Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Harus Diam-Diam


__ADS_3

"Kalian tadi kemana saja? Kok sampai hampir sore begini baru pulang" tanya Andre dengan raut khawatir.


Tadi mereka hanya berpamitan untuk pergi dan berjanji akan pulang sebelum jam makan siang. Namun pada faktanya mereka pulang hampir sore hari karena mampir makan siang dulu. Tadinya mereka mau pulang saat jam makan siang namun Alan dan Arnold ingin makan soto didekat taman kota.


Alhasil mereka menuruti apa yang diinginkan oleh Alan dan Arnold itu sehingga pulang hampir sore hari. Andre dan Papa Reza khawatir jika terjadi sesuatu dengan keluarga mereka terlebih diantara ketiganya tak ada yang bisa dihubungi.


"Maaf, pa. Tadi kita mampir makan siang dulu di taman baru pulang" ucap Nadia menjelaskan.


"Tapi kan tadi kalian berangkat agak pagian? Memang selama itu di luar hanya di taman" ucap Andre meminta penjelasan.


Nadia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung bagaimana menjelaskannya. Tadi ketiganya sudah diberi peringatan oleh Alan dan Arnold untuk tak mengungkit kegiatan mereka tadi. Namun ia juga tak kuasa berbohong kepada suaminya itu, apalagi Andre adalah orang yang tak suka kebohongan.


"Papa ndak ucah anya-anya itu cama unda. Agian unda uga pelgina cama ita, ndak ada wowok ain" ucap Alan mencoba mengalihkan perhatian.


"Biasa... Papa kan posesif, takut bunda diambil sama Parno" ucap Arnold sedikit meledek.


Andre mendengus kesal atas apa yang diucapkan oleh kedua anaknya itu, terutama Arnold yang menyebut tentang Parno lagi. Padahal ia sudah hampir lupa dengan laki-laki yang dulu menjadi rival abadinya untuk memperebutkan hati Nadia itu.


Mama Anisa an Nenek Hulim tertawa melihat kepasrah Andre yang kini tak bisa berucap apapun. Andre paling kesal jika sudah ada yang menyebut nama Parno. Papa Reza hanya diam saja namun matanya menatap menyelidik pada ketiga wanita itu yang sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu.


"Palno capa?" tanya Alan dengan tatapan penasaran.

__ADS_1


"Pacar bunda" jawab Arnold asal.


Arnold bahkan sampai saat ini masih mengingat tentang Parno yang dulunya hampir saja bertengkar dengannya. Bahkan kedua orangtua Parno yang ia tendang kakinya karena kesal bundanya dihina. Semua memori tentang Parno itu masih tersimpan dalam otaknya, bahkan bocah kecil itu kadang juga masih kesal dengan apa yang terjadi dulu.


"Wah... Unda udah unya papa tapi unya pacal? Hebat..." seru Alan sambil bertepuk tangan.


Andre menjatuhkan rahangnya mendengar pernyataan dari Alan. Ia kira Alan akan memarahi bundanya kemudian membelanya namun ternyata malah bertepuk tangan kegirangan. Bahkan kini ia memuji bundanya hebat karena punya pacar dan suami. Semua orang dewasa yang ada disana tertawa melihat tingkah lucu Alan dan wajah masam dari Andre.


"Udah yuk... Mandi lalu kita jemput kakak-kakak kalian" suruh Nadia.


Alan dan Arnold menganggukkan kepalanya mengerti kemudian mereka berjalan pergi bersama dengan Nadia. Sedangkan Andre dan Papa Reza langsung keluarga diikuti oleh Mama Anisa juga Nenek Hulim. Anara, Abel, dan Fikri memang pulang sore hari karena ada esktrakurikuler yang wajib mereka ikuti.


***


Mama Anisa dan Nenek Hulim saling pandang seakan mereka tengah berdiskusi apakah akan memberitahu kebenarannya atau menyimpannya sendiri. Tetapi jika memang akan memberitahu sebenarnya maka mereka harus siap dengan kemarahan Arnold dan Alan jika mengetahuinya.


