
Hari ini merupakan hari kelahiran si bocah kecil Arnold. Tepat hari ini, Arnold usia Arnold bertambah satu menjadi lima tahun. Tahun ini juga Arnold akan memasuki sekolah TK sesuai dengan keinginannya. Hari pertambahan usia Arnold ini akan dirayakan oleh semua anggota keluarga, tetangga, dan juga beberapa anak yatim piatu sesuai dengan keinginan bocah laki-laki itu.
"Bunda, papa... Arnold ingin undang teman-teman yang ada di Panti Asuhan ya buat acara ulang tahun besok. Jangan lupa setelahnya kita bagi-bagi hadiah ke anak-anak jalanan" ucap Arnold dengan tatapan permohonan malam itu.
Tentunya Nadia dan Andre menyetujui keinginan anaknya itu karena yang Arnold inginkan adalah suatu kebaikan. Entah terbuat dari apa hati anak itu hingga mengingat teman-temannya yang tak seberuntung dirinya. Namun sebagai orangtua tentunya Nadia dan Andre begitu bahagia mengenai perkembangan Arnold yang membuat ketiga saudaranya juga jauh lebih peka lagi terhadap sekitarnya.
***
"Ingat ya, kalau kasih kado Arnold jangan yang beli pakai uang. Kalian harus hemat, jangan mentang-mentang anak orang kaya terus beli apa-apa pakai uang" peringat Arnold.
Arnold yang tengah duduk di ruang keluarga bersama ketiga saudaranya itu langsung memperingatkan mereka tentang kado yang harus diberikan seperti apa. Pasalnya kini ketiganya itu tengah berdiskusi tentang hadiah apa yang akan diberikan pada saudara mereka. Hadiah yang bukan lagi kejutan untuk Arnold, pasalnya mereka berdiskusi didekat bocah laki-laki itu duduk.
"Kalau nggak pakai uang, terus pakainya apa dong?" gerutu Anara menatap kearah Arnold.
"Pakai ini lho, kalian harus kreatif" ucap Arnold dengan gaya tengilnya.
Bahkan ia sampai menunjuk kearah pelipisnya menggunakan jari telunjuknya agar ketiga saudaranya itu mengerti. Setelah mendengar jawaban dari Arnold, ketiganya menunduk lesu. Pasalnya otak mereka sedang malas untuk berpikir tentang hal yang kreatif.
"Jangan malas berpikir. Masih muda kok udah malas-malasan" lanjutnya menyindir ketiga saudaranya.
Walaupun Alan belum paham mengenai apa yang diucapkan oleh Arnold namun melihat wajah lesu dari dua kakak perempuannya tentu dia sudah merasa bahwa tengah ada hal yang tak baik. Anara dan Abel pun langsung berdiri kemudian menggandeng Alan keluar dari rumah untuk mencari inspirasi.
Arnold yang ditinggal sendirian di ruang keluarga pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Semua orang tengah sibuk mempersiapkan acara ulang tahunnya nanti sore membuatnya tak bisa leluasa membuat ulah. Akhirnya dia hanya bisa merebahkan tubuhnya dalam sofa ruang ruang keluarga.
"Enaknya jadi Arnold. Udah tampan, kaya, lucu, imut, banyak yang sayang, dan udah punya pacar lagi. Tapi sayang, pacar Arnold entah lagi dimana" gumamnya yang kemudian terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
***
Sore harinya...
Semua keluarga, tetangga, dan beberapa anak yatim piatu dari Panti Asuhan sudah ada di rumah Keluarga Farda. Acara ulang tahun itu diawali dengan pengajian dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Arnold, Anara, dan Abel yang sudah belajar mengaji pun ikut larut dalam lantunan ayat suci itu walaupun masih belum terlalu lancar. Setelah acara pertama selesai, Arnold dan kedua orangtuanya berada didepan dengan sebuah kue ulang tahun yang telah ditiup lilinnya.
"Bagi kuenya... Bagi kuenya..." seru Anara dan Abel bersamaan.
Semua hanya bertepuk tangan bersama dengan bahagia. Bahkan Arnold dibantu oleh bundanya langsung mengiris kuenya kemudian membagi-bagikan kepada semua temannya. Arnold sangat bahagia karena ulang tahunnya kali ini bisa dirayakan dengan suasana begitu mengharukan.
