pun langsung merangkak mengikuti Arnold yang tentunya langsung dicegah oleh Abel. Abel langsung menggendong adiknya itu dan memberinya mainan untuk mengalihkan perhatian. Namun usaha Abel itu sama sekali tak berhasil karena Alan hanya menurut pada kakak laki-lakinya itu.
"No... No... No... Ang... Ang..." ucap Alan sambil menunjuk kearah pintu utama rumah.
Bahkan Alan juga melempar mainan yang diberikan oleh Abel. Ia kesal karena dilarang mengikuti kakak tersayangnya membuatnya sekarang mencebikkan bibirnya. Abel dan Anara hanya bisa menghela nafasnya sabar karena ternyata pengaruh Arnol sebesar ini pada Alan. Tak berapa lama, kedua orangtuanya datang ke ruang keluarga dengan menampilkan senyuman manisnya.
"Arnold kemana, kak?" tanya Nadia dengan bingung sambil mengedarkan pandangannya ke seluaruh ruang keluarga.
__ADS_1
"Ang... Ang... Ang..." seru Alan sambil menunjuk kearah pintu rumah.
Andre segera saja duduk di kursi sofa dan mengangkat anaknya itu kedalam pangkuannya. Alan memberontak bahkan tak mau dipangku oleh Andre, ia ingin mengejar kakaknya membuat papanya bingung.
"Arnold keluar rumah, nggak tahu kemana. Kita nggak boleh ikut" jawab Abel.
Andre dan Nadia hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka tak khawatir dengan Arnold yang keluar dari rumah pasalnya anak itu pasti masih akan berada di sekitar halaman saja. Sekarang mereka hanya dapat PR bagaimana menenangkan Alan.
"Sebentar lagi abang akan kembali, jadi Alan disini dulu sama kakak, papa, dan bunda ya" ucap Nadia dengan lembut.
Mendengar ucapan bundanya itu akhirnya Alan mulai tenang dan duduk diatas pangkuan papanya sambil meminum susu melalui botol dotnya. Nadia pun memilih untuk berbincang ringan dengan Anara dan Abel agar kedua anak gadisnya itu merasa tak tersisihkan karena memang perhatian semuanya lebih tertuju kepada Alan juga Arnold yang sedang aktif-aktifnya.
***
"Dek, kamu nggak kesambet setan yang ada dibawah pohon rambutan kan?" celetuk Anara.
"Wah iya dong, bahkan setannya itu bantu aku menemukan sesuatu dengan mudah" ucap Arnold asal.
Anara dan Abel langsung mendekatkan tubuhnya kearah bundanya. Mereka takut jika Arnold kerasukan setan penasaran yang ada dibawah pohon rambutan halaman rumah keluarganya. Sedangkan Nadia dan Andre hanya bisa tertawa geli melihat Arnold dengan jahilnya menakut-nakuti kedua kakaknya itu.
"Bunda, merem" titah Arnold setelah ia berdiri sekitar satu meter dari keluarganya.
__ADS_1
Nadia mengernyitkan dahinya bingung namun dengan cepat melakukan perintah Arnold. Ia yakin kalau Arnold melakukan ini bukan untuk mengerjainya. Sedangkan Andre, Alan, Anara, dan Abel langsung memfokuskan pandagannya kearah Arnold dengan intens. Mereka begitu penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Arnold.
Tiba-tiba saja Arnold naik keatas sebuah sofa yang ada dibelakang kursi roda Nadia kemudian memasangkan sebuah mahkota dari akar dan bunga keatas rambut bundanya. Bahkan Arnold juga menyerahkan sebuah cermin ke tangan Nadia walaupun bundanya itu masih belum ia bolehkan untuk membuka mata.
"Buka mata bunda dan gunakan cermin itu untuk melihat apa yang ada diatas rambut" titah Arnold.
Nadia membuka matanya kemudian mengarahkan cermin itu kearah atas kepalanya. Sontak saja matanya membulat bahkan berkaca-kaca karena tak menyangka anaknya akan memberikan hadiah ini. Hadiah sederhana namun begitu berharga buatnya. Walaupun rangkaian akar dan bunga itu tak serapi jika membeli, namun Nadia begitu bangga dengan perjuangan Arnold memberikan hadiah ini untuknya.
"Mahkota cantik untuk bundaku tersayang. Terimakasih bunda selama ini sudah mendampingi Arnold, kakak-kakak, dan adik Alan. Maafkan kejahilan Arnold yang selalu membuat bunda pusing, tapi yang perlu diingat bahwa aku sangat sayang sama bunda" ucap Arnold dengan membentuk lingkaran besar melalui tangannya menandakan rasa sayangnya dengan Nadia.
Andre dan ketiga anaknya yang melihat pemandangan itu bahkan sudah tak bisa berkata-kata lagi. Andre merasa kalau anaknya itu sangat pintar dalam menggombal bahkan terkesan romantis, jauh sekali dengan sikap dirinya. Ia merasa kalah dalam segala hal jika tentang memberikan sesuatu yang istimewa untuk orang yang disayanginya. Sepertinya dia harus belajar dari Arnold tentang hal ini.
"Selamat ulang tahun, bundaku. Maafin Arnold karena belum bisa memberi hadiah mahal. Tapi Arnold janji kalau udah kerja besok, pasti akan beli semua yang bunda inginkan. Bisa beli pulau, planet, bahkan seluruh isi bumi ini" lanjutnya membuat semuanya terkekeh.
"Peluk bunda, nak" ucap Nadia dengan suara seraknya karena menahan tangisannya.
Arnold pun segera turun dari sofanya kemudian memeluk bundanya dari depan. Nadia mencium kening Arnold lama sekali karena begitu merasa terharu dengan ucapan sekaligus hadiah yang diberikan oleh anaknya ini. Sedangkan kedua kakaknya juga ikut masuk kedalam pelukan Arnold dan bundanya. Mereka juga bangga sekaligus tak menyangka dengan apa yang diberikan Arnold kepada bundanya.
"Lan... Lan... Au..." berontak Alan dalam pangkuan papanya.
Alan juga ingin memeluk bundanya bersama ketiga saudaranya yang lain. Andre yang masih menikmati pemandangan itu pun seketika tersadar kemudian mengangkat anaknya itu bergabung dengan yang lainnya. Mama Anisa dan Papa Reza yang baru saja datang pun terkejut melihat adegan mengharukan dihadapan mereka. Bahkan Alan terus menciumi pipi Arnold karena merasa adegan ini bisa tercipta karena kecerdasan kakaknya itu.
__ADS_1