"Nenek dan unda, angan ilang-ilang talo tita nakuin ini ya. Wawas ja talo ilang capa-capa, ita ambek" ancam Alan.


"Iya, nggak boleh bilang siapapun karena melakukan kebaikan itu harus diam-diam. Kalau semua orang tahu ntar dikiranya pamer" ucap Arnold menambahkan.


Sekarang keduanya menjadi bimbang antara memberitahu Andre dan Papa Reza atau tidak. Terlebih mereka sudah berjanji pada dua bocah kecil itu. Papa Reza dan Andre semakin curiga dengan gerak-gerik keduanya terlebih tadi laki-laki paruh baya itu mendapatkan notifikasi pembayaran lewat ponselnya yang menggunakan kartu ATM sang istri. Namun jika mereka berbelanja, pasti ada barang yang dibawa pulang namun ini sama sekali tak terlihat apapun.

__ADS_1


"Ma, papa nggak suka ya kalau mama sembunyiin sesuatu. Tadi juga papa dapat notifikasi pemakaian uang di ATM mama habis puluhan juta lho. Mana barang yang mama beli?" tanya Papa Reza dengan mimik wajah seriusnya.


Mama Anisa menghela nafasnya pasrah jika nanti kejujurannya ini menimbulkan kemarahan bagi Alan dan Arnold. Namun ia juga tak mungkin jika harus membohongi suaminya yang tahu kalau tadi melakukan transaksi di kartu ATM nya.


"Tadi kami beli mainan anak-anak, pa" ucap Mama Anisa dengan hati-hati.


Andre dan Papa Reza mengerutkan dahinya heran karena Mama Anisa terlihat ragu-ragu. Terlebih mainan apa yang dibeli kedua cucunya itu hingga tak ada orang yang diperbolehkan untuk tahu. Mereka berdua juga tak melihat adanya mainan yang dibawa oleh kedua cucunya jika memang ada yang dibeli.


"Tapi mainan itu bukan untuk cucu kita melainkan dibagi sama anak-anak kurang mampu" lanjutnya sambil menyerahkan ponselnya.


Papa Reza mengambil ponsel yang disodorkan oleh istrinya itu. Terlihat disana ada sebuah video mengenai kegiatan kedua cucunya tadi yang memang sengaja Mama Anisa abadikan. Hanya untuk kenang-kenangan saja karena keduanya sudah memperingatkan untuk menyembunyikan semua kegiatannya ini.


Andre dan Papa Reza yang melihatnya pun begitu terharu dengan apa yang dilakukan oleh kedua cucunya itu. Apalagi saat mereka mau mendekat kearah tempat-tempat yang kotor dan dekat dengan sampah. Ingin sekali keduanya yang mendampingi untuk melakukan kebaikan ini namun ternyata cucunya malah tak mengajaknya.


"Maaf ya, pa. Kalau uangnya dipakai banyak buat itu" ucap Mama Anisa tak enak hati karena menggunakan uang tanpa seijin suaminya.


"Tak apa, ma. Justru papa senang karena uang yang dihasilkan ternyata bermanfaat untuk oranglain" ucap Papa Reza dengan mata yang berkaca-kaca.


Andre benar-benar tak menyangka dengan pemikiran ajaib dari dua anak laki-lakinya itu. Kebaikan hati dan kecerdasan pikirannya itu membuatnya banyak belajar. Ia yakin jika besar nanti pasti keduanya bisa dijadikan pondasi untuk menjaga keluarganya dan orang-orang disekitarnya.


"Hayooo... Pada nomongin Alan dan bang Anol ya?" seru Alan tiba-tiba ditengah keharuan dan keheningan itu.

__ADS_1


Semua yang ada disana menatap kearah Alan dan Arnold yang sudah tampak rapi dengan pakaiannya. Mereka berdua menatap menyelidik kearah Mama Anisa dan Nenek Hulim yang kini langsung mengalihkan pandangannya dari kedua bocah cilik itu. Sedangkan Papa Reza dan Andre langsung berdiri kemudian memeluk keduanya dengan erat.


__ADS_2