
Hari terus berlalu, tak terasa sudah satu tahun semenjak kejadian di sekolah TK waktu itu. Proses hukum sudah berjalan dan para pelaku sudah ditindak sesuai yang berlaku. Ibu Ica dan Ibu Dinda dipecat secara tak terhormat oleh intansi lembaga pendidikan bahkan surat ijin profesinya juga dicabut. Mereka takkan bisa mengajar lagi karena sudah melakukan pelanggaran berat. Bahkan kini keduanya harus mendekam dalam penjara selama 5 tahun karena melakukan tindak penganiayaan terhadap seorang anak.
Kedua orangtua mereka juga hanya bisa pasrah karena sudah tak mempunyai kekuasaan apapun. Ica dan Dinda waktu itu menangis meminta orangtuanya untuk segera menebus mereka agar bisa diringankan hukumannya. Namun kedua orangtuanya tak mampu karena semua harta sudah disita oleh pihak perusahaan Nenek Hulim. Bahkan rekening juga sudah dibekukan karena adanya beberapa indikasi kecurangan yang menyebabkan kerugian perusahaan.
"Kita sudah tak punya apa-apa. Yang tersisa hanya lah gaji pokok satu bulan terakhir ayah bekerja karena semua simpanan sudah diberikan untuk ganti rugi perusahaan yang ayah curangi. Kami akan kembali ke desa, nanti sebulan sekali kami kesini untuk menengokmu. Jaga diri baik-baik, jangan membuat ulah lagi karena tandingan kita bukan lah orang biasa" ucap Argio berpesan pada putrinya setelah persidangan selesai waktu itu.
Ica dan Dinda hanya menundukkan kepalanya karena kini sudah tak bisa lagi berkelit bahkan tak bisa melawan lagi. Selama ini mereka bisa santai-santai saja dalam berbuat sesuatu karena kekuasaan berada dalam genggaman. Saat ini semua sudah tak bisa mengharapkan apapun selain pasrah.
Bahkan saat bertemu dengan keluarga Andre di persidangan, keduanya sama sekali tak mau memandang mereka. Arnold juga tak dihadirkan jadi saksi waktu itu karena akan berpengaruh pada kondisi psikisnya. Untuk sekedar mengucapkan kata maaf juga tidak sama sekali membuat pihak keluarga takkan pernah mau berdamai walaupun orangtua keduanya sudah memohon.
***
Mengenai kasus Hasan dan istrinya yang notabene adalah orangtua Fikri juga sudah mendapatkan keputusannya. Mereka diberi hukuman penjara selama dua tahun akibat kasus perbuatan tidak menyenangkan kepada Nenek Hulim dan Fikri. Semuanya begitu lega karena beberapa kasus sudah terselesaikan dengan baik walaupun sebelumnya harus ada drama-drama terlebih dahulu.
Untuk pemilik toko tas dan Inge itu juga sudah mendapatkan hukumannya selama 2 tahun karena perbuatan tak menyenangkan serta menyebarkan fitnah. Keduanya sudah mengaku menyesal dan meminta maaf namun keluarga Andre tetap melanjutkan kasus ini sesuai prosedur hukum yang berlaku.
***
"Bunda, jadinya gimana ini sekolah Arnold?" tanya Arnold.
__ADS_1
Ia selalu ditanya oleh Nilam perihal sekolahnya beberapa hari ini. Hal ini membuat Arnold kepikiran, pasalnya ia malas berurusan dengan sekolah. Namun ia juga tak mau membuat kedua orangtuanya sedih karena memikirkan dirinya yang tak mau sekolah. Apalagi Nilam menginginkan agar Arnold bisa satu sekolah dengannya.
Pernah saat malam ketika ia akan tidur, bundanya membisikkan sesuatu mengenai agar ia bisa sembuh dari traumanya juga mau bersekolah kembali. Walaupun memang benar jika tanpa sekolah bisa mendirikan usaha kemudian sukses, namun ia juga harus pintar bersosialisasi dan mendapatkan ilmu baru di sekolahnya.
