
Andre membuka helm yang dipakai oleh pengendara motor itu. Semua warga disana yang berkerumun juga ikut penasaran untuk melihat pengendara motor ugal-ugalan itu. Terlebih dari suaranya terdengar jika itu adalah seorang perempuan.
Keadaan pengendara motor itu tak bisa dikatakan baik-baik saja karena kaki dan tangan terjepit bahkan sampai kepala berdarah. Hal ini dilihat saat banyaknya darah yang keluar dari merembes dari sela-sela helm dan kepala.
Setelah berhasil membuka helm itu, kepala pengendara itu tertutupi oleh rambut panjang. Sudah dapat dipastikan jika pelaku adalah seorang perempuan. Andre segera menyibakkan rambut itu ke samping dan terlihatlah wajah pengendara motor itu. Andre dan keluarganya sontak saja terkejut terutama Abel yang langsung ketakutan.
Ternyata perempuan yang mengendarai motor dan sengaja akan menabrak kearah keluarga Andre itu adalah Sukma. Entah bagaimana perempuan paruh baya itu bisa lolos dari penjagaan rumah sakit jiwa.
"Sukma..." seru Mama Anisa dengan terkejut.
Sedangkan Andre dan Papa Reza sudah menduga hal ini karena tadi saat pengendara itu bersuara, mereka telah mengenali siapa itu. Nadia langsung memeluk Abel yang sudah ketakutan melihat orang yang dulunya selalu menyiksa fisik dan batinnya itu.
"Coba cek, Ndre itu masih hidup apa kagak" ucap Papa Reza.
Andre mendekatkan jari tangannya kearah hidung Sukma dan ia menatap kearah papanya dengan menggelengkan kepalanya. Semua orang yang ada disana tentunya langsung terkejut dan agak menjauh.
"Innalillahi..." ucap semua yang ada disana.
Mama Anisa hanya bisa menatap prihatin kearah mantan musuh bebuyutannya itu. Namun dalam hati ia bersyukur karena rival abadinya itu kini telah menemui Tuhan untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya. Ia tak menyangka Sukma meninggalkan dunia ini dengan mudahnya padahal dosa-dosanya begitu banyak. Mama Anisa sebenarnya ingin memberikan siksaan lagi untuk Sukma agar ia bisa merasakan kepahitan hidup. Namun apalah daya kini wanita itu sudah tak bernyawa hanya karena menabrak pohon besar di komplek perumahan tempat tinggalnya.
__ADS_1
Bahkan tangan Mama Anisa berasa gatal untuk menjambak rambut panjang wanita paruh baya itu dan ingin sekali memukulkan helm kearah kepalanya. Biar dia sadar kalau hidup di dunia ini sebentar dan tidak boleh berbuat jahat.
"Jahat sih sama keluargaku, makanya langsung diambil nyawanya sama malaikat" batin Mama Anisa tersenyum sinis.
Akhirnya beberapa orang memilih untuk menghubungi pihak kepolisian untuk melaporkan kejadian ini dan ambulance untuk mengurus jenazah. Setelah diputuskan menghubungi kepolisian, segera saja Nadia menggendong Abel yang masih gemetaran kemudian pergi pulang terlebih dahulu bersama Mama Anisa dan Anara.
***
Didalam perjalanan menuju ke rumah, Mama Anisa langsung saja menggosipi tentang kejadian hari ini. Bahkan dengan antusiasnya, wanita paruh baya itu mencaci maki Sukma yang berencana akan menabrak salah satu anggota keluarganya. Mama Anisa sudah tahu semua kronologinya
"Karma dibayar tuntas. Mau nyelakaian orang, eh dianya nabrak pohon langsung koid" ucap Mama Anisa dengan senyum sinisnya.
"Ma, jangan gosipin kejadian ini terus didepan Abel. Kayanya dia masih trauma deh sama orang-orang itu" bisik Nadia tepat ditelinga Mama Anisa.
Mama Anisa menganggukkan kepalanya mengerti tentang bisikan yang Nadia utarakan. Dia juga tahu kalau cucunya itu masih belum bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu sepenuhnya.
