Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Jangan Sombong


__ADS_3

"Mau apa ibu kesini? Mau mengejek kami karena berpakaian seperti ini?" ucap Hasan dengan menatap tajam Nenek Hulim.


Nenek Hulim melihat mata anaknya dengan begitu lekat hingga Hasan langsung mengalihkan pandangannua kearah lain. Ia paling tak bisa jika ditatap intens pada matanya dan Nenek Hulim mengetahui hal itu. Akan ada banyak kebohongan dan kejujuran yang tercipta saat pandangan itu terus menelisik mata anaknya.


"Tidak, ibu hanya ingin melihat apakah kalian sudah berubah jadi lebih baik atau belum? Pada faktanya kalian masih belum menyadari kesalahannya" ucap Nenek Hulim santai.


"Kami tidak bersalah, kenapa juga harus menyadarinya. Aneh..." sinis Mama Fikri yang sedari tadi diam.


Bahkan keduanya langsung duduk didepan Nenek Hulim yang dibelakangnya ada Nadia dan Mama Anisa. Keduanya yang menyaksikan itu hanya bisa mengelus pundak wanita pruh baya itu agar tak emosi. Padahal sebenarnya mereka juga geram karena perilaku tak sopan yang ditunjukkan oleh anak dan menantu Nenek Hulim.


Nenek Hulim menghela nafasnya kasar melihat perilaku keduanya. Padahal dulunya anak laki-lakinya itu begitu manis dan perhatian dengan keluarga, namun setelah keluarga mereka diangkat derajatnya membuatnya sedikit sombong. Bahkan kesombongannya semakin menjadi-jadi setelah menikah dengan wanita sombong juga.


Awalnya Nenek Hulim dan suaminya tak menyetujui pernikahan keduanya, namun Hasan tetap kekeh dengan pilihannya. Pada akhirnya pilihannya itu lah yang menyesatkan dan menjauhkan Hasan dari kedua orangtuanya. Bahkan sejak menikah, mereka memilih merantau ke kota demi meneruskan perusahaan cabang yang dibangun oleh mendiang suaminya. Mereka juga tak pernah mengunjungi kedua orangtuanya di desa, waktu datang pun hanya saat melahirkan Fikri.


"Kalian jangan lah sombong karena punya uang atau channel orang dalam karena semua yang kalian kenal itu masih dibawah pengawasanku. Ingat Hasan, jangan sampai uang itu membutakan mata dan hatimu. Aku ibumu, tak mungkin aku melakukan ini kalau tak ada sesuatu dibaliknya. Coba kau berserah diri pada Tuhan, selama ini apa yang sudah kau dan istrimu perbuat. Hal baik atau buruk yang kau tanam pada orang-orang sekitarmu sehingga sekarang kau berada pada posisi seperti ini" ucap Nenek Hulim dengan tegas.

__ADS_1


Nenek Hulim pun kembali memakai kacamata hitamnya setelah tadi sempat melepasnya. Ia tak ingin jika anak satu-satunya itu melihat matanya berkaca-kaca karena menahan sesak didadanya. Mau bagaimana pun Hasan, dia tetap lah anak kandungnya yang dengan sekuat tenaga ia besarkan walaupun dulu keadaannya belum sesukses sekarang.


Nenek Hulim beranjak dari duduknya kemudian berjalan pergi dari ruangan khusus menjenguk tahanan itu diikuti oleh Mama Anisa dan Nadia. Namun sebelum pergi, Nadia mendekat kearah dua orang yang kini tertunduk diam karena mendengar nasihat dari Nenek Hulim.


"Masih ada waktu untuk kalian berubah. Nenek melakukan ini agar kalian bisa berubah lebih baik dan renungkan lah apa ucapannya tadi" ucap Nadia dengan menepuk pundak keduanya secara bergantian.


Nadia segera pergi meninggalkan keduanya yang kini terdiam membisu. Bahkan keduanya hanya bisa terduduk lesu tak mau mengeluarkan satu patah kata pun untuk menyela ucapan Nenek Hulim. Bahkan mereka merasa ucapan Nenek Hulim itu bagaikan sebuah mata pisau tak kasat mata yang mampu mengiris-iris jantung juga perasaan keduanya.


