
Setelah bertemu dengan ibu-ibu yang sedang berkumpul didekat pedagang sayur, Nadia segera berjalan kembali kearah Mama Anisa yang masih duduk setia di gerobak motornya. Bahkan Mama Anisa dengan percaya dirinya sejak tadi tampil dengan kacamata hitam elegannya. Ia tak malu sama sekali kalau seandainya nanti bertemu dengan teman-temannya saat berada diatas gerobak. Penampilannya yang sangat anggun hingga menampilkan kelasnya membuat ia tak bisa dipandang sebelah mata hanya karena menaiki sebuah gerobak sayur.
Tanpa mengucapkan apa-apa, Nadia segera naik keatas motor dan menyalakan kembali kendaraannya itu. Nadia segera melajukan motornya untuk menuju rumah Aneta sesuai dengan maps yang diarahkan oleh Mama Anisa. Setelah beberapa saat, Nadia menghentikan laju kendaraannya tak jauh dari rumah Aneta.
Keduanya turun dari kendaraan dengan Mama Anisa yang membenahi posisi kacamata hitamnya, sedangkan Nadia merapikan kaosnya. Keduanya berdiri menatap rumah paling ujung dan mewah diantara yang lainnya dengan seringaian sinisnya. Mereka benar-benar ingin segera mencabik-cabik wajah orang yang telah menyiksa Abel.
"Apa kamu siap untuk memorak porandakan rumah dan juga wajah wanita-wanita ular itu?" tanya Mama Anisa.
"Siappp... Kita akan membumihanguskan orang-orang tak berguna itu" seru Nadia.
Kedua mata wanita itu terlihat sangat bengis dengan berbagai rencana yang telah tersusun rapi didalam otak mereka. Tak lama mereka berdiri, beberapa ibu-ibu datang kearah Nadia dan Mama Anisa dengan beberapa peralatan dapur seperti spatula, wajan, panci, pisau, dan ulekan. Bahkan ada yang membawa galon air mineral kosong dan ember berisi air.
Mama Anisa yang melihat kedatangan ibu-ibu sekitar, matanya berbinar cerah bahkan kini isi di kepalanya sudah tersedia berbagai ide gila yang siap ia eksekusi. Mama Anisa sangat memuji kecerdasan Nadia yang membawa ibu-ibu yang merupakan tetangga dan juga beberapa pekerja yang ada di perumahan tempat tinggal Aneta. Setelah semuanya berkumpul, mereka berbondong-bondong berjalan menuju ke rumah Aneta dengan memperlihatkan wajah bengisnya. Jika dilihat dari jauh, mereka seperti gerombolan orang yang akan tawauran.
Sesampainya didepan rumah mewah keluarga Aneta, semua ibu-ibu memukulkan spatula pada panci, wajan, dan juga galon air sehingga menimbulkan suara yang begitu gaduh. Mama Anisa dan Nadia seketika berteriak sekencang-kencangnya agar Aneta dan para antek-anteknya keluar dari rumah sambil menggoyang-goyangkan pagar besi rumah.
"Aneta... Keluar kau" seru Mama Anisa.
Dung... Dung... Brak... Brak... Dung... Brak...
__ADS_1
"Keluar kalian orang-orang yang sudah menyiksa Abel kemarin. Sini keluar, kalau berani hadapi kami. Jangan beraninya sama anak kecil" seru Nadia.
Bunyi teriakan dan kegaduhan pukulan alat dapur membuat suasana diluar pagar rumah Aneta begitu ramai hingga mengundang beberapa maid dan bodyguard yang bekerja seketika keluar. Beberapa pekerja seketika terkejut melihat dua orang tak dikenal serta beberapa tetangga mereka melakukan aksi gaduh didepan rumah majikan mereka.
"Dasar wanita iblis, berani-beraninya melakukan kekerasan pada seorang anak kecil" seru salah satu ibu-ibu.
"Betul... Kalau bisa kita usir saja orang-orang itu karena mereka tak layak untuk hidup dilingkungan ini" seru ibu-ibu.
"Betullll" seru semuanya setuju.
