
"Bahkan semua guru-guru itu yang dibawa buat saksi kedua pelaku saja melihat video CCTV asli setelah kejadian itu terjadi. Bukannya video CCTV itu tak mungkin bisa di edit dalam waktu satu jam an saja setelah kejadian? Jika memang kalian seorang pendidik, ajari diri kalian sendiri untuk tak berbohong dalam bersaksi" cecar Nadia.
"Ibu Hamid, anda adalah guru senior yang sudah mengenal keluarga saya seperti apa sejak dulu. Bahkan anda juga mengenal karakter Arnold yang dulu sering ke sekolah dengan kakak-kakaknya, apa mungkin jika anak saya itu melakukan hal yang tak terpuji karena sesuatu yang tak ada awalnya?" lanjutnya.
Ibu Hamid dan beberapa guru yang memang diminta keluarga untuk menjadi saksi yang meringankan kedua pelaku pun terdiam. Harga diri mereka sebagai seorang pendidik dipertaruhkan disini membuat hatinya bimbang. Bahkan ada beberapa guru yang langsung mengambil sesuatu dari tasnya dan mengeluarkannya.
"Ini saya kembalikan uang yang kalian beri agar saya bisa memberikan keterangan palsu. Saya lebih memilih menjadi orang biasa saja daripada kaya namun hasil dari tertawa diatas penderitaan oranglain" ucap Ibu Hamid menyerahkan satu amplop coklat berisi uang keatas meja.
Mama Anisa dan Nadia tersenyum sinis melihat apa yang dilakukan oleh Ibu Hamid. Ternyata dugaan pengacara keluarganya memang benar jika disini ada banyak kecurangan. Oleh karena itu lebih baik mereka merusak mental orang-orang curang itu agar dengan sendirinya mengaku.
"Maksud anda apa, bu? Saya tak pernah memberikan uang apapun kepada anda. Jangan sampai yang anda lakukan ini membuat semua orang berpikir kalau saya menyuap anda" seru Dinda tak terima.
"Wah... Romantis dong pakai acara suap-suapan segala" timpal Nadia sambil terkekeh pelan.
Ica dan Dinda benar-benar dibuat mati kutu oleh semua guru yang dibawanya untuk dijadikan saksi kalau perbuatan itu tak benar. Bahkan video viral yang beredar itu tak bisa dibantahkan lagi karena semuanya sudah mengatakan kalau itu adalah asli. Mereka semua juga mengembalikan uang yang diterimanya kepada keluarganya.
Sontak saja wajah keduanya pucat pasi karena kini semua polisi langsung berbalik mencatat semua yang kini dibicarakan. Keterangan semua saksi dicatat bahkan dilaporkan dalam berita acara. Sedangkan keluarga yang memberikan uang itu tentu akan dituntut karena melakukan tindakan menyuap dan menghalang-halangi pemeriksaan.
"Melalui semua keterangan dari para saksi dan beberapa ahli, sepertinya berkas acara dan yang lainnya sudah siap untuk dilimpahkan ke kejaksaan" ucap salah satu polisi menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Eitss... Enak saja sudah selesai" sela Mama Anisa.
"Harusnya polisi yang juga meragukan keluarga korban dan lebih berpihak pada pelaku harus dikenakan sanksi dong" seru Nadia tak terima.
Beberapa oknum polisi yang terlibat tentunya langsung terdiam. Bahkan beberapa guru yang memberikan keterangan juga langsung menuntut mereka diberikan sanksi yang sama yaitu diberhentikan sementara oleh pihak terkait. Bahkan beberapa petinggi dinas terkait juga tak tanggung-tanggung mendapatkan hukuman karena ingin menutupi kasus ini.
Kepala polisi yang sedari tadi disana hanya bisa menelan salivanya kasar. Ia tak menyangka jika beberapa anggotanya memperlakukan keluarga korban dengan tak baik bahkan terkesan meminta agar kasus ini diselesaikan dengan jalur damai. Memang selama ini dirinya tak fokus mengurus masalah ini dan meminta salah satu anggotanya untuk terjun langsung dalam kasus ini. Namun tak disangka jika semuanya berantakan dan malah berakibat mencemarkan nama baik suatu instansi.
