
Kesehatan Arnold sudah mulai membaik namun tak ada satupun yang bisa membahas tentang sekolah kepadanya karena setiap kali dibahas maka bocah cilik itu akan langsung histeris. Bahkan hanya melihat seragam sekolah TK nya saja, ia sudah ketakutan dan tak mau melihatnya. Hal ini bisa mereka simpulkan jika Arnold benar-benar trauma berhubungan dengan sekolah.
Pernah saat itu Nilam menjenguk dengan masih menggunakan seragam sekolah, yang langsung membuat Arnold memintanya untuk mengusirnya. Bahkan dengan histerisnya ia sampai mencabut selang infus yang terpasang agar Nilam tak mendekatinya.
"Pergi... Jangan dekatin Arnold, sekolah itu yang bikin kakiku dipukuli. Nggak mau, seragamnya buang" teriak Arnold membuat semua orang disana terkejut.
Nilam yang baru saja masuk pun kaget bahkan langsung memundurkan langkahnya bersama sang papa yang mengantarnya. Ia tak menyangka jika Arnold akan mengusirnya padahal dia berniat untuk menjenguk bocah laki-laki itu.
"Tolong bawa Nilam keluar dan ganti seragamnya dengan baju biasa" ucap Andre yang saat itu juga baru saja datang.
Papa Nilam pun langsung membawa anaknya yang matanya berkaca-kaca keluar dari ruang rawat inap Arnold. Sedangkan Andre mengikuti keduanya dengan membawakan pakaian milik Anara yang memang ada di ruang rawat inap Arnold. Melihat Nilam telah pergi, Nadia segera saja menenangkan Arnold yang masih berteriak.
"Tidak mau sekolah, bunda. Enggak..." teriak Arnold dengan mengacak-acak rambutnya.
"Iya, nak. Enggak sekolah lagi kok, tenang ya" ucap Nadia memeluk anaknya itu sambil mengusap punggungnya lembut.
Alan, Anara, dan Abel yang melihat saudaranya berteriak histeris itu begitu sangat terkejut dan sedih. Mereka tak menyangka jika saudara yang biasanya selalu menghibur ketiganya kini mengalami trauma sekolah. Bahkan saat melihat seragamnya saja sudah membuatnya ketakutan.
Mereka bertiga saling memeluk untuk memberi kekuatan pada masing-masing agar tak ikut tumbang melihat saudaranya terluka. Nadia harus berusaha untuk kuat didepan anak-anaknya agar semuanya tak merasa sedih dan saling memberi kekuatan untuk bangkit kembali.
"Jangan diacak-acak ya rambutnya, nanti abang nggak ganteng lagi terus Nilam berpaling lho" godanya.
Nadia berusaha untuk melontarkan banyolan-banyolan yang sekiranya menarik perhatian Arnold. Benar saja, Arnold langsung menghentikan jambakan pada rambutnya itu kemudian merapikannya kembali walau masih acak-acakan.
__ADS_1
"Arnold masih ganteng kan bunda?" tanya Arnold dengan menatap penuh harap kearah Nadia.
"Tentu dong, Arnold akan selalu tampan di mata bunda" ucap Nadia memuji kemudian melayangkan ciuman bertubi-tubi pada pipi anaknya itu.
Cup... Cup... Cup....
"Udah bunda, geli..." protes Arnold sambil tertawa lirih.
Nadia begitu lega karena anaknya sudah lupa dengan kejadian tadi walaupun hanya melontarkan sebuah candaan sederhana. Memang benar kata dokter, sebisa mungkin ia harus mengalihkan perhatian Arnold dari hal-hal yang membuatnya trauma. Kini ketiga saudaranya juga langsung saja mendekat kearah Arnold setelah melihat bocah laki-laki itu sudah tenang.
***
"Wah... Nilam pakai bajunya kak Anara sampai tubuhnya kelihatan tenggelam" ucap Arnold sedikit meledek.
