
Nadia masuk ke dalam kamar milik ketiga bocah kecil yang masih tertidur dengan pulas, namun ia mengernyitkan dahinya heran karena melihat Abel yang sepertinya terlihat gelisah. Bahkan didahinya sudah mengucur keringat begitu banyak. Nadia segera mendekat kearah Abel kemudian mengelus dahi dan pipinya. Beruntungnya gadis kecil itu tak sedang demam hanya sepertinya dia sedang bermimpi buruk.
Nadia segera menepuk-nepuk pelan pipi Abel sampai dia terbangun. Perlahan Abel terbangun dengan tersentak kaget dan nafas yang terengah-engah.
Hah... Hah... Hah...
Nadia segera memberikan air minum kepada gadis kecil dan langsung meneguknya secara rakus sampai gelas itu kosong. Abel mencoba untuk menetralkan nafasnya, kemudian Nadia segera memeluk gadis itu.
"Bunda, tadi Abel mimpi papa melambaikan tangan lalu pergi jauh. Abel udah panggil dan kejar papa tapi papa nggak nengok-nengok kearah Abel. Papa nggak akan pergi jauh kan, Bunda? Hari ini papa pulang, ya papa pasti udah dalam perjalanan ke rumah" lirih Abel,
Deg...
Jantung Nadia berdetak begitu kencangnya saat mendengar Abel menceritakan tentang mimpinya itu. Ternyata hari ini tak hanya dirinya saja yang mengalami mimpi buruk, melainkan Abel juga. Ia semakin khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan Andre.
"Ya Tuhan, aku percaya takdir yang kau gariskan untukku dan keluarga ini pasti yang terbaik. Tapi aku mohon kali ini saja untuk selamatkan Andre. Ketiga anaknya masih sangat membutuhkannya, aku tak sanggup jika harus melihat anak-anak lucu ini kehilangan senyumannya" batin Nadia sambil menahan tangisnya.
"Ya, papa pasti pulang dan nggak akan pergi jauh lagi. Kita akan kumpul dan main bersama lagi" ucap Nadia sambil mengelus pipi Abel.
Abel menganggukkan kepalanya sambil terus memeluk bundanya. Hatinya sedikit tenang walaupun masih ada sedikit rasa takut apabila papanya nanti akan meninggalkan dirinya lagi.
"Bunda dan kak Abel kok pelukan nggak ajak-ajak kami?" tanya seorang gadis kecil yang baru saja bangun.
Begitupun dengan Arnold yang menatap keduanya heran saat melihat kakak dan bundanya berpelukan. Terlihat sekali kalau suasana yang dirasakan adalah kesedihan. Nadia dan Abel segera melepaskan pelukan keduanya kemudian menatap kearah Anara dan Arnold. Nadia segera menarik keduanya untuk dipeluk bersama-sama. Pelukan yang begitu menghangatkan perasaan keempatnya dan sesaat bisa membuat hati mereka lebih tenang.
"Ayo mandi, kalian udah pada bau" goda Nadia sambil menjepit hidungnya.
__ADS_1
Mereka melepaskan pelukannya kemudian ketiga bocah kecil itu dengan polosnya mencium bau dari baju dan tubuhnya sendiri. Namun mereka mengernyitkan dahinya heran saat tak merasa bau badan, sedangkan Nadia hanya bisa menahan tawanya.
"Unda ohong. Ita angi kok" seru Arnold tak terima.
"Iya, badan kita wangi kok. Bajunya juga" ucap Anara.
"Ayo serang bunda karena udah jahilin kita" seru Abel.
Ketiganya segera menyerang Nadia dengan memberikan ciuman pipi dan gelitikan pada perutnya. Nadia sampai tertawa terpingkal-pingkal karena mendapatkan ciuman dan gelitikan bertubi-tubi dari ketiga anak kecil itu.
"Ampun... Bunda kalah" seru Nadia karena sudah tak kuat dengan apa yang dilakukan ketiganya.
Ketiganya pun segera menyudahi aksinya kemudian mereka duduk dengan nafas yang terengah-engah karena terlalu banyak tertawa dan berteriak. Setelah menetralkan nafasnya, keempatnya saling menatap kemudian tertawa bersama. Sungguh indah pemandangan Nadia dan ketiga anak itu diatas kasur membuat siapapun akan merasa terharu dan bahagia.
