
Nadia berjalan dengan cepat bersama ketiga anak Andre yang sedang berlarian didepannya. Bukan bermaksud untuk mengajak anak-anak kecil itu lari-larian, namun entah mengapa perasaannya sedang tidak enak saat ini dan sedari tadi dirinya selalu memikirkan Andre. Nadia melihat ketiga anak Andre yang terlihat ceria sambil main kejar-kejaran didepannya.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Nadia dan ketiga anak Andre sampai didepan rumah keluarga Farda. Saat sampai disana ia melihat ada Andre yang berada di halaman rumah sedang berdebat dengan seorang laki-laki yang sangat ia kenali. Namun dari arah dalam rumah juga terlihat Mama Anisa dengan wajah marahnya berjalan cepat menuju kearah Andre dan laki-laki itu.
"Parno..." seru Mama Anisa dari dalam rumah.
Parno yang tadinya akan berjalan pergi dari hadapan Andre langsung saja menghentikan langkahnya. Ia menatap seorang wanita paruh baya yang tengah memanggilnya, sesaat dia terdiam mengingat siapa perempuan itu. Saat mengingatnya, Parno memelototkan matanya karena kini dia tengah berhadapan dengan ibu dari Andre.
"Mampus, macan jantan nggak bisa apa-apa kini giliran macan betina yang bertindak. Bisa bonyok ini muka David yang ganteng kalau nggak keburu kabur dari sini" batin Parno dengan panik.
Nadia yang akan memanggil Parno pun ternyata keduluan dengan Mama Anisa yang datang dari dalam rumah. Walaupun Nadia dan Mama Anisa datang terlambat, namun mereka masih mendengar ucapan terakhir Parno yang menghina Andre sehingga itu membuat keduanya tak terima.
Nadia yang melihat Parno akan kabur ketika Mama Anisa menuju kearahnya pun dengan sigap berlari mendekat kearah laki-laki itu. Ia segera menarik kerah belakang baju Parno sehingga membuat laki-laki itu jalan ditempat.
"Eh... Siapa nih? Lepasin nggak" seru Parno panik sambil terus berusaha untuk berlari.
Parno tidak mengetahui jika yang berada dibelakangnya dan menarik kerah bajunya adalah Nadia. Parno terus berusaha melepaskan diri namun tak juga berhasil sampai Mama Anisa berada dihadapannya. Sedangkan ketiga anak Andre tengah melihat pemandangan itu dengan terkikik geli.
"Dasal paman ahat, cukanya nomongin julid entang papa" seru Arnold tak terima.
Walaupun dia masih kecil, namun Arnold sudah mengerti tentang ucapan Parno yang tadi mengejek papanya. Tidak boleh ada yang menghina keluarganya terutama papanya. Parno yang melihat adanya ketiga anak Andre pun langsung memelototkan matanya tajam, namun mereka tak takut dengan itu.
__ADS_1
"Mbok Imah, bawa anak-anak kedalam" perintah Mama Anisa saat melihat Mbok Imah dan satpam yang berjaga dirumahnya telah pulang dari supermarket.
Mbok Imah segera membawa ketiga anak Andre masuk kedalam rumah. Walaupun tadi Arnold sempat memberontak dan menolak, namun Mama Anisa berhasil membujuknya dengan membisikkan sesuatu di telinganya tentang Abel yang nanti akan menangis. Setelah Mbok Imah berhasil membawa ketiga anak Andre masuk, akhirnya Parno yang sedari tadi sudah ketakutan pun menengok ke belakang untuk melihat siapa orang yang sedari tadi menarik kerah bajunya.
"Nadia..." kaget Parno saat melihat yang ada dibelakangnya adalah gadis pujaan hatinya.
"Apa lihat-lihat? Mau gue colok tuh mata biar buta" ketus Nadia.
Parno yang direspon seperti itu oleh Nadia pun seketika menundukkan kepalanya. Saat melihat Nadia tadi sebenarnya dia sudah berharap kalau gadis itu akan membantunya lepas dari Mama Anisa, namun pada faktanya adalah dia kini dihadapkan oleh dua macan betina.
