Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Gagal


__ADS_3

Andre begitu nelangsa menatap pintu kamar anaknya yang terkunci dari dalam itu. Entah ide siapa yang mengunci pintu itu, namun dalam hati ia benar-benar mengutuk cara licik itu.


Papa Reza dan Mama Anisa yang berada tepat di ujung atas tangga lantai 2 mengernyitkan dahinya heran saat melihat anaknya hanya diam dan menatap pintu kamar ketiga cucunya. Apalagi melihat wajah Andre yang sepertinya ditekuk.


"Kamu ngapain disitu, Ndre?" tanya Papa Reza.


"Mungkin mau jadi patung selamat datang, pa" ucap Mama Anisa menimpali.


"Ini nih ulah cucu papa yang terlalu cerdas biar papanya nggak bisa masuk. Pintu kamarnya dikunci dari dalam" ucap Andre dengan kesal.


Papa Reza dan Mama Anisa yang mendengar ucapan Andre pun hanya bisa menganga tak percaya. Mereka tak percaya kalau ketiga cucunya bisa melakukan hal ini pada papanya sendiri. Mereka yakin kalau ini adalah ulah otak cerdik cucu laki-lakinya, Arnold.


Hahahaha


Kedua orangtua Andre langsung saja tertawa terbahak-bahak setelah tersadar dari lamunannya. Mereka menertawakan nasib anaknya, sudah tak bisa tidur dengan istrinya di malam pengantin dan ini malah tak bisa masuk ke kamar anaknya.


"Yuk ma kita masuk ke kamar. Kita buat adik untuk Andre" ajak Papa Reza pada istrinya seperti meledek Andre.


"Ihh... Papa apaan sih, malu tau" ucap Mama Anisa dengan malu-malu.


Tanpa mempedulikan Andre yang menatapnya iri, Papa Reza segera mengendong istrinya itu ala bridal style. Sedangkan Andre sudah mendengus kesal karena ledekan dari kedua orangtuanya, apalagi mereka sengaja memamerkan kemesraan didepannya.


***


Kini Andre tengah ada didalam kamarnya sendirian dan memeluk gulingnya dengan erat. Ia memukul-mukul gulingnya dengan gemas membayangkan jika itu adalah Arnold.


"Gemes banget sih kamu, mbul. Ngeselinnya nggak ngotak, biarin papa tidur sendirian di kamar" gumam Andre.


Andre terus berceloteh sendiri mengumpati anaknya yang sangat cerdik itu. Bahkan kini Andre telah mengibarkan bendera perang pada bocah laki-laki itu. Ia akan bersaing dengan Arnold agar bisa menghabiskan waktunya lebih banyak bersama istrinya.

__ADS_1


Ceklek...


Disaat Andre masih sibuk dengan gulingnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk kedalam kamarnya. Ia adalah Nadia yang menampilkan senyuman manisnya kepada sang suami.


"Ini nggak mimpi kan?" gumam Andre sambil terus menepuk-nepuk kedua pipinya dengan tangan.


Bahkan ia tak mau mengalihkan sama sekali pandangannya dari seseorang yang masih berdiri didepan pintu itu. Andre masih berpikir bahwa kini ia tengah berhalusinasi saja.


Nadia melangkahkan kakinya mendekat kearah Andre yang masih bengong. Nadia duduk disamping suaminya itu kemudian menangkup kedua pipi Andre yang tadi ditepuk-tepuk.


"Ini bukan mimpi, Nadia istrimu ini ada disini" ucap Nadia dengan lembut.


Sontak saja Andre berjingkat dari baringannya kemudian duduk dan menatap istrinya yang sudah ada didepannya. Andre langsung mengelus pipi Nadia dengan lembut sehingga ia yakin kalau yang ada didepannya ini adalah benar istrinya.


"Bagaimana kamu bisa keluar dari kamar anak-anak? Tadi aku kesana dan pintunya dikunci dari dalam" keluh Andre sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tadi yang punya ide kunci kamar si gembul ya?" tuduh Arnold tiba-tiba setelah mendengar ucapan istrinya.


