Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kedatangan


__ADS_3

"Aku tak terima anakku diperlakukan seperti ini" geram Andre.


Nadia menyerahkan ponselnya kepada suami dan juga Papa Reza. Disana terlihat video CCTV yang diminta oleh Nadia pada pihak sekolah sebagai bukti untuk diserahkan pada pihak kepolisian. Awalnya pihak sekolah tak mengijinkan namun karena sudah disepakati bahwa keluarga akan membawa kasus ini ke jalur hukum tentunya mereka tak boleh menghalanginya.


Alan, Anara, dan Abel sudah dibawa Mama Anisa keluar dari ruang rawat inap untuk makan siang saat Nadia melakukan diskusi dengan Andre dan Papa Reza. Kedua laki-laki itu tentunya sangat marah anggota keluarga mereka diperlakukan tak baik seperti ini.


"Aku sudah bilang kalau akan membawa kasus ini ke pihak yang berwajib dan dinas terkait. Semua yang ada didalam ruang kelas itu akan aku perkarakan entah yang masih anak-anak atau dewasa" ucap Nadia dengan mata berkilat marah.


"Aku setuju" ucap Andre.


"Papa juga setuju. Kita juga minta hasil visum Arnold dari rumah sakit ini untuk memperkuat bukti yang ada" ucap Papa Reza lalu diangguki setuju oleh Nadia dan Andre.


Papa Reza segera menghubungi pengacara keluarganya untuk mengurus kasus ini. Papa Reza segera keluar dari ruang rawat inap Arnold untuk menemui dokter dan pengacaranya yang akan datang ke rumah sakit. Ia takkan membiarkan semua orang yang melukai cucunya lepas begitu saja, sedangkan Nadia dan Andre memilih untuk menunggu Arnold didalam ruang rawat.


***


"Tadi Arnold mengigau dan berteriak histeris tak mau sekolah lagi karena takut dipukul. Baru pertama kali ini aku melihat Arnold ketakutan sampai pingsan seperti ini" ucap Andre sambil terkekeh miris.


Nadia yang ada disebelahnya hanya bisa merangkul sang suami sambil mengelus lembut punggungnya. Ia juga khawatir dengan kondisi Arnold yang baru pertama kali ia lihat ini. Melihat begitu banyak luka lebam di kakinya juga membuatnya teringat bagaimana kejamnya orang-orang dewasa itu memukul kaki mulus anaknya.

__ADS_1


"Kita harus kuat dan saling bekerjasama demi kesehatan Arnold. Jangan menunjukkan kesedihan didepannya dan anak-anak yang lain. Aku yakin jika dengan sakitnya Arnold ini akan sedikit berpengaruh pada kondisi saudara-saudaranya" ucap Nadia menasihati.


Andre hanya menganggukkan kepalanya sambil menghela nafas lelahnya. Keduanya akhirnya berdiri kemudian berjalan mendekat kearah brankar tempat tidur Arnold. Nadia duduk di kursi samping ranjang sambil mengelus rambut anaknya dengan lembut.


"Gembulnya keluarga Farda yang paling tampan, sembuh yuk. Jangan sakit kaya gini dong, bunda nggak like nih" ucap Nadia sambil terkekeh miris.


Ia melihat Arnold dengan tatapan sendunya. Anak yang biasanya selalu ceria didepannya dan selalu membuatnya kesal sekarang malah terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Nadia sungguh rindu dengan celotehan dan gaya khas tengilnya yang membuatnya terhibur itu.


"Katanya nggak mau lihat bunda sedih dan nangis, tapi kok ini Arnold malah begini" lanjutnya.


Andre mengelus punggung Nadia yang sudah bergetar. Ia mengerti perasaan sang istri yang sudah sangat dekat dengan anak sambungnya itu. Nadia tak bisa menyembunyikan tangisnya karena baginya ini adalah moment terberat dalam hidupnya karena harus melihat anaknya sakit dan merasakan trauma yang mendalam. Dulu saat mendampingi Abel pun dirinya sangat terpukul terlebih ini Arnold yang selalu membuat kejutan luar biasa untuknya.


