
Nadia dengan sekuat tenaga berdiri untuk memindahkan Arnold ke kamarnya. Pasalnya tadi saat akan digendong oleh Andre, Arnold merengek bahkan memeluk erat tubuh bundanya. Hal ini juga yang membuat Nadia harus ekstra untuk menggendong Arnold karena boboh tubuh bocah laki-laki itu sudah semakin berat.
"Pelan-pelan, nak" pesan Mama Anisa.
Nadia menganggukkan kepalanya kemudian berjalan pergi dari ruang tamu diikuti oleh Andre yang mengawasi dari belakangnya. Saat perjalanan ke kamar Arnold, mereka bertemu dengan Nilam yang juga digendong papanya.
"Arnold nggak papa kan, tante?" tanya Nilam dengan sesenggukan.
Tadi didalam kamar Anara, Nilam sempat menangis di pelukan sang papa. Ia merasa sedih karena orang yang selama ini menghiburnya kini masih sakit. Bahkan sampai histeris dan teriak-teriak ĺagi seperti dulu. Setelah sedikit tenang, Nilam keluar dengan suara sesenggukan lirihnya.
"Nggak papa kok, Nilam bantu do'a ya biar Arnold bisa segera sembuh dan main seperti dulu lagi" ucap Nadia sambil tersenyum.
Nilam hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian Nadia melanjutkan perjalanannya kearah kamar Arnold. Sedangkan Andre memilih untuk pergi bersama Nilam dan papanya.
"Cepat sembuh anak bunda. Kami semua sayang Arnold" bisik Nadia lirih tepat pada telinga Arnold.
Bahkan Nadia mengusap lembut kepala anaknya itu agar tak gelisah dalam tidurnya. Nadia mencium lembut kening Arnold yang terasa hangat di telapak tangannya. Ia bergegas mengambil handuk dan baskom berisi air yang ada di kamar anaknya itu. Dengan lembut, Nadia mengompres kening anaknya menggunakan handuk basah.
Karena tak ingin terjadi sesuatu, Nadia keluar dari kamar Arnold untuk menberitahu keadaan anaknya kepada dokter yang masih ada disana. Dengan tergesa-gesa, Nadia berlari cepat diatas tangga kemudian menuju kearah ruang keluarga.
"Dok, Arnold badannya hangat. Apa itu bahaya?" tanya Nadia dengan panik.
__ADS_1
Walaupun Nadia sudah terbiasa mengurus anak-anaknya saat sedang sakit, namun untuk kondisi Arnold saat ini berbeda karena disebabkan oleh rasa traumanya. Semua orang disana langsung mengarahkan pandangannya kearah Nadia yang kini sedang menetralkan nafasnya yang terengah-engah.
"Biar saya periksa" ucap dokter itu.
Dokter itu bergegas mengikuti Nadia dan Andre yang langsung menuju ke kamar Arnold. Sedangkan anak-anak yang mulai rewel ditenangkan oleh Mama Anisa, Papa Reza, dan Papa Nilam.
"Bang ndak apa kan, nek? Alan akalan cedih lho ini talo ban cakit agi" lesu Alan menatap neneknya.
"Nggak papa, abang pasti akan baik-baik saja. Makanya Alan dan semuanya berdoa sama Tuhan biar abang Arnold diberikan kesembuhan" ucap Mama Anisa menenangkan.
Hanya itu yang bisa Mama Anisa ucapkan untuk menenangkan keempat bocah kecil yang ada disana. Disaat situasi sedang seperti ini tentu mereka akan sedikit terabaikan apalagi para orang dewasa juga tengah memikirkan hal-hal lain. Untuk itu mereka hanya bisa menenangkan dengan berdo'a.
Tak berapa lama mereka berdiam di ruang keluarga dalam keadaan hening. Bahkan Alan yang biasanya cerewet pun masih diam hingga tak menyentuh mainannya sama sekali. Mainan yang tadi dimainkan oleh Arnold dan dia bahkan masih belum ia bereskan sama sekali. Dokter bersama Andre dan Nadia datang dengan raut wajah sedikit santai.
