Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Lengkap


__ADS_3

Andre kini masuk dalam teras rumah Nenek Darmi dengan menghentak-hentakkan kakinya. Ia benar-benar kesal dengan ulah anaknya bahkan semua orang terlihat ingin menertawakannya. Ia langsung saja duduk di kursi teras dengan mengambil banyak tisue untuk membersihkan air yang ada di wajah dan rambutnya.


"Lebih baik kamu ganti pakaian dulu ke dalam, nak. Bajumu yang kamu tinggal dulu disini masih ada" ucap Nenek Darmi sambil tersenyum.


Andre yang mendengar ucapan dari Nenek Darmi itu begitu tertegun. Bahkan Andre sendiri sudah lupa kalau dulunya pernah menyimpan baju disini. Andre melirik sekilas pada Nenek Darmi yang tersenyum lembut kepadanya kemudian menganggukkan kepalanya. Nenek Darmi masuk kedalam rumahnya diikuti oleh Andre dibelakangnya. Nenek Darmi langsung masuk dalam kamarnya kemudian mencarikan pakaian milik Andre yang disimpannya dalam lemari.


Tak berapa lama, Nenek Darmi keluar dari kamarnya dengan membawa pakaian yang masih terbungkus dengan plastik laundry. Andre berpikir bahwa Nenek Darmi melaundrykan pakaiannya yang tertinggal disini agar tetap wangi. Andre menerimanya kemudian tanpa aba-aba dia langsung berlutut didepan Nenek Darmi.


"Maafkan Andre yang sudah lancang dan tidak sopan sama nenek. Padahal nenek begitu sayang dan memperlakukanku dengan baik" ucap Andre dengan memeluk kedua kaki Nenek Darmi.


Andre telah sadar jika perbuatannya waktu itu yang membentak dan mengucapkan kalimat pedas sangatlah tak sopan. Bahkan ia seperti memberikan contoh kepada anak-anaknya dengan perbuatan yang tidak baik. Sedangkan Nenek Darmi sendiri sudah memberontak bahkan mencoba melepaskan pelukan erat Andre dari kakinya.


"Nenek sudah memaafkan Andre. Lagi pula memang ini juga salah nenek yang terlalu ikut campur masalah rumah tangga kalian" ucap Nenek Darmi yang langsung mengelus rambut Andre dengan lembut.


Andre menggelengkan kepalanya tak terima karena ucapan dari Nenek Darmi itu. Beliau tidak lah bersalah namun dirinya saja yang belum dewasa dan bijak dalam menyikapi suatu masalah. Andre terus memeluk kaki Nenek Darmi sambil menangis bahkan terus meracau ingin dimaafkan.


"Maaf... Maaf... Maafin aku, nek" racau Andre.


"Sudah, ayo ganti pakaianmu. Ini lengket lho nanti rok nenek kalau kamu peluk dalam keadaan basah gini" ucap Nenek Darmi mencoba mencairkan suasana.


Kali ini Andre menurut kemudian ia langsung berdiri dengan mencium satu kecupan di pipi Nenek Darmi. Setelah Andre berlalu ke kamar mandi, Nenek Darmi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laki-laki itu. Nenek Darmi segera keluar ke terasnya untuk menemui keluarganya yang lain.


"Nenek tenapa lama cekali di alam? Papa akalin nenek ya?" tanya Alan mencecar beberapa pertanyaan kepada Nenek Darmi yang baru saja datang.

__ADS_1


"Tidak, papa baik kok" ucap Nenek Darmi sambil terkekeh.


Nenek Darmi begitu bahagia karena Alan sangat perhatian kepadanya. Bahkan segala gerak-geriknya itu seakan tak luput dari pandangan bocah cilik itu. Nadia langsung saja mengambil Alan dalam pangkuannya agar bocah kecil itu tak banyak bicara lagi.


"Mana bica papa aik. Ahat dia mah" ucap Alan tak percaya.


Andre yang baru saja keluar dari rumah Nenek Darmi begitu kesal dengan ucapan anaknya itu. Dia merasa bahwa imagenya itu begitu buruk dihadapan anak-anaknya. Tapi ya sudahlah, Andre hanya bisa pasrah dengan semua itu. Andre segera duduk di teras bergabung dengan yang lainnya.


"Papa itu baik kalau otaknya lagi lurus" ucap Andre kesal.