"Kamu udah bosan hidup hina-hina anakku? Laki-laki kok mulutnya julid" ucap Mama Anisa dengan mata menatap tajam.
"Lho... Dia kan bukan laki-laki, tante. Dia itu setengah laki-laki, setengahnya perempuan" ucap Nadia dengan polosnya.
"Salah, tante. Dia siangnya jadi cewek makanya tuh mulutnya suka julid kaya ibu-ibu yang lagi belanja dipedagang sayur. Kalau malamnya jadi cowok soalnya suka nongkrong sama preman-preman" ledek Nadia.
Parno yang merasa dipermalukan pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Walaupun apa yang dikatakan oleh Nadia dan Mama Anisa itu adalah kebenaran, namun tetap saja dia merasa marah.
"Kok Nadia jahat banget sih mulutnya? Ngatain Parno kaya gitu" ucap Parno tanpa merasa bersalah.
"Sadar... Mulut anda itu jauh lebih jahat, ngatain orang yang sedang sakit dengan sebegitunya. Kau pikir orang yang kau hina itu nanti psikisnya nggak terganggu? Kau nggak tahu bagaimana keluarganya berusaha menguatkan dia agar segera bangkit, namun dengan mudahnya kau menghancurkan usaha mereka" ucap Nadia kesal bukan main.
__ADS_1
Nadia dan Mama Anisa benar-benar heran dengan pikiran manusia sejenis Parno ini yang sudah jelas-jelas bersalah namun dirinya malah berlagak seperti korban. Emang dasar tukang playing victim.
"Sudahlah, Nad. Percuma kita ngomong panjang lebar sama orang kaya dia ini. Bukannya dia paham, malah buat kita darah tinggi" pasrah Mama Anisa.
Nadia hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Mama Anisa. Sedari tadi semua yang dilakukan oleh Nadia dan Mama Anisa yang membela Andre itu pun dilihat oleh laki-laki itu. Ia merasa terharu bahwa ada kekasih dan mamanya yang menjadi garda terdepan untuknya tanpa rasa malu. Disini malah Andre yang malu pada dirinya sendiri karena tidak berguna untuk menjaga kekasih dan mamanya.
"Kita apain nih bagusnya, Nad? Biar dia kapok dan nggak gangguin keluarga kita lagi" ucap Mama Anisa sambil memikirkan berbagai rencana.
"Kita jahit aja mulutnya gimana, tante? Biar dia nggak bisa julid lagi" ucap Nadia dengan kilatan sadisnya.
Parno dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menatap Nadia dengan tatapan memelas. Bahkan kini ia sudah mengeluarkan air matanya agar kedua perempuan yang ada didekatnya itu kasihan terhadapnya. Namun tentunya kedua perempuan itu tidak akan mudah luluh dengan tatapan membual seperti itu.
"Yah... Nangis, mana nih nyalinya tadi waktu menghina calon suamiku?" ejek Nadia.
"Belum diapa-apain kok udah nangis, ntar kalau kita jahit tuh mulutnya bisa ngompol jangan-jangan nih orang" timpal Mama Anisa.
"Nadia, tante... Tolong lepasin David dong. David minta maaf karena tadi nggak sengaja jelek-jelekin dia" ucap Parno dengan memelas.
"Dih... Nggak sengaja kok ngomongnya lancar amat. Udah keseringan ya tuh mulut buat hina orang" ketus Nadia.
Parno sudah tak bisa berkata-kata lagi, ia selalu kalah jika sudah adu mulut dengan Nadia. Bahkan kini laki-laki itu sudah menangis tersedu-sedu karena ketakutan jika nanti mulutnya dijahit benaran sama dua perempuan didekatnya ini. Sedangkan Nadia dan Mama Anisa masih menatap mangsanya dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
Andre yang melihat sifat Nadia dan Mama Anisa hampir sama pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tak bisa membayangkan dengan apa yang akan terjadi pada Parno.