
Andre menaruh Abel di kursi belakang kemudian diikuti oleh Nadia yang tiba-tiba masuk ke dalam mobil dan langsung memangku gadis kecil itu. Andre sangat berterimakasih kepada Nadia yang sangat peka dengan keadaan hingga menyusulnya. Begitu pula Mbok Imah yang membawa Arnold dan Anara masuk sehingga semuanya akan ikut ke rumah sakit. Mbok Imah hanya mengantarkan kelimanya sampai mobil saja karena dia harus segera pulang, terlebih suaminya sedang sakit.
Anara duduk di kursi samping kemudi, sedangkan Arnold berada pada kursi belakang bersama Nadia dan Abel. Setelah semuanya siap, Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena ia masih mengingat di dalam mobil itu ada anak-anaknya. Beruntungnya jalan yang mereka lewati terasa sepi hingga tak terasa mereka telah sampai di rumah sakit. Andre segera turun untuk meminta bantuan brankar pada tim medis sedangkan Nadia masih memangku Abel. Setelah brankar datang dengan beberapa perawat dibelakangnya, Andre segera mengambil Abel dan ditaruhnya diatas brankar. Setelahnya Andre menggendong Anara yang duduk di kursi depan dan Nadia yang membawa Arnold dalam gendongannya. Keempatnya menyusul brankar Abel yang sudah didorong oleh perawat terlebih dahulu.
Abel dimasukkan ke ruang UGD, sedangkan semuanya menunggu di kursi tunggu depan ruangan. Anara dan Arnold sudah berhenti menangis walaupun wajahnya masih memerah bahkan terdengar suara sesenggukan lirih. Andre dan Nadia masih terus mengelus punggung keduanya dengan lembut sambil membisikkan kalimat penenang.
"Maaf tuan, lebih baik anda kabari orangtua anda. Setidaknya kini mereka tahu bagaimana kondisi cucu-cucunya" saran Nadia.
Andre yang mendengar saran dari Nadia pun akhirnya setuju kemudian menghubungi kedua orangtuanya. Setelah mengetahui kabar dari Andre, besok pagi mereka akan segera pulang karena sangat khawatir dengan kondisi cucu-cucunya terutama Abel. Bahkan tadi sang mama terdengar berteriak histeris karena mendengar bahwa Abel masuk rumah sakit akibat demam tinggi.
***
Ceklek...
Suara pintu UGD terbuka setelah 1 jam lebih dokter melakukan pemeriksaan didalam Terlihat seorang dokter keluar dengan pelipis yang bercucuran keringat. Sesaat dokter itu memandang kearah keluarga pasien kemudian menghembuskan nafasnya perlahan. Ada gurat kelelahan dan kekecewaan terlihat di mata dokter itu membuat Nadia dan Andre semakin was-was mendengarkan penjelasan dari kondisi Abel.
"Apakah kalian keluarga pasien?" tanya dokter itu.
"Benar, dok. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Andre.
"Pasien sempat mengalami kejang-kejang, halusinasi, dan gelisah akibat demam yang terlalu tinggi. Beruntungnya cepat ditangani. Kalau tidak, bisa saja menyebabkan kematian. Jangan sepelekan dengan demam ya bu, pak" ucap dokter itu.
__ADS_1
Andre dan Nadia yang mendengar itu menganggukkan kepalanya. Beruntungnya mereka dengan sigap membawa Abel ke rumah sakit sehingga kondisinya tak terlalu serius.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan pasien? Apa benar pasien ini korban kekerasan? Jika benar pasien adalah korban kekerasan anak maka ini tidak bisa dibiarkan. Luka-luka lebam yang ada ditubuhnya sangat banyak. Bahkan saya rasa ada tulang bagian dalam yang retak. Saya akan melakukan visum terhadap pasien itu agar bisa membawa pelaku ke polisi" tegas dokter itu.
Dokter yang menangani Abel adalah seseorang yang juga pemerhati anak jadi tak kaget apabila ia berani melaporkan hal ini kepada pihak berwajib walaupun kedua orangtuanya menolak. Ia akan bergerak sesuai hati nuraninya, tak peduli jika harus melawan para pelaku.