***


Sesudah keluar dari ruangan tadi, Nenek Hulim langsung memeluk Mama Anisa kemudian menangis tersedu-sedu. Mama Anisa hanya membiarkan wanita paruh baya itu meluapkan segala rasa sakitnya karena tingkah anak dan menantunya. Namun ia juga tak ingin egois karena disini dirinya juga berperan dalam pembentukan karakter anaknya itu.


Mama Anisa tak bisa mengomentari apapun mengenai apa yang diceritakan oleh Nenek Hulim. Ia hanya bisa terus mengelus lembut punggung wanita paruh baya itu. Mama Anisa baru tahu jika dibalik wajah garang bahkan sikap tegas Nenek Hulim itu ternyata mempunyai kisah hidup yang tak selalu mulus. Bahkan mungkin sikap tegasnya kini hanya untuk menutupi bagaimana pedihnya perjalanan hidupnya jauh dari anak dan cucu selama bertahun-tahun.


"Ayo, nek. Bangkit, masih ada Fikri yang harus nenek didik agar perilakunya tak sama dengan kedua orangtuanya itu" ucap Nadia yang baru saja datang.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Nenek Hulim langsung melepaskan pelukannya dari Mama Anisa. Bahkan ia juga menghapus kasar air mata yang mengalir pada kedua pipinya. Benar apa kata Nadia kalau sekarang ada Fikri yang harus ia berikan kasih sayang dan didik dengan baik. Lagi pula Hasan dan istrinya itu sudah besar, harusnya bisa berpikir dewasa dan bijak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri.


Mama Anisa dan Nadia segera saja menggandeng kedua tangan Nenek Hulim untuk langsung menuju ke bagian informasi. Mereka ingin menemui orang-orang yang semalam dititipkan disini. Setelah sampai disana mereka langsung diarahkan ke ruangan yang berbeda yaitu bisa langsung berbincang dengan orang-orang itu dibatasi oleh sebuah jeruji besi.


"Wah... Gimana nih? Semalam tidurnya nyenyak" ucap Mama Anisa dengan menyindir.


Semua orang yang tengah terdiam duduk di sebuah tikar tipis itu pun menegakkan kepalanya kemudian melihat siapa orang yang datang dan menyindir mereka. Mereka sontak saja terkejut karena Mama Anisa datang untuk membuktikan ucapannya semalam. Pemilik toko dan Inge langsung berdiri kemudian menghadap ketiga orang wanita yang ada didepannya.


"Keluarkan kami dari sini" seru pemilik toko itu dengan menatap tajam kearah Mama Anisa.


"Nggak mau ah, ntar di luar banyak orang sombong berkeliaran. Bikin dunia nggak damai" ucap Mama Anisa dengan nada manjanya.


Nadia dan Nenek Hulim menahan tawanya terlebih kini tangan Mama Anisa melambai manja seakan ingin menunjukkan beberapa gelang dan cincin berlian miliknya. Pemilik toko itu begitu geram hingga dengan nekat tangannya ia keluarkan dari sela jeruji besi untuk menggapai wajah Mama Anisa. Mama Anisa langsung mundur kemudian mengejek pemilik toko itu dengan menjulurkan lidahnya.


"Bu, kami minta maaf atas kejadian kemarin. Kami mohon bu keluarkan kami dari sini" ucap beberapa karyawan lainnya dengan tatapan penuh permohonan berdiri menatap kearah Mama Anisa.

__ADS_1


"Kalian semua kecuali tuh si pemilik toko dan dia akan kami keluarkan dari sini sebentar lagi. Jangan ulangi sikap kalian itu pada konsumen lain" ucap Nenek Hulim tiba-tiba.


Pemilik toko itu dan Inge menatap tak percaya mendengar ucapan Nenek Hulim. Hanya dengan minta maaf ternyata yang lainnya bisa bebas dengan semudah itu. Pemilik toko itu dan Inge ingin sekali meminta maaf agar dibebaskan seperti yang lainnya namun gengsi mereka begitu tinggi untuk melakukan itu.


__ADS_2