"Semuanya baik-baik saja. Ini hanya efek dia mengingat kejadian yang membuatnya trauma saja. Dari yang saya lihat, kalau memang Arnold ingin sekolah lagi usahakan untuk pindahkan saja ke tempat lain. Bahkan kalau bisa rute jalannya juga tak melewati sekolah lamanya untuk sementara waktu" ucap dokter itu menyarankan.
Para orang dewasa menganggukkan kepalanya setuju dengan saran yang diucapkan oleh dokter itu. Setelahnya dokter itu pergi berlalu dari rumah keluarga Farda setelah berpamitan. Akhirnya Andre dan Nadia kembali duduk di ruang keluarga setelah tadi memastikan kondisi Arnold sudah aman.
"Nah kan... Kalian bisa dengar apa yang dikatakan dokter tadi kalau Arnold sudah baik-baik saja. Biarkan dia istirahat agar cepat sembuh. Kita akan jaga Arnold sama-sama ya" ucap Mama Anisa dengan semangat.
"Ciap nenek..." seru Alan dengan semangat.
__ADS_1
Mereka terkekeh pelan melihat bagaimana semangatnya Alan untuk menjaga abangnya. Bahkan kini ia sudah berdiri kemudian berjalan menuju tangga diikuti kedua kakak perempuannya dan Nilam untuk menjenguk Arnold. Nadia sudah memberitahu agar nanti saja menjenguknya, namun Alan tetaplah keras kepala membuat mereka menyerah untuk melarangnya. Lagi pula Alan paham jika disana hanya menjenguk saja tak boleh mengganggu istirahat Arnold.
"Kita pindahkan saja Arnold ke sekolah baru. Mungkin ini juga salah satu bentuk usaha kita agar Arnold bisa sedikit-sedikot melupakan masa lalunya" ucap Papa Reza memberi saran setelah semua anak-anak tak terlihat.
"Andre juga setuju. Kita pindahkan ke yang satu yayasan sama dengan sekolah SD Anara dan Abel" putus Andre.
Nadia menganggukkan kepala setuju begitu pun dengan Mama Anisa. Hal ini bisa membuat anak-anaknya akan mudah diawasi karena bersekolah dalam satu lingkungan. Anara dan Abel juga bisa menjaga dua adiknya walaupun hanya sekedar menengok saat jam istirahat saja.
"Nilam juga akan ku pindahkan ikut dengan Arnold saja. Saya sudah kurang nyaman di sekolah itu apalagi penyelidikan masih terus berlangsung membuat siswa harus campur dengan tempat lain" keluh Papa Nilam.
Tentunya mereka senang karena Nilam mau mengikuti kemanapun Arnold pindah. Arnold takkan kesepian karena masih merupakan siswa baru yang takkan mudah beradaptasi dengan yang lainnya.
"Aku dengar kalau pihak keluarga pelaku kemarin sudah memberikan uang ganti biaya rumah sakit Arnold. Apa itu benar?" tanya Papa Nilam.
Papa Reza, Mama Anisa, Andre, dan Nadia mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan dari Papa Nilam. Pasalnya mereka sama sekali tak mengetahui hal itu karena pengacara keluarga juga bilang masih menunggu pihak kepolisian. Bahkan pengacara Andre masih terus mendesak pihak instansi terkait untuk mencabut ijin sekolah itu karena banyaknya oknum tak beretika disana.
"Kami belum menerima apapun, bahkan pengacara kami juga tidak mengatakan apapun tentang ini" jawab Andre heran.
"Kamu tahu informasi ini darimana, nak?" tanya Papa Reza.
"Kemarin waktu saya mau menjemput Nilam, saya melewati sekolah itu. Karena sekolahnya juga berdampingan, saya mendengar ada beberapa orang berseragam diwawancarai oleh awak media. Mereka mengatakan sudah membayar uang pemeriksaan korban di rumah sakit, bahkan semua biayanya" ucap Papa Nilam.
__ADS_1
Papa Reza dan Andre geram mendengar ucapan Papa Nilam. Sepertinya ada yang salah dengan kasus ini sehingga lambat untuk ditangani. Padahal mereka sudah menekan pihak berwajib juga namun hasilnya tetap sama. Sepertinya mereka harus segera bertindak agar pelaku segera diadili.