"Woh... Belalti cekalang totak papa agi engkok" ucap Alan sambil menganguk-anggukkan kepalanya.


Semua yang ada disana tertawa melihat Andre merasa ternistakan oleh anaknya sendiri. Andre malas menanggapi anaknya yang setiap harinya membuat kesal itu sehingga ia memilih untuk mengangkat Arnold masuk dalam pangkuannya. Arnold terkejut dengan perlakuan papanya ini namun dengan cepat menguasai dirinya.


Andre yang tahu kalau anaknya ini sedikit takut padanya pun langsung mengelus lembut tangan mungilnya. Perlakuan Andre yang terlihat ingin memperbaiki hubungannya dengan sang anak itu membuat Nadia tersenyum sekilas.


"Dih... Perut udah buncit gitu kok masih mau minta makan" ledek Andre.


Sekarang gantian Andre yang tertawa karena berhasil menggoda anaknya. Ia paling suka jika menjahili Alan karena kesabaran bocah kecil itu hampir sama dengan dirinya. Ia pasti akan mengomel dan marah-marah kalau sudah merasa kalah.


"Cuka-cuka pelut Alan don. Citu tok libet" ucap Alan dengan sinis.


Andre segera memesan makanan dengan sistem layanan antar dari sebuah restorant. Beberapa makanan pilihan dari semuanya Andre pesan sebagai perayaan untuk berkumpulnya kembali keluarga ini. Bahkan Papa Reza juga langsung menghubungi Mama Anisa yang ada di butik untuk segera bergabung.

__ADS_1


***


Febri dengan istri dan anak-anaknya memilih untuk istirahat di dalam rumah Nenek Darmi setelah makan siang bersama. Sedangkan yang lainnya masih duduk lesehan di teras rumah sambil berbincang seru. Terlebih Alan yang kini rebahan di karpet sambil mengelus perutnya yang bertambah membuncit setelah makan.


"Abang, napa pelut Alan adi uncit tayak dini? Puna abang yan uncit tuma pipina" ucap Alan dengan setengah meledek Arnold.


"Biar buncit atau gembul yang penting sehat. Iya kan bunda?" tanya Arnold memastikan.


"Benar. Jangan lupa juga buat olahraga agar kesehatannya terjaga" ucap Nadia dengan lembut.


Kini Andre duduk di belakang istrinya sambil merengkuh perut Nadia dengan kedua tangannya. Kepalanya ia sandarkan pada pungung istrinya itu membuat kedua anaknya menatap sinis kearah sang papa.


"Papa, kenapa peluk-peluk bunda dari belakang? Harusnya kami yang dipeluk" protes Arnold tak terima.


"Iya nih, papa cok mecla. Becoklah Alan akalan mecla cama Cia" ucap Alan.


Mendengar ucapan Alan itu sontak saja Nadia melepaskan paksa pelukan Andre. Ia tak mau mata anaknya yang suci itu melihat adegan yang belum waktunya. Apalagi sampai mau pelukan dengan lawan jenis seperti itu.


Papa Reza, Mama Anisa, dan Nenek Darmi menahan tawanya melihat Andre tak bisa berkutik dengan ucapan dari anaknya itu. Ia juga sedikit takut jika anaknya nanti mengikuti gayanya dengan Nadia saat bermesraan.


"Jangan tampilkan kemesraanmu didepan anak-anak. Otak mereka akan merekam apa yang menarik baginya terus dia lakuin entah saat masih kecil atau dewasa kelak" bisik Papa Reza memperingatkan anaknya.


Andre menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga segera mendekat kearah anak-anaknya seperti Nadia. Mereka harus memberi pengertian pada Alan agar tak melakukan hal yang dilihatnya tadi.

__ADS_1


"Alan dan Arnold anak bunda yang paling tampan. Jangan lakukan hal seperti yang bunda dan papa lakukan sebelum nanti kalian menikah ya" pesan Nadia.


Walaupun keduanya tak mengerti namun mereka menganggukkan kepalanya. Terlebih suara Nadia yang begitu lembut seakan menghipnotis keduanya untuk menuruti kemauan sang bunda. Papa Reza dan Mama Anisa begitu bahagia melihat anak dan cucunya mau saling mengerti seperti ini. Rasanya kebahagiaan mereka sudah lengkap.


__ADS_2