"Iya dok, pasien adalah korban kekerasan dari keluarga papa tirinya. Tolong lakukan pemeriksaan secara keseluruhan untuk Abel dimulai pemeriksaan kesehatan fisik sekaligus psikisnya. Lakukan juga untuk visum karena saya juga akan membawa ini ke jalur hukum" ucap Andre.
Dokter itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian memerintahkan seorang perawat untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Abel.
"Beruntunglah kalian karena pasien adalah anak yang kuat. Jaga dia dengan baik" pesan dokter itu.
Andre menganggukkan kepalanya, dia yakin kalau Abel memang anak yang kuat. Bertahan 3 tahun dalam kondisi dan lingkungan yang sangat menekannya tentu akan berakibat buruk pada tubuhnya terutama psikisnya, namun Abel terlihat sangat kuat dan dewasa menghadapi semua itu. Dokter itu segera berlalu dari hadapan Nadia dan Andre untuk melakukan pemeriksaan kepada pasiennya. Sedangkan Andre akan mengurus administrasi anaknya dan Nadia menunggu bersama Anara juga Arnold.
***
Hari sudah menjelang tengah malam, Anara dan Arnold sudah tidur diatas kasur yang tersedia di ruangan itu. Abel pun sudah istirahat, sedangkan Andre dan Nadia masih terjaga duduk di sofa ruangan.
"Lebih baik kamu tidur disamping Anara dan Arnold, itu kasurnya masih muat" ucap Andre.
"Sebaiknya tuan juga istirahat, tidur disamping Abel" ucap Nadia.
__ADS_1
Andre menurut kemudian ia berjalan ke arah brankar tempat tidur Abel kemudian naik ke atas lalu memeluk anaknya itu. Sedangkan Nadia juga melakukan hal yang sama tidur dengan memeluk Anara dan Arnold.
***
Keesokan harinya...
Nadia dan Andre sudah terbangun terlebih dahulu. Nadia pulang ke rumah untuk mandi dan mengambil pakaian ganti sedangkan Andre menemani ketiga anaknya yang masih tertidur. Tak berapa lama Abel terbangun dengan wajah yang terlihat sendu.
"Papa..." panggil Abel lirih.
"Iya, sayang" jawab Andre.
Andre yang sedang duduk disamping brankar Abel seketika saja mengelus rambut anaknya dengan lembut bahkan memberikan senyuman terbaiknya saat anaknya itu terbangun. Abel yang melihat itu juga membalas senyuman papanya dengan sangat manis.
"Abel kira kejadian kemarin mimpi. Ternyata Abel nggak mimpi kalau udah berkumpul sama papa, Anara, dan Arnold" ucap Abel.
"Enggak, Abel nggak mimpi. Kita sudah berkumpul bersama, ditambah kakek dan nenek akan datang hari ini. Jadi Abel harus cepat sembuh ya" ucap Andre.
Abel menjawab dengan anggukan kepala, dia akan percaya pada papanya. Dari dulu ia lebih dekat pada papanya daripada sang mama, namun entah mengapa dirinya yang dibawah pengasuhan ibunya. Namun dia tak menyalahkan saudaranya karena takdirnya yang harus menjadi korban kekerasan.
Abel kembali tidur setelah memastikan kalau apa yang terjadi kemarin bukanlah mimpi. Kini ia bisa tidur nyenyak tanpa dibayang-bayangi cacian, makian, dan bentakan lagi. Keluarga papanya pasti akan menjaga dia dari semua orang yang ingin menyakiti dirinya. Dia percaya itu.
__ADS_1
Andre yang melihat anaknya tertidur sambil tersenyum seketika membayangkan bagaimana hari-hari Abel selama 3 tahun ini. Bagaimana dengan kondisi seperti itu anaknya bisa bertahan? Kalau anak lain mungkin saja langsung kabur, namun Abel tak melakukan itu karena dunia luar juga sangat berat untuk dijalani anak seusianya.
"Aku berjanji akan menjaga kalian semua dengan nyawa papa sebagai taruhannya" batin Andre berjanji sambil melihat kearah tiga anaknya.