
"Siapa yang kamu sebut Michael, nak?" tanya Nadia dengan lembutnya.
Bahkan kini Nadia telah berjongkok didepan gadis kecil yang tadi suap-suapan dengan Alan itu. Terlihat sekali jika gadis kecil didepannya ini begitu pemberani bahkan siap pasang badan demi Alan. Gadis kecil tomboy yang bahkan rambutnya saja dipotong pendek seperti Nadia yang berkaca pada masa anak-anaknya dulu.
Gadis kecil yang belum ia ketahui namanya itu menunjuk kearah Alan yang kini menampilkan senyum kikuknya. Bahkan Alan terlihat salah tingkah karena ulahnya diketahui oleh sang bunda dan kakaknya. Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang begitu aktif dan luar biasa itu.
"Dia namanya Alan, bukan Michael. Mungkin itu nama tukang cilok didepan sekolah kali yang namanya Michael" ucap Nadia memberi pengertian dengan melirik sinis kearah Alan.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya kemudian membalikkan badannya menghadap kearah Alan. Sambil berkacak pinggang, gadis kecil itu memarahi Alan karena telah membohonginya.
"Wohhh... Tamu ohongin atu ya? Glacia ndak cuka diohongin" ketus gadis kecil yang ternyata bernama Gracia itu.
"Mamapkan daku, Cia tu. Atu ndak makcud ohongin amu. Alan ilap" ucap Alan dengan tatapan permohonan.
Bahkan kini kedua tangan kecilnya sudah menangkup didepan dadanya pertanda bahwa Alan merasa bersalah dan ingin meminta maaf. Namun Gracia sudah memalingkan mukanya pertanda tak mau memaafkan Alan. Melihat adegan itu pengasuh Gracia dan Nadia hanya bisa menahan tawanya. Sungguh ini hal yang menggelikan bagi keduanya.
"Ilap... Ilap... Aki-aki emang cuka ditu, anti talo ilap bica ketelusan" ucap Gracia dengan sinis.
"Sudah... Gracia maafkan Alan yang memang sangat usil ini ya. Besok-besok jangan terlalu percaya sama ucapannya" ucap Nadia sambil terkekeh geli.
Bukannya membantu Alan, namun Nadia seakan menumpahkan bensin diatas api yang membara. Hal ini membuat Alan menatap tajam kearah Nadia hingga dibalas senyum mengejek oleh wanita dewasa itu. Gracia yang juga polos pun menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan Nadia.
"Becok-becok Glacia ndak atan udah pelcaya cama momongan aki-aki" ucap Gracia penuh keyakinan.
__ADS_1
"Pa agi tayak Alan" lanjutnya.
Nadia mengangguk dengan begitu antusias mendengar ucapan Gracia. Sedangkan Alan hanya bisa melongo tak percaya mendengar ucapan sahabat barunya itu. Baru juga berkenalan namun sudah dimusuhi sendiri oleh teman pertamanya itu. Sedangkan Arnold dan Nilam hanya duduk di kursi yang tersedia disana menyaksikan adegan seru itu.
"Unda nih... Melucak pelcahabatan ang balu telbentuk. Alan ndak like" kesal Alan pada sang bunda.
"Alan ndak oleh malah-malah cama undanya. Yang melucak pelcahabatan ita itu Alan cendili lho talna cudah belani belbohong" ucap Gracia menasihati sekaligus menyalahkan Alan.
Alan yang dimarahi begitu pun hanya bisa menganggukkan kepalanya lesu. Biasanya dia akan pintar berbicara dan memberi alasan kini harus mati kutu didepan sahabat barunya. Nadia tersenyum penuh kemenangan saat ada seseorang yang membelanya bahkan membalas ucapan Alan.
Akhirnya Nadia berpamitan kepada Gracia dan pengasuhnya itu karena hari sudah beranjak siang. Arnold dan Nilam bahkan kini sudah berjalan kearah parkiran, sedangkan Alan sendiri masih ingin berada disana berbincang dengan Gracia.
"Alan ndak mau ulang, unda. Dicini aja cama Cia" tolak Alan yang diajak pulang.
