
"Bagaimana dengan sekolah Arnold, Ndre? Walaupun masih TK, namun itu juga penting lho" ucap Papa Reza langsung.
Setelah makan malam tadi, Papa Reza mengajak istri dan anak laki-lakinya untuk ke ruang keluarga. Sedangkan Nadia memilih membawa keempat anaknya ke kamar, menemani mereka belajar dan bermain. Nadia mengetahui dari raut wajah mertuanya yang ingin membahas sesuatu yang serius sehingga memilih agar anak-anaknya tak mendengar apa yang mereka bicarakan.
Bahkan Andre sendiri langsung menepuk keningnya pelan karena merasa lupa dengan masalah sekolah Arnold. Saking fokusnya dengan kondisi mental Arnold yang sudah perlahan membaik juga masalah Fikri kemarin, membuatnya lupa dengan kelanjutan sekolah anaknya itu. Mama Anisa juga tengah berpikir solusi terbaik untuk masalah ini.
"Bagaimana kalau kita coba masukkan ke sekolah lain? Kemarin mama sempat agak aneh dengan trauma Arnold. Waktu Fikri datang dengan seragam sekolah, Arnold terlihat biasa saja bahkan traumanya tak kambuh. Apa mungkin Arnold hanya trauma jika melihat sesuatu yang berhubungan dengan sekolahnya dulu? Seragam, tempatnya, dan gurunya" ucap Mama Anisa mengungkapkan pemikirannya.
Papa Reza dan Andre terdiam memikirkan segala kemungkinan tentang apa yang diucapkan oleh Mama Anisa. Karena sibuk di kantor membuat mereka tak terlalu memperhatikan perubahan sekecil itu. Andre juga Papa Reza saling pandang seperti sedang berdiskusi untuk merencanakan sesuatu.
"Bagaimana kalau kita coba dengan menghadirkan Nilam dan Anara atau Abel untuk mereka memakai seragam sekolah masing-masing? Apalagi akhir-akhir ini kan Anara dan Abel juga tak pernah memakai seragamnya saat berangkat dari rumah bahkan saat pulang pun mereka sudah berganti pakaian santai" ucap Andre memberikan ide.
"Iya, biar kita tahu sebenarnya Arnold ini trauma menyeluruh tentang sekolah atau hanya yang berhubungan dengan kejadian itu saja" ucap Andre menambahi.
Mama Anisa menganggukkan kepalanya setuju dengan ide yang disampaikan suami dan anaknya itu. Namun pastinya Andre harus memberitahu ke Nadia untuk bersiap-siap dengan kemungkinan buruk yang terjadi. Andre juga akan memanggil dokter yang mendampingi Arnold selama ini. Mereka pun akhirnya masuk kedalam kamar masing-masing setelah membahas hal itu.
***
Keesokan harinya...
Nadia sudah diberitahu semalam tentang apa yang akan dilakukan hari ini. Hari masih pagi dan kebetulan tepat pada hari minggu membuat semua orang berada di rumah. Mereka semua melakukan sarapan pagi bersama dengan suasana yang begitu hangat. Setelahnya, mereka semua berkumpul di ruang keluarga kecuali Anara yang langsung masuk kamar bersama dengan Nadia.
Anara lah yang akan mengenakan segala perlengkapan sekolahnya terutama seragamnya sesuai dengan perintah Nadia. Nadia sudah menjelaskan tentang rencana ini kepada Anara dan Abel. Namun Abel yang tak tega jika nanti trauma Arnold kambuh membuat Nadia memutuskan untuk Anara saja yang memakai seragam itu.
__ADS_1
Andre juga sudah menghubungi Papa Nilam untuk mempersiapkan anaknya. Beruntung sekali jika pria dewasa itu mau membantu keluarganya. Saat waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, akhirnya Nilam dan papanya datang dengan seragam sekolah TK nya. Sedangkan Anara juga turun tangga bersama dengan Nadia. Arnold belum menyadari kehadiran keempat orang itu karena masih sibuk bermain dengan Alan.
"Tok kak Nala akai pake celagam di hali inggu" tanya Alan yang tak sengaja melihat kehadiran Anara dan Nadia.
Sontak saja Arnold mengalihkan pandangannya kearah dua orang yang berada dibelakangnya. Arnold sedikit terdiam kemudian mengerutkan dahinya heran. Sama seperti Alan, dia juga kebingungan mengenai kakaknya yang memakai seragam di hari minggu. Pasalnya Abel yang satu kelas dengan Anara masih santai dengan pakaian rumahannya.
