Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kenyamanan


__ADS_3

Fikri duduk dengan canggung di ruang keluarga itu. Anara masih menatapnya penuh permusuhan, sedangkan Arnold bermain dengan Alan. Ia ingin bergabung dengan kedua adik Anara namun masih takut jika mereka tak mau menerimanya karena sudah menyakiti saudaranya. Ia jadi bingung sendiri akan melakukan apa disana, pasalnya semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


"Bang culang" seru Alan tak terima ketika melihat Arnold sepertinya curang ketika bermain.


"Mana ada? Kalau kalah ya kalah aja dong, jangan nuduh abang curang" ucap Arnold tak terima dituduh.


Ia mulai memperhatikan perdebatan seru antara kakak beradik itu. Ekspresi Fikri mulai berubah-ubah bahkan sering menahan tawa karena melihat wajah gemas Arnold dan Alan yang ternyata begitu lucu jika sedang kesal. Fikri memanglah anak tunggal dari pasangan orangtua yang sibuk mengejar karir sehingga dia jarang merasakan kasih sayang.


Kehidupannya diisi oleh kesepian karena di rumah hanya ada pembantu dan sopir yang jarang bisa bermain dengannya. Terlebih mereka disibukkan dengan segudang pekerjaan rumah membuat Fikri akhirnya berbuat ulah di sekolah agar teman-teman dan gurunya lebih memperhatikannya. Namun bukannya diperhatikan, mereka bahkan menjauhinya.


"Fikri, gabung gih sama mereka" ajak Mama Anisa kepada teman cucunya yang sedari tadi hanya memperhatikan saja.


Namun Fikri hanya menggelengkan kepalanya kemudian menundukkannya sedikit. Pasalnya ia merasa malu karena ketahuan memperhatikan tingkah kedua bersaudara itu. Terlebih kini Arnold dan Alan langsung memperhatikan wajah Fikri dengan seksama.


"Cini kak Ikli" ajak Alan tiba-tiba.


Bahkan Alan langsung berdiri dan berjalan kearah Fikri kemudian menarik tangan bocah laki-laki itu. Mau tak mau Fikri berdiri kemudian berjalan mendekat kearah Arnold yang masih menatapnya penuh selidik. Fikri duduk disamping Arnold yang menatapnya tajam membuat bocah kecil itu sedikit takut.


"Matanya jangan melotot kaya gitu dong. Nanti kalau keluar bisa dijadiin soup mata" ucap Fikri asal untuk mencairkan suasana.


"Iya, habis itu dimakan sama Alan soupnya" ucap Arnold menimpali.


Hahahaha...


Keduanya tertawa bersama saat mendengar ucapan mereka yang ternyata sangat aneh. Sedangkan Alan yang namanya disebut tentunya kesal. Ia baru pertama kali ini mendengar adanya soup mata yang bisa dimakan. Soup yang ia ketahui adalah berisi sayuran lengkap dan ada bakso juga sosisnya.

__ADS_1


"Angan cuka ohong cama nanak ecil ya. Cup itu icina sayul cama cocis, ukan ata olang" protes Alan dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kak Ikli halusna elain Alan lho tan adi yan jak kecini tu aku, ukan bang" lanjutnya.


Alan protes karena Fikri ternyata lebih membela kakaknya daripada dirinya. Padahal ia merasa jika tadi yang mengajak Fikri bergabung adalah dirinya, namun ternyata laki-laki itu malah lebih akrab dengan kakaknya. Tanpa mempedulikan ucapan Alan, Arnold dan Fikri melanjutkan acara bermainnya. Hal ini membuat Alan uring-uringan bahkan sering mengganggu keduanya saat bermain.


"Alan, jangan gangguin abang dong. Nanti abang kalah ini" ucap Arnold menegur adiknya.


"Bialin, bial alah cekalian. Olang usil, ahil, dan ahat itu eman antas alah" ucap Alan tak peduli.


Benar saja karena tak konsentrasi dalam bermain membuat Arnold kalah dari Fikri. Fikri tentunya bersorak gembira karena berhasil memenangkan permain ular tangga itu. Arnold menatap kesal kearah Alan yang kini bergulingan diatas karpet sambil meminum susu melalui dotnya.


"Tuh kan, abang jadi kalah. Pokoknya Alan harus ganti rugi" kesal Arnold.


