Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Hari Berlalu


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, keadaan Nadia masihlah sama tak ada perubahan yang signifikan. Bahkan saat menginjak satu bulan Nadia terbaring koma, dokter pernah menyarankan untuk melepas semua alat-alat bantu yang ada di tubuh wanita itu. Ini dikarenakan sudah berulang kali Nadia mengalami kejang-kejang dan hilang denyut jantung juga nadinya. Hal itu tentu saja membuat Andre dan keluarganya yang lain tak terima.


“Kalau dalam waktu sampai akhir bulan ini tak ada perkembangan, kami sarankan untuk melepas semua alat-alat yang menempel pada tubuh pasien. Akan kasihan kalau pasien dipaksa untuk bertahan sedangkan kondisinya juga tidak memungkinkan. Bukannya kami pesimis, hanya saja kami tak ingin memberikan harapan palsu ekpada keluarga pasien” saran dokter waktu itu.


“Tidak. Kami takkan melepas alat-alat ditubuh istriku sampai dia tersadar” sentak Andre dengan tegas.


Andre bahkan kedua orangtuanya langsung saja menolak usulan itu. Mereka percaya kalau Nadia masih bisa bertahan walaupun untuk saat ini dibantu oleh alat-alat medis. Mereka takkan menyerah sampai alat itu tak berfungsi lagi di tubuh Nadia. Setiap harinya mereka selalu berdo'a agar Nadia segera sadar dan berkumpul bersama semua anggota keluarganya.


Semenjak saat itu dokter memutuskan untuk tetap memasang alat-alat di tubuh Nadia sesuai permintaan keluarga hingga saat ini. Walaupun mereka tak tahu kapan Nadia akan sadar namun sebagai keluarga tentu akan


mengupayakan yang terbaik demi kesembuhan wanita itu. Mereka belum siap kehilangan Nadia untuk selama-selamanya, terlebih anak-anaknya.


Perkembangan bayi laki-laki yang dilahirkan oleh Nadia waktu itu keadaannya sudah sangat membaik bahkan berat badannya berangsur naik. Bayi laki-laki itu diberi nama Alandra Listyo Farda atau dipanggil dengan Alan. Walaupun tak mendapatkan ASI dari ibunya, namun mereka bersyukur Alan bisa cocok dengan susu formula khusus.


Ketiga saudaranya begitu menyayangi Baby Alan bahkan selalu menjaganya dibantu dengan nenek dan kakeknya. Setelah pulang sekolah, pasti mereka akan langsung menemani adiknya bermain. Tak lupa juga mereka setiap


minggunya selalu menyempatkan untuk menjenguk bundanya di rumah sakit. Arnold juga masih ikut datang ke sekolah untuk menemani kedua kakaknya ditemani oleh Ibu Ratmi.


Dua bulan ini mereka jalani dengan seperti biasanya walaupun tanpa kehadiran Nadia yang biasa menemani. Namun Andre selama Nadia masih di rumah sakit, ia sangat jarang pulang ke rumah. Bahkan untuk berman dengan anak-anaknya pun seakan tak punya waktu. Setiap pulang dari kantor, ia selalu ke rumah sakit begitupun seterusnya.

__ADS_1


***


"Papa kemana sih, nek? Kok nggak pernah pulang, tiap ketemu pasti cuma di rumah sakit" gerutu Anara.


Saat ini Anara, Abel, Arnold, Mama Anisa, dan Ibu Ratmi ada di ruang keluarga. Semenjak Nadia masuk rumah sakit, kedua orangtua wanita itu tinggal di rumah keluarga Farda pasalnya mereka akan bergantian untuk menjaga cucu-cucunya.


"Papa kan harus jagain bunda di rumah sakit. Kalau pagi yang jaga kakek, malamnya gantian papa" ucap Mama Anisa memberi pengertian.


"Tapi apa papa ndak kangen sama Baby Alan? Abel belum pernah lihat tuh papa gendong adek" ucap Abel sedikit sedih.


