Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Hamil


__ADS_3

"Astaghfirullah... Sayang..." pekik Andre saat merasakan badan Nadia merosot ke lantai.


Andre dengan sigap langsung saja menahan tubuh istrinya dan membasuh bibir Nadia dengan air untuk menghilangkan muntahan disekitar mulutnya. Setelahnya ia menggendong Nadia yang sudah tak sadarkan diri keluar dari kamar untuk dibawa ke rumah sakit. Bahkan Andre sampai berteriak meminta tolong kepada mama dan papanya untuk menjaga ketiga anaknya.


"Mama... Papa... Titip anak-anak" teriak Andre sambil terus berjalan ditangga.


Mama Anisa dan Papa Reza yang memang sudah berada di dapur langsung berjalan menuju kearah Andre. Mereka berdua terkejut saat melihat wajah Andre yang panik sambil menggendong Nadia yang pingsan. Keduanya langsung saja berlari mendekati Andre.


"Ini menantu mama kenapa?" tanya Mama Anisa khawatir.


"Nggak tahu, ma. Tadi Nadia muntah-muntah terus pingsan. Andre titip anak-anak kalau mereka terbangun dan mencari Nadia" ucap Andre buru-buru.


"Kamu nggak usah pikirin ketiga cucu mama. Buruan sana ke rumah sakit, biar diantar papa aja" ucap Mama Anisa.


Papa Reza tanpa basa-basi langsung saja berlalu pergi dengan meraih kunci mobil yang ada ditangan anaknya. Begitu pula dengan Andre yang berlalu setelah pamit pada mamanya. Setelah Papa Reza, Andre, dan Nadia pergi tiba-tiba saja Mama Anisa menyunggingkan senyuman manisnya.


"Cucu baru..." pekik Mama Anisa pelan.


Setelahnya Mama Anisa segera saja naik ke lantai 2 untuk membangunkan ketiga cucunya. Untuk hari ini biarlah dia yang akan mengantarkan dan menunggu ketiga cucunya di sekolah. Dengan langkah cerianya ia segera masuk kedalam kamar itu lalu menyiapkan beberapa perlengkapan mandi mereka.


"Abel... Nara... Gembul... Bangun yuk, saatnya sekolah" seru Mama Anisa dengan menggoyang-goyangkan lengan ketiga cucunya.


Dengan mudah ketiganya bangun dari tidurnya saat dibangunkan oleh nenek mereka. Mereka mengucek-ucek matanya untuk menetralisir cahaya yang masuk kedalam mata. Setelah terasa cukup, ketiganya langsung saja mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar seakan mencari sesuatu.


"Unda mana, nek?" tanya Arnold menatap neneknya itu.


"Bunda ke rumah sakit sama papa dan kakek" ucap Mama Anisa dengan jujur.

__ADS_1


"Napain meleka ke lumah cakit? Ciapa yan cakit?" tanya Arnold dengan bingung begitu pun dengan kedua kakaknya.


"Bunda, tadi perutnya sakit" jawab Mama Anisa asal.


Walaupun Mama Anisa hanya menjawab pertanyaan itu dengan sakit biasa, namun respons dari ketiganya sangat membuatnya terkejut. Ternyata ketiganya sangat khawatir terhadap apa yang terjadi dengan bundanya itu.


"Ndak ungkin talo cakit pelut halus awa ke lumah cakit. Yo cucul unda" seru Arnold dengan mata memerah.


"Iya, nek. Ayo susul bunda" pinta Anara dan Abel bersamaan.


Bahkan kedua matanya kini berkaca-kaca dengan tatapan permohonannya. Mereka sangat khawatir dengan apa yang terjadi pada Nadia. Sedangkan Mama Anisa mulai kelimpungan menghadapi ketiga cucunya yang kini sudah mengeluarkan air mata demi menemui Nadia.


"Nenek telfon papa dan kakek dulu ya, biar kita tahu keadaan bunda. Kalau keadaannya sudah membaik, barulah kita nggak usah ke sana" ucap Mama Anisa lembut.


Ketiganya menganggukkan kepalanya dengan masih dibanjiri air mata di kedua pipinya. Sedangkan Mama Anisa segera melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mengambil ponselnya demi menghubungi suami dan anaknya.


Sedangkan disisi lain...