***
"Permisi, pak. Kami mau menanyakan tentang korban kecelakaan jalan tol tadi malam. Dibawa kemana ya untuk korbannya? Karena kami adalah salah satu keluarga korban" tanya Papa Reza kepada salah satu polisi yang berjaga.
"Di rumah sakit Y, pak. Silahkan bisa langsung kesana saja untuk mencari informasi lebih lanjut" ucap polisi itu.
Papa Reza dan Mama Anisa segera saja mengucapkan terimakasih dan berpamitan kepada polisi tersebut. Mereka segera meninggalkan kantor polisi dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit Y. Dengan perasaan khawatir, keduanya terus berdo'a didalam hati agar diberikan kabar baik mengenai anaknya.
Setelah beberapa menit mengendarai mobil, akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah sakit Y. Setelah memarkirkan mobilnya, Papa Reza segera memasuki rumah sakit tersebut. Disana sudah terdapat banyak awak media, polisi, dan beberapa keluarga korban. Suasana di rumah sakit itu benar-benar ramai dari halaman hingga lobby.
Mama Anisa dan Papa Reza segera melihat daftar korban yang ditempelkan di papan pengumuman. Dengan ragu-ragu, keduanya melangkah dan langsung mencari nama anaknya. Tubuh Mama Anisa lemas seketika saat melihat nama anaknya tertera pada daftar korban luka berat. Papa Reza hanya bisa memeluk istrinya yang lemas dipelukannya.
__ADS_1
"Kita duduk disana dulu yuk, ma" ajak Papa Reza kemudian memapah istrinya.
Setelah duduk bersama keluarga korban lainnya, Mama Anisa langsung meminum air mineral yang sedari tadi ia bawa.
"Pa, Andre mengalami luka berat dalam daftar itu" lirih Mama Anisa.
"Sabar, ma. Nanti setelah kondisi mama lebih kuat berjalan dan menghadapi apa yang terjadi, kita akan masuk ke dalam untuk melihat kondisi Andre" ucap Papa Reza.
Papa Reza sengaja mengajak istrinya untuk duduk terlebih dahulu karena ia melihat istrinya tampak shock dan lemas setelah melihat papan pengumuman. Keduanya istirahat sejenak sambil melihat semua keluarga korban yang tampak sedih dan khawatir terhadap salah satu anggota keluarganya yang terlibat kecelakaan itu.
"Ayo pa. Mama sudah siap" ajak Mama Anisa.
Papa Reza hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, kemudian mereka berdiri dan berjalan menuju area lobby rumah sakit. Dengan menunjukkan kartu keluarga, mereka dapat masuk dengan mudah karena terbukti sebagai salah satu anggota keluarga korban. Dengan langkah berat, keduanya berjalan menuju sebuah ruangan yang ditunjukkan oleh seorang perawat.
"Ini ruangan dari korban atas nama Andrean Agustin Farda" ucap perawat yang mengantar mereka.
Deg...
Jantung kedua orangtua Andre seakan berhenti berdetak, ruangan yang ditunjukkan oleh perawat itu adalah ruang ICU. Itu berarti kondisi Andre saat ini sedang serius karena diharuskan mendapatkan perawatan secara intensif.
"Terimakasih" ucap Papa Reza singkat.
Perawat itu pun meninggalkan kedua orangtua korban, sedangkan Mama Anisa dengan tangan bergetarnya segera menempel pada sebuah pintu dengan kaca yang lumayan besar. Mama Anisa segera mendekatkan wajahnya dan melihat keadaan anaknya yang sedang ada didalam.
"Astaghfirullah..." gumam Mama Anisa lirih saat melihat anaknya terbaring lemah diatas brankar rumah sakit.
__ADS_1
Matanya memanas bahkan dia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya setelah melihat kondisi Andre. Papa Reza yang penasaran pun akhirnya mengintip sekilas keadaan didalam. Sama halnya dengan Mama Anisa, Papa Reza menatap tak percaya dengan kondisi Andre, dia berpikir bahwa yang didalam itu bukanlah anaknya.