Mama Anisa sedikit terdiam mendengar ucapan dari Abel. Dia juga menyesalkan dengan sikap anaknya yang terlihat seperti mengacuhkan keempat anaknya. Namun ia juga paham kalau Andre begitu terlarut dalam kesedihan karena Nadia yang sampai saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit.


"Pasti papa juga kangen sama Baby Alan namun kasihan juga bunda nggak ada yang jagain kalau malam" ucap Mama Anisa dengan tersenyum miris.


Berbeda dengan kedua saudaranya yang terlihat rewel karena tak ada papa dan bundanya setiap saat, Arnold malah terlihat lebih dewasa. Bahkan Arnold seperti memahami bahwa papanya kini tengah dalam masa sulitnya sehingga ia takkan merengek bahkan meminta kedua orangtuanya untuk selalu memperhatikannya.


Mama Anisa dan Ibu Ratmi begitu terharu dengan ucapan cucunya itu. Bahkan ketika menunggu kedua kakaknya di sekolah pun Arnold selalu mencoba untuk membantu neneknya agar tak kerepotan.


***

__ADS_1


"APA?" seru seorang laki-laki dewasa yang baru saja mendapatkan sebuah panggilan dari rumah sakit, dia adalah Andre.


Saat dirinya tengah fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba ia mendapatkan panggilan dari rumah sakit. Sontak saja ia langsung menghentikan pekerjaannya kemudian mengangkat panggilan itu. Namun dia begitu terkejut saat mendengar ucapan dari pihak rumah sakit. Tanpa membereskan meja kerjanya terlebih dahulu, Andre langsung saja bergegas keluar dari ruangannya.


"Bay, atur ulang semua jadwal meetingku hari ini dan sekalian handle pekerjaanku dulu. Aku harus ke rumah sakt" pesan Andre dengan wajah panik.


Saat Bayu tengah fokus pada pekerjaannya didepan laptop tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan perintah Andre yang begitu mendadak. Bahkan belum sempat Bayu menjawab, Andre sudah berlari pergi dan masuk kedalam lift. Bayu hanya bisa menghela nafasnya pasrah sambil meratapi nasibnya saat melihat berkas yang sudah menumpuk didepannya ini.


"Lembur lagi... Lembur lagi..." lesu Bayu sambil menjatuhkan kepalanya di meja kerjanya.


***


Andre terus berlari keluar kantor sampai beberapa karyawan tertabrak olehnya namun sama sekali tak ia pedulikan. Bahkan kini matanya sudah berkaca-kaca ingin menumpahkan air mata yang sudah siap meluncur dengan derasnya. Saat sampai di tempat parkir, ia segera masuk kedalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


"Bertahan sayang, aku mohon..." lirih Andre sambil terus mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir dikedua pipinya.


Pikirannya kalut setelah mendengar ucapan dari pihak rumah sakit. Ia begitu khawatir dengan keadaan Nadia bahkan sampai lupa memberi kabar pada Papa Reza dan keluarganya yang lain. Setelah 15 menit berkendara dengan kecepatan tinggi, mobil yang dikendarai oleh Andre sampa juga didepan rumah sakit. Tanpa memarkirkan mobilnya dengan benar, Andre segera saja turun kemudian berlalu menuju ruang ICU.


Saat sudah sampai di depan ruang ICU ternyata sudah ada Papa Reza yang juga baru datang dari kantor cabang dan Ayah Deno yang berada disana. Keduanya juga tak kalah panik terlebih melihat beberapa perawat terlihat keluar masuk ruangan istrinya itu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan keadaan Nadia?" tanya Andre tiba-tiba.


Ayah Deno dan Papa Reza yang mendengar pertanyaan dari balik punggungnya pun segera membalikkan badannya. Papa Reza langsung memeluk anaknya dengan erat sambil sedikit terisak, hal ini membuat pikiran Andre menjadi semakin kacau.


__ADS_2