Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Jahilnya Andre


__ADS_3

Belum sempat Budhe Ana akan berlari menuju kearah gerbang, Andre dengan sengaja menjulurkan kaki sebelahnya agar bisa menghalangi langkah saudaranya itu. Alhasil karena Budhe Ana yang panik dan tak melihat adanya kaki yang menghalangi jalannya, ia tersandung kemudian jatuh tertelungkup. Sontak saja semua orang langsung melihat kearah sesuatu yang jatuh itu.


Andre dan Papa Reza pun menahan tawanya saat melihat kini Budhe Ana sudah jatuh tengkurap sambil mencium sampah yang berserakan di lantai. Bahkan para tetangga juga mengabadikan moment itu, sedangkan orang yang baru saja datang itu dengan segera berlari kearah Budhe Ana.


"Kejahilanmu memang luar biasa. Sangat mirip dengan Arnold dan Alan kalau sudah mengerjai orang" ucap Papa Reza sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Ternyata melihat kejahilan mereka setiap hari itu ada gunanya juga, pa" ucap Andre sambil terkekeh.


Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar hal itu. Namun memang benar adanya kalau kejahilan kedua cucunya itu jika digunakan untuk hal-hal darurat seperti ini sangatlah berguna. Mereka melihat seseorang yang baru saja datang itu membantu Budhe Ana bangun dari posisinya.


"Hei... Kalian apakan istri saya? Kenapa kalian acak-acak sampah di depan rumah? Kalian kalau mau mulung atau ambil barang bekas ya jangan pakai diacak-acak masuk dalam rumah dong" seru seseorang yang baru saja datang itu yang tak lain adalah suami dari Budhe Ana, Pakdhe Ubid.


Pakdhe Ubid tadi pulang ke rumah karena mendapatkan kabar dari seorang pembantu di rumahnya kalau ada beberapa orang yang membuat kerusuhan di rumahnya. Ia segera bergegas pulang dengan rasa panik yang ada dalam hatinya bahkan sampai tak melihat adanya Zunai didekat gerbang rumah saking banyaknya orang disana. Ia juga sudah tak ingat akan wajah Papa Reza yang dulunya memang lumayan berbeda dari sekarang.


Dulunya penampilan Papa Reza terlihat lusuh dan lebih kurus karena memang perekonomiannya belum membaik seperti saat ini. Sedangkan Andre sendiri tentu ia tak tahu karena saat itu bocah itu masihlah kecil dan belum sebesar ini ketika bertemu. Bahkan kini wajah Pakdhe Ubid sudah tak segagah dulu, mungkin kalau tadi ia tak menyebutkan Budhe Ana istrinya pasti Papa Reza juga tidak mengenalinya.


"Dia jatuh sendiri kok malah nyalahin kami. Masa paman lupa sama aku? Ini Reza, abangnya Dewi" ucap Papa Reza sambil menatap sinis.

__ADS_1


Saat mendengar apa yang diucapkan oleh Papa Reza, sontak saja Pakdhe Ubid memundurkan langkahnya sambil menarik tangan Budhe Ana. Terlihat sekali kalau Pakdhe Ubid begitu panik dan gelisah karena kedatangan sosok seorang yang selama ini mereka hindari. Bahkan Budhe Ana kini bersembunyi dibalik tubuh suaminya dengan badan yang gemetaran.


"Takut ya kedatangan malaikat pencabut segala kenyamanan kalian?" tanya Andre dengan sinis.


Andre dan Papa Reza kemarin berkolaborasi mencari tahu mengenai masalah rumah Lukman yang ternyata dijual oleh Budhe Ana dan Pakdhe Ubid. Mereka meminta beberapa peretas untuk membobol data akta jual beli tanah dan rumah itu. Berakhir ditemukan nama pembeli tanah dan rumah itu kemudian keduanya menghubunginya kemudian menemukan fakta bahwa yang menjual adalah Budhe Ana.


Namun mengenai dimana keberadaan Lukman, mereka masih belum mendapatkan petunjuk apapun. Terlebih di desa ini tak ada CCTV yang bisa mereka retas. Mereka juga sudah meminta para rekan kerja dari berbagai perusahaan untuk memeriksa apakah ada karyawan bernama Lukman itu namun sampai saat ini belum ada informasi apapun.


