
"Kalian apakan anak-anak kami sampai mereka menangis seperti itu?" teriak gerombolan ibu-ibu yang tiba-tiba datang.
Mama Anisa langsung saja mengalihkan pandangannya dari keempat anak yang ada didalam pelukannya. Melihat ibu mereka ada disana, sontak saja keempatnya langsung ketakutan dan tambah memeluk Mama Anisa. Mama Anisa sampai dibuat bingung oleh tindakan keempat anak itu. Sedangkan Anara dan Abel langsung menggenggam tangan Arnold agar bocah laki-laki itu tak kalap.
Empat orang ibu-ibu itu mendekat kearah Mama Anisa dan keempat siswi yang ketakutan itu. Bahkan tiba-tiba saja salah satu dari ibu-ibu itu menarik tangan Diani membuat ketiga temannya yang lain langsung menangis histeris. Mama Anisa yang masih bingung dengan apa yang terjadi pun semakin dibuat kelabakan dengan tingkah ibu-ibu itu.
"Hei... Jangan kasar dong sama anak-anak" seru Mama Anisa.
"Lepaskan anak-anak kami, jangan-jangan kau mau menculiknya ya" sentak salah satu ibu-ibu itu.
"Dih... Ngapain juga nyulik anak orang? Kurang kerjaan" seru Mama Anisa tak terima.
Ketiga siswi yang masih memeluk Mama Anisa itu sama sekali tak mau melepaskan pelukannya. Terlebih Diani sudah meronta dalam pegangan mamanya agar tak dibawa pulang dengan menangis histeris. Mama Anisa yang kasihan dengan Diani pun hanya menatap iba pada gadis cilik itu.
"Diam kamu, Dian. Kami harus nunggu lama karena kalian tak turun-turun juga. Dasar anak bandel, harusnya ini kamu sudah belajar di rumah bukannya malah nangis-nangis disini" sentak Ibu Diani pada anaknya yang masih meronta.
"Hei Nyonya, jangan bentak-bentak anak kecil" seru Arnold tak terima.
Walaupun Arnold tak suka dengan kelakuan empat siswi yang telah mengganggu kedua kakaknya namun ia juga mempunyai sisi kemanusiaan. Arnold menatap nyalang pada ibu-ibu itu bahkan dengan beraninya langsung berhadapan dengan mereka berempat. Sedangkan Anara dan Abel yang ketakutan pun mendekat kearah Mama Anisa yang masih menenangkan ketiga temannya.
__ADS_1
"Kalian jaga temannya ya, biar nenek bantuin Arnold" ucap Mama Anisa.
Abel dan Anara menganggukkan kepalanya kemudian membantu menenangkan ketiga temannya yang masih ketakutan. Sedangkan Mama Anisa langsung mendekat kearah cucunya untuk membantu melawan ibu-ibu itu.
"Hei... Ibu-ibu yang sok cantik, anak kecil aja tahu kalau nggak boleh bentak-bentak. Kok situ yang dewasa nggak bisa mikir sih? Balik aja jadi bayi" ucap Mama Anisa.
Saat Mama Anisa meladeni ucapan Ibu Diani sudah pasti akan seperti menyiramkan bensin pada api yang sudah menyala. Suasana disekitar itu sudah terasa sangat panas karena semuanya terlihat begitu emosi. Namun saat Ibu Diani akan menimpali ucapan Mama Anisa, ada beberapa guru yang datang melerai perdebatan itu.
"Ada apa ini? Kenapa mereka pada menangis?" tanya salah satu guru disana.
Semua orang segera memusatkan perhatian mereka pada guru-guru yang datang itu. Seakan datang sebagai penyelamat, Diani dan ketiga temannya langsung berlari kearah guru-guru mereka. Mama Anisa dan ibu-ibu lainnya yang ingin menjawab pun akhirnya dipotong oleh salah satu guru.
"Kita bicarakan semua ini di kantor" putus salah satu guru itu.
"Nanti saja kalau di rumah aku ceritakan" bisik Nadia pada Mama Anisa saat melihat raut bingung mertuanya itu.
Mama Anisa pun hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian duduk disana bersama yang lainnya. Mama Anisa terlihat santai kecuali empat orang ibu-ibu itu. Guru-guru juga sudah bersiap untuk melakukan mediasi mengenai masalah yang terjadi.
"Jadi ada yang bisa menjelaskan tentang kejadian di lantai 2 itu?" tanya salah satu guru.
__ADS_1
"Jadi gini bu, tadinya saya mau menunggu Anara dan Abel namun kami melihat kalau mereka tengah dirundung oleh teman-temannya. Kami langsung kesana untuk mengetahui apa yang terjadi, ternyata siswi-siswi itu menyuruh kedua cucuku untuk mengalah dalam menjawab soal ujian biar mereka bisa masuk ranking atas. Setelahnya mereka menangis dan memeluk saya karena katanya takut dimarahi oleh ibunya sebab tak bisa mendapatkan ranking itu" jelas Mama Anisa.
"Nggak ada kami nyuruh mereka masuk ranking atas" elak Ibu Diani dan diangguki oleh ketiga ibu-ibu yang lainnya.
"Bohong... Mama menyuruhku untuk ranking 1, kalau enggak kita bakalan dimarahi dan dikunci dalam kamar mandi" seru Diani yang kemudian memeluk salah satu gurunya dan menangis histeris.
"Wooo... Ternyata nyonya jahat, main kurung anak-anak di kamar mandi. Lapor polisi aja bu guru biar dia di penjara" seru Arnold dengan meledek kearah Ibu Diani.
Ibu Diani begitu tak suka dengan ucapan Arnold namun untuk saat ini dia takkan bersuara lebih dahulu. Khawatirnya nanti pencitraannya selama ini akan terbongkar. Sedangkan Mama Anisa dan Nadia menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Arnold.
Akhirnya para guru berunding kemudian memutuskan untuk melakukan mediasi dengan suami dari ibu-ibu itu. Pasalnya ini nanti akan berpengaruh pada kondisi psikis anak-anak. Setelah semuanya selesai Mama Anisa, Nadia, dan keempat bocah kecil itu keluar dari ruang guru.
"Harusnya tadi nenek smackdown aja mereka. Kalau perlu ajak mereka gulat sama Arnold" kesal Arnold saat melihat neneknya hanya menasehati dan adu debat saja.
"Pengennya juga gitu, tapi nanti nih sekolah bisa hancur kalau nenek mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya" ucap Mama Anisa dengan percaya dirinya.
Nadia dan ketiga anaknya yang lain sontak saja tertawa mendengar perbincangan dari Mama Anisa juga Arnold. Keduanya sama-sama mempunyai sifat yang licik dan bar-bar jika menghadapi orang yang mengganggu anggota keluarga mereka.
"Biar aja hancur, nanti kita bangun lagi lalu jadi deh sekolah ini milik keluarga" ucap Arnold memberikan ide.
__ADS_1
Mama Anisa menganggukkan kepalanya antusias dengan ide yang dilontarkan oleh cucunya. Saat sampai rumah nanti ia akan memberikan ide ini pada suaminya. Setelah tak lama berjalan, mereka akhirnya sampai juga di parkiran mobil. Dengan dibantu oleh satpam, Nadia masuk dalam mobil bersama dengan anak-anaknya yang lain.
Mama Anisa segera melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya. Ia sungguh tak sabar untuk menceritakan kejadian hari ini pada Andre dan Papa Reza. Ia yakin kalau keduanya takkan tinggal diam melihat anak-anaknya dituduh dan dibentak oleh ibu-ibu itu.