"Iya, bahkan dia tak membiarkan tanganku terlepas darinya saat sebelum tidur" ucap Nadia.


Andre hanya bisa geleng-geleng kepala setelah tahu tentang kepastian apa yang dipikirkannya sedari tadi.


"Awas aja tuh anak satu" geram Nadia sambil mengepalkan telapak tangannya.


Namun segera saja ia menyuruh Nadia untuk naik keatas kasurnya. Ia akan memanfaatkan waktunya yang tanpa gangguan dari ketiga anaknya ini dengan sebaik-baiknya. Nadia pun menuruti perintah Andre kemudian berbaring di sebelah suaminya itu.


"Udah lama banget aku tidur nggak ada yang meluk kaya gini" manja Andre sambil memeluk istrinya dengan erat.


Bahkan Nadia memeluk balik tubuh suaminya dan sebelah tangannya ia gunakan untuk mengelus lembut rambut Andre. Andre begitu menikmati elusan lembut itu sampai-sampai ingin memejamkan matanya. Namun tiba-tiba saja ia teringat kalau malam ini adalah malam pengantinnya bersama sang istri.

__ADS_1


Andre segera saja melepaskan pelukannya dari sang istri kemudian menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Maukah kamu malam ini menyerahkan harta berharga yang selama ini kamu jaga pada suamimu ini?" tanya Andre dengan tatapan mendalam.


Nadia menatap dalam kearah mata suaminya yang terlihat sekali sorot penuh harap padanya. Dengan gugup, Nadia menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan Andre. Sontak saja Andre memekik kegirangan kemudian dengan tak sabaran memposisikan dirinya diatas tubuh istrinya.


Bahkan tanpa aba-aba Andre langsung saja melucuti semua pakaian yang dikenakan oleh istrinya itu membuat Nadia sama sekali tak bisa menolak. Setelah Nadia benar-benar polos, Andre segera menciumi wajah istrinya dengan senang seperti mendapatkan sebuah kegiatan baru.


Andre memulai kegiatannya dengan lembut terus menciumi bagian wajah Nadia sehingga gadis yang ada dibawahnya itu lepas dari rasa gugup. Setelah dirasa cukup, Andre masih terus bermain-main dengan tubuh Nadia yang sudah polos dibawahnya ini.


"Kau sangat cantik, sayang" puji Andre di sela-sela cumbuannya.


Nadia tak menjawab, ia tengah menikmati apa yang diperlakukan Andre pada tubuhnya. Rasa malu-malu yang sedari tadi ia perlihatkan, kini benar-benar hilang karena rasa nikmat yang Nadia rasakan.


Melihat istrinya sudah keenakan, Andre pun segera melepas semua baju yang melekat pada tubuhnya sehingga benar-benar polos seperti istrinya. Nadia yang sudah melihat dengan jelas tubuh suaminya itu pun dengan sigap mengalihkan pandangannya.


Andre segera saja menindih tubuh istrinya kemudian melakukan pemanasan sebentar agar Nadia bisa dengan lebih santai menerima sesuatu yang asing dalam tubuhnya. Setelah selesai, Andre segera saja memposisikan tubuhnya pada organ inti Nadia. Saat akan memasukkannya, tiba-tiba saja...


Dugh... Dugh... Dugh...


"Huaaaa... Papa... Unda..." seru seseorang yang tiba-tiba saja menggedor pintu kamar Andre yang tak lain adalah Arnold.


Ternyata Arnold terbangun saat merasakan bahwa Nadia tak berada di kamarnya. Ia segera turun dari kasurnya kemudian berjalan menuju kamar milik Andre dan menggedornya sambil menangis.


Andre dan Nadia pun menghentikan kegiatannya sebentar kemudian saling memandang satu sama lain. Nadia hanya bisa tersenyum kikuk melihat Andre menghela nafasnya lelah.


"Itu gembul.." lirih Nadia tak enak hati.


Tanpa basa-basi Andre segera mengambil pakaiannya yang berserakan di bawah kasur lalu menuju kamar mandi tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Nadia yang melihat Andre marah pun hanya bisa bersabar kemudian meraih bajunya dan memakainya dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2