"Mana uang hasil penjualan tanah dan rumah yang lumayan besar itu? Jangan bilang untuk biaya hidup Zunai dan Ega karena mereka nyatanya hidup di jalanan juga dari belas kasihan tetangganya" ketus Papa Reza.


Pakdhe Ubid terlihat matanya bergerak kesana kemari seakan sedang memikirkan rencana untuk mengelak dan pergi dari tempat itu. Namun tentunya Andre takkan membiarkan hal itu terjadi. Andre segera saja mendekat kearah mereka dengan membawa tali yang entah ia dapat darimana.


Bahkan Papa Reza juga ikut membantu anaknya untuk mengikat keduanya. Beberapa tali mereka ikatkan dengan erat membuat mereka tak bisa leluasa bergerak. Walaupun tadi sempat memberontak namun keduanya tak bisa apa-apa lagi karena Papa Reza dan Andre langsung memegangnya dengan erat. Sudah tangan dan tubuhnya terikat, Andre dengan isengnya mengikat tali pada kaki keduanya dengan dihubungkan pada kursi.


"Biar nanti kalau jalan sekalian bawa kursi" celetuknya sambil terkekeh.


"Gimana kalau kita jual balik rumah ini? Uangnya kita buat foya-foya saja" ucap Papa Reza menyampaikan idenya.

__ADS_1


Tentunya mereka langsung menatap tak percaya kearah Papa Reza yang dengan tega memberikan usulan itu. Andre menganggukkan kepalanya antusias bahkan dengan cepat ia mengambil ponselnya kemudian memfoto semua rumah ini.


"Jangan lancang, ini rumahku. Aku bisa laporkan kalian ke polisi kalau sampai berani menjual rumah hasil kerja kerasku" seru Pakdhe Ubid.


"Wah... Kalau gitu kita sama-sama lapor saja ke polisi, jika perlu ya barengan aja yuk. Saya juga akan melaporkan kalian atas dasar penelantaran anak dan pemalsuan data demi menjual rumah juga tanah milik suami Dewi" ucap Papa Reza dengan santainya.


Mereka hanya bisa diam tak berkutik mendengar ancaman yang keluar dari bibir Papa Reza itu. Mereka tak menyangka jika sekarang keponakan keduanya sudah menjadi orang sukses hingga berani menantangnya untuk lapor polisi.


"Kita juga bisa tuh tuntut mereka karena bekerjasama dengan oknum tertentu agar memberikan keterangan palsu atas hilangnya Dewi" lanjutnya sambil tersenyum menyeringai.


Kedua tangan mereka mengepal erat karena sudah tak bisa mengelak lagi. Namun dilihat dari wajah keduanya yang memerah, tentunya mereka sangat emosi karena kejahatannya terungkap. Terlebih terungkap didepan orang banyak dan itu adalah tetangganya sendiri. Pasti setelah ini mereka akan mendapatkan gunjingan dan hujatan dari warga sekitar.


Bahkan para warga dan RT setempat juga baru mengetahui kalau mereka melakukan semua itu. Seharusnya jika sudah menjual semua harta peninggalan Lukman dan Dewi, kedua anaknya harus dirawat bukan ditelantarkan. Namun pada faktanya malah ini dengan sengaja mengusir mereka dan tak mau menafkahi kedunya.


"Ayo kita bicarakan ini baik-baik dulu di dalam. Tak usah sampai teriak-teriak seperti ini, malu dilihat tetangga" ucap Pakdhe Ubid mencoba bernegosiasi.


"Yang malu kan situ, bukan kita. Kita mah nggak salah dan tidak melakukan kejahatan jadi ngapain malu" ucap Andre dengan entengnya.

__ADS_1


Pakdhe Ubid dan Budhe Ana terlihat frustasi saat usulan untuk bicara baik-baik ternyata malah ditolak. Kesalnya lagi kini Papa Reza dan Andre terlihat dengan senang hati sibuk atas ponselnya untuk mengiklankan rumah ini. Keduanya tak main-main untuk menjual rumah ini agar bisa mengambil hak dari Zunai dan Ega.


__ADS_2