Nadia yang mendengar pertanyaan dari Arnold pun langsung mengalihkan perhatiannya dari acara TV yang ditontonnya. Memang pagi ini hanya ada Nadia, Alan, dan Arnold di rumah membuat ketiganya hanya menghabiskan waktu di ruang keluarga saja. Bahkan Alan juga langsung memusatkan perhatiannya kearah abangnya itu.
"Akak mau cekolah agi? Cekolahna becok baleng Alan aja" ucap Alan tak setuju jika kakaknya sekolah sekarang.
"Nggak bisa gitu dong. Ntar Arnold bisa-bisa mainnya sama anak kecil kalau bareng Alan" tolak Arnold.
Alan mengerucutkan bibirnya kesal karena dianggap kecil oleh kakaknya itu. Sedangkan Nadia hanya bisa terkekeh pelan melihat perdebatan keduanya.
Ia tak mau memaksakan pilihan atas Arnold tentang sekolahnya. Ia ingin Arnold mengungkapkan keinginannya sendiri dan memilih sekolahnya sendiri. Dan penantiannya ternyata tak sia-sia karena Arnold mau juga berpikir tentang sekolahnya.
"Dimana saja asal bisa dekat sama pacar Arnold" ucap Arnold sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Nadia menganggukkan kepalanya mengerti. Walaupun mengucapkan kalimat yang sebenarnya asing menurutnya namun biarlah asal Arnold bahagia. Yang terpenting baginya saat ini adalah Arnold bisa sekolah yang nantinya ia akan memberi pengertian pada anaknya itu tentang hal-hal yang tak boleh diucapkan sebelum waktunya.
"Baiklah, nanti biar bunda diskusikan sama papanya Nilam. Kalau bisa sih satu sekolah sama kak Anara dan Abel ya biar mudah buat kami antar jemputnya" ucap Nadia dengan lembut.
__ADS_1
Arnold hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Ia tak mau memikirkan hal sulit. Biarlah itu menjadi urusan orang dewasa yang penting sekolah yang dipilihkan bukan lah yang kemarin. Ia tak mau berurusan lagi dengan sekolah TK nya. Lagi pula saat ini dia sudah masuk SD walaupun tak melewati jenjang TK terlebih dahulu.
"Talo bang Anol becok cekolah macak Alan di lumah cendilian cih. Unda, napa cih Alan macuk cekolahna macih lama?" tanya Alan dengan wajah sedihnya.
Nadia tahu bagaimana kesedihan Alan karena bagaimana pun selama ini selalu ada Arnold yang menemani dirinya saat yang lainnya beraktifitas. Namun umur Alan yang masih kecil tentunya saat ini akan membuat ia harus lah bisa menahannya sebentar. Ia tak ingin anaknya masuk sekolah terlalu cepat.
"Kata siapa sendirian, kan ada bunda dan nenek yang ada di rumah. Masa Alan nggak mau nemenin kami sih?" ucap Nadia dengan wajah disedih-sedihkan.
Alan yang melihat bundanya sedih pun langsung terdiam dengan mengerucutkan bibirnya. Namun Arnold yang tahu jika Nadia hanya bersandiwara pun tak mau membantu Alan membujuk bundanya itu.
"Ukan ditu, unda. Alan mau emani unda, api kan talian talo aku ajak bicala pati ndak aham. Alan cuka kecel" ucap Alan memberi alasan agar bundanya tak sedih.
"Suruh bunda belajar di sekolah lagi biar bisa tahu bahasa yang kamu gunakan" saran Arnold sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Nadia menahan tawanya karena merasa berhasil membuat sandiwara tentang kesedihannya yang Alan langsung merasa bersalah. Apalagi mendengar saran dari Arnold yang aneh itu, terlebih tak ada satu pun jurusan yang bisa digunakan untuknya belajar bahasa anak kecil.
"Bica jadi. Yo unda, Alan daptalin ke cekolah bial aham cama ucapan Alan" ucap Alan dengan antusias.
"Besok biar bunda saja yang daftar sekolahnya sendiri ya, nak" ucap Nadia menyembunyikan tawanya.
__ADS_1
Alan menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan sang bunda. Ia kembali bermain dengan abangnya tanpa mempedulikan Nadia yang kini pergi ke dapur untuk meluapkan tawanya yang sedari tadi ia tahan.