***


Melihat kedatangan orang yang sudah menyakiti anaknya, kedua tangan Andre yang berada disamping tubuhnya pun mengepal dengan sempurna. Rasanya ia ingin menonjok muka-muka tak bersalah dua orang wanita didepannya ini namun ia sebagai seorang laki-laki pantang untuk menghajar wanita.


"Mau apa kalian datang kemari? Mau tertawa melihat keadaan anak saya yang sampai saat ini masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit?" tanya Andre dengan terkekeh sinis.


"Maaf tuan, kami kesini ingin menjenguk ananda Arnold sekaligus ada yang ingin dibicarakan" ucap salah satu keluarga dari mereka.

__ADS_1


Beruntung mereka membawa keluarga yang sudah tua-tua membuat Andre juga segan jika berbuat yang tak baik. Andre menghela nafasnya kemudian menyingkir sedikit untuk mempersilahkan mereka masuk kedalam ruang rawat inap Arnold. Semua orang yang tengah menikmati makan malam itu langsung menatap beberapa orang yang baru saja masuk.


Mama Anisa dan Nadia hampir tersedak makanan yang baru saja masuk kedalam mulutnya karena melihat kedatangan orang yang tak ingin mereka lihat. Keduanya dengan kompak segera meraih gelas berisi air mineral kemudian meminumnya dengan rakus.


"Mau apa kalian datang kemari?" seru Nadia dan Mama Anisa bersamaan.


Bahkan Alan, Abel, dan Anara yang berada disana sampai terkejut mendengar seruan dari bunda dan neneknya itu. Ketiganya segera menyingkir dibantu oleh Papa Reza sedangkan Andre langsung menenangkan ibu dan istrinya itu.


"Ada anak-anak" bisik Andre.


Kedua wanita itu menghembuskan nafasnya perlahan agar bisa menetralkan segala emosi yang membuncah dalam dada. Andre menyuruh semuanya untuk duduk sedangkan ketiga bocah kecil itu memilih melanjutkan makannya dengan Abel yang akan menyuapi Alan.


"Kami disini mewakili dua anak kami yang merupakan guru di TK ingin meminta maaf kepada kalian sekeluarga terutama ananda Arnold. Kami bersedia menerima konsekuensi hukum dan menanggung biaya rumah sakit ini" ucap Ayah Ica.


"Mereka memanglah masih guru baru bahkan baru saja lulus kuliah maka dari itu sikapnya belumlah menunjukkan sebagai seorang pendidik. Kalau bisa, kami meminta untuk masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan" lanjutnya sambil tersenyum.


Nadia, Andre, dan Mama Anisa yang awalnya bersimpati dengan ucapan dari Ayah Ica itu pun seketika geram bukan main. Ternyata awalnya saja mereka berucap baik bahkan terkesan memberi dukungan tentang proses hukum namun pada akhirnya ada udah dibalik batu. Mereka datang dengan membawa misi agar permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan.


"Kami memang sudah memaafkan perilaku mereka tapi saya selaku orangtua takkan pernah mencabut apa yang saya ucapkan. Kami tetap akan melanjutkan kasus ini ke jalur hukum karena semua bukti bahkan langsung bisa memenjarakan mereka" ucap Nadia dengan tegas.

__ADS_1


"Benar, bagi kami tak ada ampun untuk oknum-oknum yang ingin mencelakai salah satu keluarga kami. Kami khawatir jika nanti kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan, akan ada Arnold lain yang menjadi korban keganasan mereka" ucap Mama Anisa.


Mama Anisa dan Nadia memang satu suara untuk melanjutkan semua ini ke jalur hukum. Bagi keduanya tak ada yang bisa mengubah keputusan itu walaupun orangtua tersangka meminta ampunan pada mereka. Mereka ingin keduanya jera melakukan hal yang merugikan sekolah dan anak-anak.


__ADS_2