Tak berapa lama keempatnya sampai di rumah keluarga Farda kemudian masuk kedalam. Suasana rumah dan sekitar begitu sepi karena kebanyakan dari mereka masih berkumpul di lokasi terjadinya kejadian tadi.
***
__ADS_1
Beberapa polisi dan juga ambulance datang ke tempat kejadian untuk menyelidiki kejadian yang baru saja terjadi. Beberapa saksi dimintai keterangan bahkan CCTV juga diperiksa oleh pihak kepolisian. Barang bukti juga dikumpulkan untuk menyimpulkan tentang kejadian sebenarnya.
Polisi juga sudah tahu identitas pelaku karena adanya keterangan dari Andre dan juga Papa Reza. Awalnya pihak kepolisian juga ingin meminta keterangan pada Arnold karena bocah itu terlihat berada diatas motor untuk melakukan perlawanan, namun Andre tak mengijinkan. Ia tak ingin karena kejadian ini membuat anaknya menjadi trauma, apalagi ia baru saja sembuh dari peristiwa kemarin.
"Tuan, apa anda tahu keluarganya? Kami akan menghubunginya untuk bisa segera melakukan proses penyerahan jenazah dan pemakaman" tanya polisi setelah semuanya selesai.
"Anak dan suaminya masih berada dalam penjara. Wanita ini juga penghuni penjara namun beberapa bulan yang lalu dipindahkan ke rumah sakit jiwa karena kondisi kejiwaannya terganggu. Untuk saudaranya yang lain saya tidak mengetahuinya. Bisa tanyakan pada suami dan anaknya di penjara saja, pak" ucap Andre.
Polisi itu menganggukkan kepalanya kemudian segera berlalu pergi dari area itu untuk melanjutkan tugasnya kembali. Begitupun dengan warga lainnya membubarkan diri setelah tak ada yang bisa mereka bantu disana. Andre dan Papa Reza serta Arnold yang berada di gendongannya pun langsung pergi setelah selesai memberikan keterangan.
"Nggak nyangka ya, pa. Aneta dan si nenek sihir itu berakhir dengan mengenaskan. Aku tadi juga sudah menduga sih ini ulah dari si nenek sihir. Pasalnya surat yang Aneta tulis untukku harus berhati-hati dengan dia, namun yang aku tak menyangka adalah dia melakukannya sendiri demi obsesinya" ucap Andre sambil geleng-geleng kepala.
"Memangnya Aneta menulis itu di suratnya?" tanya Papa Reza bingung.
Papa Reza memang belum mengetahui tentang isi surat dari Aneta karena Andre masih belum menceritakannya. Andre merasa bahwa semua sumber masalah memang berasal dari dirinya itu. Perceraiannya dengan Aneta ternyata membawa banyak dampak buruk. Namun ia juga tak bisa menyalahkan hal ini, pasalnya ini sudah takdir yang digariskan oleh Tuhan.
Andre hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Matanya menerawang lurus sambil memikirkan beberapa masalah yang terus silih berganti menghampirinya dan keluarga akhir-akhir ini. Sampai dia sering menyalahkan Tuhan karena merasa bahwa kehidupannya tak adil.
"Tak usah pikirkan macam-macam, Ndre. Kita keluarga, harus saling menguatkan dalam menghadapi semua masalah yang ada ini bersama-sama. Tak mudah memang, namun papa yakin jika kebahagiaan akan segera menghampiri keluarga kita" ucap Papa Reza dengan bijak.
__ADS_1
"Papa benar. Kita punya Tuhan dan keluarga yang membersamai kita dalam suka maupun duka. Asalkan saat bersuka cita, jangan sampai lupa akan Tuhan" ucap Andre dengan tersenyum tipis.
Papa Reza menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan dari Andre itu. Tak berapa lama, ketiganya sampailah di rumah keluarga Farda dengan Nadia dan Mama Anisa langsung menyambut kehadiran mereka. Segera saja mereka membersihkan diri kemudian melaksanakan jadwal makan malam yang sudah terlambat.