"Kenapa? Apa saya salah bicara? Bukannya yang bersalah itu harus dihukum? Hukum itu jangan cuma tumpul keatas sedangkan runcing kebawah dong. Ini namanya nggak adil" lanjutnya dengan pedas.
Ucapan pedas dari Nadia dan Mama Anisa benar-benar membuat posisi mereka terpojok. Terlebih kasus ini melibatkan orang-orang besar dan pengusaha membuatnya disoroti oleh media nasional dan internasional. Hal ini juga yang nantinya akan membuat citra buruk suatu instansi jika tak diselesaikan dengan baik.
"Jangan asal iya saja, pak. Nanti di belakang beda lagi, saya akan pantau. Kalau sampai aksi beda dengan ucapan, saya laporkan ke menteri pertahanan biar tahu rasa" ucap Mama Anisa kesal.
Kepala polisi itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia tahu jika berurusan dengan pengusaha sekelas Andre tentunya membutuhkan tenaga dan otak lebih untuk mengurusnya. Makanya ia mencoba untuk profesional dalam segala hal yang berkaitan dengan semua kasus terutama yang menyangkut orang penting.
"Biar di dooorrrrrrr gitu kan, ma?" tanya Nadia dengan polosnya.
"Benar" seru Mama Anisa dengan semangat.
__ADS_1
Semua hanya bisa terdiam melihat kekompakan yang tercipta diantara keduanya. Ucapan pedas dan kalimat sarkas yang mereka ucapkan seakan menjatuhkan mental juga harga diri semuanya. Walaupun ucapannya benar namun terlihat sekali jika mereka semua sudah terbakar dengan amarah yang tiba-tiba muncul.
Akhirnya semua selesai, beberapa fakta yang terbongkar terutama kasus penyuapan untuk memberikan keterangan palsu terungkap. Hal ini menambah deret panjang masalah yang harus diurus pihak yang berwajib. Setelahnya Nadia dan Mama Anisa keluar dari ruangan itu diikuti oleh yang lainnya.
"Jangan harap hidup kalian akan tenang disini. Justru disinilah awal dari kehancuran kalian" ucap Nadia membisikkan sesuatu pada telinga Ica yang melewatinya.
Dinda yang juga mendengar ucapan seperti ancaman itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Nasib keduanya seakan menunggu waktu saja bahkan kini mereka hanya bisa pasrah karena semua saksi yang dibawa ternyata malah menyudutkannya.
Tekanan dari keluarga korban terutama ucapan berupa ancaman Nadia dan Mama Anisa juga tak bisa diremehkan. Akibat dari ide keluarga untuk tak mengaku perbuatan hingga menyuap beberapa orang disana ternyata menjadi boomerang untuk keduanya.
Tanpa mempedulikan wajah Dinda dan Ica yang sudah tampak pucat dengan tatapan frustasinya, Mama Anisa dan Nadia segera pergi dari kantor polisi. Bahkan mereka berdua meninggalkan Andre dan pengacaranya yang masih berbincang dengan instansi yang dibawanya tadi.
"Kita cari tahanan atau siapa lah gitu buat diajak kerjasama untuk menambah beban mental dan pikiran mereka" ucap Mama Anisa dengan sadisnya.
"Tungu dulu sampai persidangan dan pasti mereka akan masuk penjara yang mana, ma" ucap Nadia.
Mama Anisa dan Nadia sama-sama tak punya hati jika sudah menyangkut kenyamanan keluarganya. Terlebih Arnold yang kini sudah menampakkan perbedaannya tak sama seperti dulu, membuat keduanya tak terima dengan perlakuan orang-orang tal bertanggungjawab itu.
Keluarga juga harus memikirkan bagaimana masa depan Arnold yang tak mau sekolah. Bahkan melihat seragam saja dia sudah histeris apalagi dengan guru atau sekolahnya. Sungguh hal itu menjadi PR sekeluarga.
__ADS_1