"Terimakasih papa, bunda... Udah wujudin apa keinginan Arnold" ucap Arnold dengan mata berkaca-kaca.
Nadia dan Andre begitu tertegun melihat anaknya menatap kedua orangtuanya dengan pandangan mata berkaca-kaca. Baru kali ini Arnold terlihat begitu terharu seperti ini pasalnya biasanya mereka melihat mata bocah cilik itu akan menangis saat sedang sedih.
Walaupun Arnold seringkali menjahili dirinya namun ia sangatlah sayang pada anaknya itu. Karena bocah kecil itulah suasana rumah yang suram menjadi lebih berwarna. Semua orang bertepuk tangan melihat adegan pelukan itu.
Akhirnya semua berbaur satu sama lain bahkan Arnold dan ketiga saudaranya juga langsung mengajak mereka bermain dibelakang rumah. Mereka lari kejar-kejaran bahkan sekalian bermain petak umpet.
Pukul setengah 5, acara selesai. Semua tamu undangan sudah pulang dengan membawa bingkisan dan juga amplop. Berulangkali anak-anak Panti Asuhan mengucapkan terimakasih karena disambut dengan hangat disini.
"Ayo papa..." seru Arnold yang sudah membawa amplop-amplop yang akan dibagikan kepada anak jalanan.
Kali ini hanya Andre dan Arnold saja yang akan pergi karena mereka tengah berbagi tugas untuk membereskan rumah. Arnold dan Andre memasuki mobilnya kemudian melajukan mobilnya menuju ke daerah kolong jembatan.
Tak berapa lama, terlihatlah banyak sekali anak jalanan yang sedang bermain dan duduk didepan rumah-rumah kardus. Keduanya segera saja turun setelah berhasil mencari tempat parkir mobil yang aman.
__ADS_1
"Permisi, aku Arnold. Aku mau kasih sedikit rejeki dari papa dan bundaku" ucap Arnold dengan tersenyum ceria.
Sontak saja anak-anak yang merasa diajak bicara pun menghentikan kegiatannya. Mereka langsung mengerumuni Arnold dan Andre dengan tatapan mata berbinar. Arnold segera membagikan sebuah amplop kepada mereka masing-masing satu setelah Andre berhasil menertibkan semuanya.
"Terimakasih adek" seru mereka dengan serempak.
Mereka memutuskan memanggil Arnold dengan sebutan "adek" karena diantara semuanya ternyata Arnold lah yang paling kecil disana. Setelah selesai dengan mereka, Arnold dan Andre kembali berkeliling hingga menemukan sebuah rumah kardus dengan satu anak laki-laki seumuran dengannya.
"Kok kamu nggak ikutan kumpul sama teman-teman yang disana?" tanya Arnold mendekat kearah anak laki-laki itu.
"Ando harus jaga ibu yang lagi sakit. Nanti kalau main, bisa nggak tahu ibu butuh apa-apa" ucap bocah kecil bernama Ando itu dengan tatapan polosnya.
Arnold melongokkan kepalanya masuk dalam rumah kardus itu. Memang disana ada seorang ibu-ibu dengan salah satu kakinya yang bengkak tengah berbaring dan memejamkan matanya.
"Papa, bawa ibu itu ke rumah sakit" ucap Arnold pada Andre dengan tatapan permohonan.
Andre tentunya juga merasa iba melihat kondisi anak itu dan juga ibunya, pasalnya tetangga disana juga terlihat biasa saja saat melihat ada orang yang sakit. Andre segera membopong ibu itu dengan pelan-pelan keluar dari rumah kardus itu.
"Ibu aku mau dibawa kemana?" tanya Ando.
"Kita ke rumah sakit ya. Ibumu harus diobati biar kakinya nggak sakit lagi" jawab Arnold yang kemudian menggandeng tangan Ando.
Beberapa warga yang ada disana melihat kepergian Andre, Arnold, Ando, dan ibunya tanpa ada yang berniat meminta tolong. Namun Andre sama sekali tak peduli dengan tatapan-tatapan yang membuatnya risih itu, yang terpenting baginya adalah segera menolong ibunya Ando.
Andre meletakkan ibu itu di kursi belakang bersama Ando dengan memangku kepala ibunya. Sedangkan Arnold langsung masuk kedalam mobil disamping papanya yang mengemudi. Mobil itu melesat dengan kecepatan diatas rata-rata karena Andre merasa ada yang janggal dengan ibu itu.
__ADS_1