Mama Anisa yang melihat perdebatan antara cucunya itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Mama Anisa segera menyuruh mereka untuk mandi terlebih dahulu karena waktu sudah menunjukkan sore hari. Sedangkan Fikri kini kebingungan karena tak membawa pakaian ganti.


"Nenek, Fikri nggak bawa baju ganti" ucap Fikri sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Pakai baju Arnold aja" ucap Arnold mengusulkan karena sepertinya dia sudah mulai akrab dengan Fikri.


"Mana bisa, nak. Kalau Fikri itu kan tumbuhnya keata, kalau kamu kedepan" ucap Mama Anisa sambil tertawa.


Memang benar jika Arnold itu bajunya longgar karena perutnya yang membuncit. Jika memakai bajunya, tentu akan kelihatan cingkrang. Akhirnya Fikri memakai baju milik Andre dulu saat remaja yang masih disimpan Mama Anisa. Walaupun masih kebesaran di badannya, namun ini jauh lebih baik daripada menggunakan baju milik Arnold.


Namun ada yang membuat Mama Anisa heran, pasalnya saat ini Fikri masih menggunakan seragam sekolahnya namun Arnold tak merasa ketakutan sama sekali. Mama Anisa berpikir jika trauma Arnold itu hanya akan muncul jika melihat seragam sekolah TK nya dulu saja. Ia harus memberitahukan ini kepada suami dan anak-anaknya nanti.

__ADS_1


"Rasanya aku tak ingin kehangatan dan keramaian ini berakhir, Tuhan" batin Fikri yang merasakan kenyamanan berada di keluarga ini.


***


"Fikri, pulang nanti diantar sama Om Andre ya" ucap Nadia dengan lembut.


Setelah makan malam berakhir, mereka semua duduk di ruang keluarga untuk sekedar berbincang santai. Bahkan Andre dan Papa Reza yang diceritakan mengenai kejadian hari ini pun awalnya sangat marah, namun Nadia sudah menjelaskan semuanya jika Fikri tak sepenuhnya bersalah. Akhirnya mereka menikmati makan malam itu dengan santai tanpa ada canggung sama sekali, terlebih tadi Fikri juga sudah minta maaf.


Namun Nadia dan keluarganya masih bingung dengan Fikri yang tampak santai berada di rumah mereka. Tak ada juga ponsel Nadia berbunyi karena ada seseorang yang menghubungi mencari keberadaan Fikri. Padahal ia tadi sudah sempat berbicara pada satpam sekolah untuk memberikan nomor ponselnya jika ada yang mencari keberadaan bocah laki-laki itu.


"Fikri nggak mau pulang. Nginap disini saja" ucap Fikri dengan santainya.


Tentu orang dewasa disana terkejut dengan jawaban dari Fikri. Nadia hanya menduga jika Fikri memang sedang ada masalah dengan orangtuanya, terlebih saat tadi siang dengan santainya meminta guru untuk memanggil orangtuanya. Ia tak takut sama sekali jika kedua orangtuanya marah saat mereka dipanggil ke sekolah. Nadia juga tak yakin jika Fikri sudah meminta ijin pada kedua orangtuanya untuk bermain di rumahnya.


"Wah... Akhirnya Arnold punya teman buat main game lagi" seru Arnold bahagia.


"Nak aja, tlus nacib Alan dimana talo bang ain cama kak Ikli?" tanya Alan dengan tatapan sedihnya.


"Alan main boneka saja sama kak Nara dan kak Bel. Soalnya Alan belum ngerti permainan anak gede" ucap Arnold dengan santainya.


Alan hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal karena dianggap sebagai anak kecil oleh kakaknya itu. Ia juga tak mau bermain boneka yang notabene untuk anak perempuan. Sedangkan orang dewasa hanya bisa geleng-geleng kepala dengan keriuhan keduanya itu yang tak mau saling mengalah.


"Fikri harus tetap pulang karena nanti orangtuanya pasti khawatir. Besok Fikri bisa main kesini lagi, kalau pulang sekolah bisa ikut satu mobil dengan Anara dan Abel" ucap Nadia mencoba membujuk.


Dengan pasrah, Fikri menganggukkan kepalanya. Setelahnya ia segera membereskan barangnya kedalam tas kemudian bersiap pulang dengan diantar oleh Andre.

__ADS_1


__ADS_2