"Nggak bisa, nak. Kan kalian harus makan dan tidur siang nantinya. Ayo pulang" bujuk Nadia dengan lembut.
"Unda, inta nomol hp te pengacuhna Cia. Bial ntal Alan bica pidio cal" lanjutnya menyuruh Nadia.
Nadia hanya bisa menghela nafasnya kesal mendengar perintah dari anaknya yang bagaikan seperti bos itu. Nadia pun segera menyerahkan ponselnya kepada pengasuh Gracia yang kemudian diketikkan sebuah nomor jika ingin menghubunginya. Setelahnya Nadia menggandeng tangan Alan agar segera bisa pulang.
Saat berjalan kearah parkiran, Alan selalu melambaikan tangan dan melihat kearah Gracia berulangkali. Hal ini membuat Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia sampai berpikir dosa apa yang ia buat hingga kedua anak laki-lakinya itu bisa cepat sekali dalam urusan cewek.
***
__ADS_1
"Unda, anti cebelum idul ciang ita tepon Cia ulu ya" ucap Alan dengan tatapan penuh harap.
Sudah satu jam semenjak mereka sampai di rumah keluarga Farda setelah menyelesaikan pendaftaran sekolah Arnold dan Nilam. Bahkan sedari di mobil saat perjalanan pulang hingga kini sudah tak terhitung lagi berapa kali Alan meminta untuk ditelfonkan Gracia. Bahkan kini mereka sedang ada di meja makan dan lagi-lagi Alan memintanya.
"Iya. Tapi jawab dulu pertanyaan bunda. Kok kamu bisa memperkenalkan diri kamu dengan nama Michael?" tanya Nadia penasaran.
Sedari tadi di sekolah ia begitu penasaran dengan anaknya yang menggunakan nama lain. Hal ini sebenarnya terdengar lucu, namun Nadia berpikir dia harus meluruskan pikiran anaknya itu agar tak berbohong lagi.
"Bial kelen, unda. Glacia amana tan udah tayak olang lual egli, bial Alan uga ditu ya patena Michael. Telen tan unda?" ucap Alan dengan berbangga hati.
Nadia hanya bisa mengelus dadanya sabar sambil geleng-geleng kepala mendengar ucapan Alan itu. Aneh-aneh saja anaknya ini. Nadia kemudian beralih menatap Arnold yang masih fokus pada makanan yang ada didepannya ini. Terlihat sekali jika anaknya ini menjadi lebih pendiam setelah kejadian itu.
"Abang, jangan diam saja dong. Ayo bicara dan bercanda kaya dulu lagi" ucap Nadia tiba-tiba.
Alan langsung mengalihkan pandangannya kearah sang kakak, sedangkan Arnold menegakkan badannya sebentar kemudian mengambil air minum didepannya. Arnold menatap mata sang bunda yang melihatnya dengan pandangan penuh harap.
"Iya abang, angan iam aja tayak atung don. Ayo awel agi" ucap Alan menyemangati.
Arnold tersenyum tipis kemudian menatap sang bunda dan adiknya secara bergantian. Ia memang ingin kembali ceria seperti dulu lagi namun ada sesuatu yang masih mengganjal mengenai pikirannya.
"Nanti kalau abang bawel kasihan bunda. Udah Alannya bawel dan berisik, ditambah Arnold. Kasihan bunda jadi kerepotan" ucap Arnold memberi alasan.
Nadia yakin jika itu bukan lah alasan sesungguhnya namun ia menghargai ucapan anaknya. Sedangkan Alan yang merasa disalahkan hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal. Akhirnya Alan hanya diam saja daripadananti merepotkan sang bunda seperti apa yang diucapkan sang abang.
__ADS_1
"Abang dan adek nggak pernah ngrepotin bunda lho. Malah bunda senang kalau kalian bawel, suasana rumah jadi ramai" ucap Nadia sambil terkekeh geli.
Arnold menganggukkan kepalanya mengerti. Ia akan sebisa mungkin menghilangkan pikiran-pikiran anehnya agar keluarganya tak khawatir dengan kondisinya saat ini. Lagi pula ini hanya soal waktu saja untuknya bisa kembali seperti dulu.