Nadia sudah masuk dalam ruang IGD dan kini Andre duduk sendirian didepan ruangan itu untuk menunggu istrinya yang berada didalam. Sedangkan Papa Reza tengah mengurus administrasi rumah sakit. Tak berapa lama, Papa Reza mendekat kearahnya sambil menepuk bahu Andre dengan pelan.


"Pasti Nadia akan baik-baik saja. Do'akan istrimu" ucap Papa Reza.


Andre hanya menanggapi ucapan Papa Reza dengan menganggukkan kepalanya dan tak berapa lama dua dokter keluar dari ruang IGD. Keduanya tersenyum ramah kepada Andre dan juga Papa Reza. Andre dan Papa Reza segera saja berdiri untuk meminta penjelasan kepada dokter itu.


"Selamat pak, istri anda saat ini tengah hamil" ucap dokter itu sambil mengulurkan tangannya kearah Andre.


Sebelum Andre dan Papa Reza bertanya kepada dokter itu, ternyata dia langsung mengulurkan tangan sambil mengucapkan selamat. Andre yang masih linglung pun segera saja membalas uluran tangan dokter itu. Dengan tangan bergetar dirinya memncoba meyakinkan pendengarannya tentang apa yang diucapkan oleh dokter itu.

__ADS_1


"Istri saya hamil?" tanya Andre dengan suara serak karena menahan tangisannya.


"Iya, tuan. Untuk lebih tahu kondisi janinnya bisa langsung konsultasi ke dokter kandungan sekalian USG" ucap dokter itu.


"Terimakasih... Terimakasih..." ucap Andre dengan mata berkaca-kaca.


Kedua dokter itu pergi berlalu dari hadapan Andre dan Papa Reza. Sedangkan Andre langsung memeluk papanya karena sangat bahagia dengan kabar yang baru saja ia dapatkan ini. Begitu pula dengan Papa Reza yang begitu bahagia sambil memeluk erat anaknya.


"Aku masuk dulu menemui Nadia, pa" pamitnya sambil melepaskan pelukannya.


Papa Reza menganggukkan kepalanya mengerti, sedangkan Andre langsung berjalan masuk kedalam ruang IGD itu. Saat masuk, Andre melihat Nadia yang sudah terbangun sambil menatapnya dengan mata yang juga berkaca-kaca. Nadia sudah mengetahui tentang kehamilannya ini dan gejala mual yang ia rasakan tadi pagi adalah hal yang wajar.


Andre segera saja memeluk istrinya yang masih terbaring diatas brankar sambil menangis, begitu pula dengan Nadia. Mereka berdua menangis bahagia bersama dengan kabar baik yang baru saja mereka dapatkan ini.


"Terimakasih, sayang" ucap Andre di sela-sela pelukannya.


"Harusnya aku yang berterimakasih karena kamu telah memilihku sebagai istrimu. Aku begitu beruntung mendapatkan suami yang baik dan ketiga anak yang cerdas. Ditambah lagi kini diberikan kepercayaan untuk mengandung anak didalam perutku" ucap Nadia dengan menangis tergugu.


"Kita sama-sama beruntung. Kita jaga anak-anak kita dengan baik ya" ucap Andre.


Nadia menganggukkan kepalanya sambil terus memeluk erat suaminya. Bahkan sebelah tangannya ia gunakan untuk terus mengelus perutnya yang masih rata itu.


"Terimakasih Tuhan, akan ku jaga amanah yang Kau berikan. Aku juga akan menjaga ketiga anak sambungku dengan sepenuh hati" batin Nadia berjanji.


Akhirnya setelah meluapkan perasaannya berdua dengan saling memeluk, Andre dan Nadia memilih untuk pergi ke ruang dokter kandungan. Nadia duduk di kursi roda dengan Andre yang mendorongnya dari belakang karena wanita itu masihlah lemas. Saat keluar ruang IGD, ternyata Papa Reza masih menunggu keduanya disana dan akhirnya mereka segera melangkahkan kakinya ke ruang dokter kandungan bersama.


Sepanjang perjalanan ke ruang dokter, Papa Reza menceritakan tentang ketiga cucunya yang tak mau ke sekolah karena tak ada Nadia. Mereka ingin menyusul ke rumah sakit, namun Papa Reza akhirnya berhasil membujuk ketiganya untuk tetap di rumah.

__ADS_1


__ADS_2