"Mungkin kak Nara lupa kalau hari ini minggu dan sekolah libur" ucap Arnold santai.
Semuanya diam-diam menghela nafas lega melihat respons Arnold yang biasa saja. Sepertinya memang seragam sekolah yang dipakai Anara takkan berpengaruh dengan kondisi Arnold. Saatnya untuk papanya dan Nilam yang masuk ruang keluarga setelah diberi kode Andre.
"Arnold...." seru Nilam dengan senyuman manisnya.
Hampir semuanya menahan nafasnya saat mendengar seruan Nilam dan juga Arnold yang kini langsung mengalihkan pandangannya. Arnold tersenyum ceria melihat wajah Nilam yang sudah beberapa hari ini tak ia lihat. Namun seketika pandangan matanya seperti kosong saat melihat sesuatu yang melekat pada tubuh Nilam.
"Pergi. Arnold nggak mau ngelihat Nilam lagi, pergi....".
"Sekolah itu... Guru itu... Seragam itu... Enggak..." teriaknya semakin histeris.
Melihat respons Arnold yang histeris kembali, Nadia langsung berlari memeluk anaknya yang kini memejamkan matanya sambil geleng-geleng kepala. Bahkan Alan yang melihat kakaknya teriak pun ketakutan hingga Abel menggendongnya dan menjauh dari orang-orang dewasa yang menenangkan Arnold.
Bukan hanya orang dewasa yang kini panik karena respons Arnold walaupun sudah diprediksi sebelumnya oleh dokter, namun Nilam pun juga begitu. Bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca yang kemudian digendong oleh sang papa.
"Mbok, tolong antarkan Nilam dan papanya ke kamar Anara untuk berganti dengan pakaian santai" ucap Andre.
__ADS_1
Mbok Imah yang memang berada disana pun langsung menunjukkan dimana letak kamar Anara untuk berganti pakaian bagi Nilam. Sedangkan Andre langsung kembali memeluk anaknya bersama sang istri.
"Tenang, ya. Nilamnya udah pergi lho" ucap Andre sambil mengelus lembut punggung anaknya.
"Nggak mau lihat, takut... Jangan pukul, kaki Arnold sakit" ucap lirih Arnold sambil menangis.
Nadia begitu tak tega dengan apa yang terjadi pada Arnold saat ini. Ternyata anaknya ini masih mengalami trauma jika bertemu dengan yang berhubungan tentang kejadian waktu itu. Tadi saja saat melihat Nilam, wajahnya begitu ceria namun ketika memandang seragam yang dipakai langsung histeris. Kedua tangan Nadia mengepal dengan erat karena sepertinya hukuman untuk mantan guru itu harus diperberat mengingat kondisi anaknya yang seperti ini.
"Nggak akan ada yang memukul kaki Arnold lagi. Nih malah mau bunda cium kakinya" ucap Nadia sambil menahan tangisnya.
Cup... Cup... Cup...
Bahkan kini Nadia mempraktikkan dengan menciumi kaki Arnold berulangkali membuat semuanya terkekeh pelan. Hal ini membuat suasana yang tadinya sedikit tegang perlahan mulai mencair. Terutama Alan yang kini mulai mau mendekat kearah kakaknya kembali.
"Ana ini yan akit, bial Alan elus dan ium agal cakitna belkulang" ucap Alan dengan semangat.
Cup... Cup... Cup....
Alan mengecupi kaki Arnold seperti yang dilakukan oleh Nadia. Bahkan ia juga mengelus kaki kakaknya itu dengan lembut. Perlahan namun pasti, Arnold sudah tampak tenang bahkan hanya tersisa isakan lirihnya saja. Sesuai perkataan dokter, bahwa mereka harus menciptakan suasana yang aman dan nyaman kepada pasien agar anak itu tak tertekan mentalnya sehingga bisa kembali menguasai keadaannya sendiri.
"Ana agi yang pelu Alan ium. Umpung iuman Alan itu ndak bayal alias glatissssss" seru Alan smabil bertanya.
Semuanya terkekeh melihat kelucuan Alan dengan mimik wajah dan ucapannya yang begitu nyleneh. Namun hal ini cukup menghibur bahkan Arnold sudah tak lagi memberontak setelah ditenangkan oleh orangtua dan adiknya itu. Bahkan kini Arnold malah tertidur pulas dalam pelukan Nadia walaupun masih sedikit sesenggukan.
__ADS_1