"Nanti kalau ketemu sama Arnold, jangan bahas tentang sekolah ya biar dia nggak teriak-teriak kaya tadi lagi" peringat Andre pada teman anaknya itu.
Nilam tentu saja menganggukkan kepalanya mengerti. Ia tak mau jika melihat Arnold teriak seperti tadi yang membuatnya ketakutan dan sedih. Nilam mencebikkan bibirnya kesal mendengar ejekan dari Arnold itu.
"Jangan cemberut dong, walaupun bajunya kebesaran tapi Nilam tetap cantik kok" puji Arnold dengan gaya tengilnya.
Sedangkan Nilam yang dipuji seperti itu pun hanya tersenyum malu-malu. Sedangkan para orang dewasa disana hanya bisa mengelus dadanya sabar melihat tingkah Arnold yang sudah pintar menggombali anak gadis. Nilam pun memilih duduk di kursi samping brankar Arnold sedangkan Nadia kembali di sofa bersama dengan yang lainnya.
"Nilam, Arnold ganteng nggak?" tanyanya sambil merapikan rambutnya dengan tangan.
__ADS_1
"Ganteng dong, pacarnya Nilam selalu tampan" ucap Nilam memuji Arnold.
Arnold hanya bisa menahan senyumannya karena mendapat pujian dari Nilam. Sedangkan Nadia yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Bahkan Andre dan Papa Nilam menganggap santai hal itu pasalnya mereka beranggapan bahwa kedua bocah itu hanyalah bercandaan biasa saja. Toh umur mereka belumlah sampai pada tahap mengenal pacaran, semuanya masih teman dekat.
***
Proses kasus Arnold masih didalami pihak kepolisian, bahkan kini para awak media mendesak mereka untuk segera mengumumkan wajah-wajah pelaku dan korban. Para pihak sekolah semua seakan tutup mulut sedangkan dinas terkait juga tak luput dari pemeriksaan.
"Kenapa prosesnya begitu lama?" tanya Andre kepada pengacaranya.
"Sepertinya dari pihak sana ada yang menekan untuk menghentikan kasus ini, tuan" jawab pengacara keluarga Farda.
Andre dan Papa Reza mengepalkan kedua tangannya. Sudah satu minggu kasus ini berjalan namun sama sekali belum ada penetapan tersangka padahal bukti-bukti sudah lengkap. Pengacara sudah berusaha sebaik mungkin agar orang-orang yang curang dalam kasus ini terbongkar.
"Sejak awal kasus ini, saya memang merasa curiga jika pihak sana melakukan kecurangan. Terlebih saat ini video viral itu sudah di takedown membuat orang-orang juga lupa. Padahal media elektronik dan massa masih menggemborkannya" ucap pengacara itu heran.
"Apa perlu kita muncul, pa? Jika kita muncul di publik dan mengatakan bahwa kita adalah keluarga korban, siapa tahu pengusaha dan orang di luar sana bisa membantu kita mendorong agar kasus ini segera dituntaskan" ucap Andre memberikan ide.
"Saya setuju dengan usulan dari tuan Andre" ucap pengacara itu menganggukkan kepalanya.
Papa Reza terdiam sambil memikirkan beberapa hal karena ia takut jika identitas keluarga korban diketahui tentunya ketiga cucunya yang lain akan menjadi sasaran awak media. Terlebih dulu Abel juga pernah mengalami kejadian seperti ini dan viral pada masanya.
"Kalau masalah tentang Abel, Anara, dan Alan untuk sementara mereka tak usah keluar dulu dari rumah. Kita minta keringanan pada sekolah agar bisa belajar lewat daring" ucap Andre menenangkan papanya.
__ADS_1
Mereka harus segera bertindak karena semakin lama kasus tak ditindak maka akan dilupakan. Hal ini tentunya akan berbahaya pasalnya sang tersangka masih melenggang bebas di luaran sana. Kalaupun sampai ada kecurangan, tentunya biar viral sekalian dan orang-orang yang punya jabatan tinggi bisa ikut turun tangan. Andre sudah tak sabar agar masalah ini segera selesai.