Mama Anisa dan Nadia yang mendengarnya sangat bahagia karena banyak yang mendukung aksinya ini. Mereka berdua semakin yakin kalau keluarga suami Aneta akan malu terlebih kini banyak sekali orang-orang yang keluar dari rumah karena melihat aksi itu. Kini pekerja dan semua orang tahu kalau aksi itu dipicu karena adanya dugaan kekerasan yang dilakukan oleh keluarga Aneta kepada anak kecil yang tinggal disana. Salah satu maid yang bekerja di rumah Aneta segera masuk kedalam untuk memanggil sang majikan.
"Ibu-ibu, kalau mau demo jangan disini. Lebih baik kalian pergi dari sini" tegur bodyguard itu.
"Orang yang menjadi tersangka kasus ini adalah majikan kalian, masa iya kita mau demo didepan gedung DPR. Ya nggak nyambunglah" sewot Nadia.
"Peringatin tuh sama majikan anda, jangan suka menyiksa anak kecil. Anda juga bodyguard disini ngapain sih kerjanya sampai ada anak yang mengalami penyiksaan tapi didiamkan saja. Bukannya ditolongin malah melihatnya seperti sebuah hiburan" ucap Mama Anisa.
Para bodyguard itu seketika terdiam, pasalanya apa yang diucapkan oleh Mama Anisa adalah suatu kebenaran. Sebenarnya mereka ingin sekali membantu Abel, namun juga khawatir kalau akan dipecat jika menyelamatkan anak kecil itu. Terlebih mereka juga memikirkan keberlangsungan hidup keluarga dirumah jika dipecat dari pekerjaan.
__ADS_1
"Nggak bisa ngomong lagi kan? Dasar... Kalian itu sama dengan majikan dirumah ini, tak beradab dan tak punya hati" lanjutnya.
Para bodyguard menghiraukan segala cacian yang keluar dari mulut Mama Anisa karena sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Tak berapa lama, Aneta dan Sukma keluar dari rumah menuju kearah keramaian yang masih terus tercipta. Bahkan dari raut wajahnya, mereka begitu kesal karena telah dibangunkan dari tidur siangnya. Aneta belum menyadari adanya Mama Anisa yang sudah menatap sinis kearahnya.
"Ini dia yang kita tunggu-tunggu... Dua wanita yang suka menyiksa Abel... Aneta dan Sukma" seru Mama Anisa seperti menirukan gaya pembawa acara sebuah ajang kecantikan.
Mama Anisa mengenal Sukma namun tak tahu kalau dia adalah ibu mertua dari Aneta. Sukma ini juga merupakan musuh bebuyutan Mama Anisa ketika di lingkungan sosialitanya karena ia terus saja membuat masalah dengannya. Bahkan Sukma suka memamerkan barang-barang mewah yang selalu dibelinya membuat Mama Anisa muak. Gaya sombong nan angkuh dan selalu meremehkan oranglain membuat Sukma masuk ke dalam orang yang patut dihindari jika bertemu.
Mendengar seruan dari seseorang yang sangat mereka kenal, Aneta dan Sukma mengalihkan pandangannya kearah suara itu. Setelah tahu siapa orangnya, keduanya membelalak kaget karena orang yang tadi mereka ributkan sudah ada didepan mata. Keduanya menatap Mata Anisa dengan sedikit gemetaran terlebih wajah sang lawan benar-benar sangat mengerikan.
"Buka gerbangnya" seru Nadia.
"Jangan... Usir mereka" seru Aneta dan Sukma bersamaan.
Aneta dan Sukma segera menyuruh semuanya untuk diusir oleh bodyguard. Para bodyguard kebingungan harus melaksanakan perintah siapa karena kedua kubu sudah saling menampakkan wajah mengerikannya. Nadia dan Mama Anisa yang melihat para bodyguard hanya terdiam, seketika mencoba menggoyang-goyangkan pagar besi rumah Aneta lagi dengan sekuat tenaga.
***********************
Maaf belum bisa double update, sinyal WiFi suka hilang-hilang nggak jelas karena hujan terus. Jadi waktu ngetik kalimat yang udah diketik ilang-ilangan waktu save...
__ADS_1