
Memasuki hari kelima, liburan berjalan dengan lancar karena hubungan kedua orangtua Nadia dengan Andre dan juga anak-anaknya perlahan mencair setelah kejadian malam itu. Seperti saat di kota, Arnold selalu saja berseteru dan berdebat dengan Ibu Ratmi jika di desa. Ada saja yang mereka perdebatkan membuat semua orang yang ada disana terhibur. Bahkan Mama Anisa dan Papa Reza juga sering melakukan video call pada keempat cucunya karena rasa rindunya. Memang benar jika tanpa kehadiran keempat bocah kecil itu membuat suasana di sekitarnya menjadi sepi.
Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di desa itu untuk liburan karena lusa anak-anak sudah masuk sekolah. Esok hari mereka akan kembali ke kota untuk memulai semua kegiatannya. Hari ini mereka sudah memutuskan akan mengelilingi kebun buah sekaligus membeli beberapa oleh-oleh untuk dibagikan ke tetangga komplek perumahan yang ada di kota.
"Kalian udah siap?" Tanya Nadia kepada keempat anaknya yang sudah rapi.
"Siap...." seru Arnold, Anara, dan Abel.
"Cap..." jawab Alan sambil memperlihatkan dua giginya yang tumbuh pada bagian depan.
Melihat hal itu tentunya Ibu Ratmi gemas bukan main dengan wajah cucunya yang begitu menggemaskan. Hari ini Ibu Ratmi dan Ayah Deno akan ikut untuk wisata petik buah. Selama tinggal di desa ini, mereka berdua memang sama sekali belum pernah kesana karena tiket masuknya yang lumayan mahal. Karena jarak rumah dengan tempat wisata itu lumayan jauh, akhirnya mereka memutuskan untuk naik mobil Andre. Semua berjalan keluar rumah dengan Ayah Deno yang terakhir karena harus mengunci pintu terlebih dahulu.
Beberapa tetangga yang melihat keluarga Ayah Deno sudah rapi pun terlihat sangat penasaran. Bahkan dari mereka ada yang beberapa menebak jika kedua orangtua Nadia akan kembali ke kota bersama dengan anaknya. Walaupun masih heran juga karena tak ada koper yang dimasukkan dalam mobil.
"Bu Rat, mau ikut anakmu balik ke kota? Atau mau kemana?" Tanya salah satu tetangga yang melihat kepergian mereka.
"Oh... Enggak, ini kami mau wisata ke kebun buah itu lho" jawab Ibu Ratmi sambil tersenyum.
Ibu-ibu itu pun menganggukkan kepalanya paham kemudian pamit undur diri. Sedangkan mereka semua akhirnya masuk kedalam mobil dengan Ayah Deno duduk disamping kursi kemudi. Ibu Ratmi, Nadia, dan anak-anak berada di kursi penumpang dengan Arnold dan Alan yang berdiri melihat kearah jendela mobil.
__ADS_1
Mobil mewah itu bergerak keluar dari pedesaan kemudian melewati jalan raya dengan kecepatan sedang. Arnold dan Alan begitu semangat memandang jalanan yang ada disamping kanan kirinya karena terdapat banyak pepohonan yang seperti bergerak. Bahkan mereka melewati sawah juga hutan yang membuat suasana alami pegunungan itu begitu terasa.
***
Tak berapa lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Andre sampailah di kebun buah yang menjadi tujuan mereka. Mereka semua turun dari mobil kemudian Andre membeli beberapa tiket masuk. Setelah semua selesai, mereka semua masuk dan langsung menuju kebun buah strawberry.
"Wow... Buah strawberrynya udah pada matang semua ini, merah-merah segar" ucap Arnold mengagumi kebun yang ada dihadapan matanya.
"Iya, ayo kita petik banyak-banyak" seru Anara dengan semangat.
Keempat bocah kecil itu dengan semangat berlari untuk segera memetik strawberry yang ada disana sambil membawa sebuah keranjang kecil. Bahkan Alan pun mengikuti Arnold yang berlari walaupun harus tertatih-tatih. Akhirnya para orang dewasa mendampingi masing-masing satu anak.
Andre dan Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Ibu Ratmi yang sepertinya sudah frustasi jika harus berhadapan dengan Arnold. Akhirnya kedua bocah laki-laki itu dikawal oleh Nadia dan Andre. Keduanya begitu sangat aktif berlarian sambil terus mencari buah yang menarik perhatian mereka.
"Bunda, ini nanti kan buah yang dipetik ditimbang baru dibayar kan ya? Ini kalau buahnya Arnold makan, berarti perutku dong yang ditimbang. Kan semuanya udah masuk dalam perut Arnold" ucap Arnold sambik terus memetik buah.
Mendengar ucapan anaknya itu sontak saja Andre dan Nadia tertawa. Anaknya ini aneh-aneh saja mana bisa perutnya ditimbang karena strawberrynya sudah makan. Mereka harus benar-benar menyiapkan mental dan otak setiap kali mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir mungil Arnold.
"Enggak gitu juga konsepnya, mbul" gemas Andre.
__ADS_1
"Lha terus gimana dong?" Sewot Arnold.
"Kalau makan disini itu gratis, nak. Sepuasnya, soalnya udah ada paketan sama tiket masuknya. Kalau mau dibawa untuk oleh-oleh itu baru bayar" ucap Nadia menjelaskan.
Arnold menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang dimaksud oleh bundanya itu. Bahkan kini keranjang miliknya sudah ia tinggalkan begitu saja kemudian ia memakan buah yang langsung dipetik dari pohonnya.
"Arnold mau makan banyak-banyak disini aja. Arnold nggak mau rugi" gumam Arnold yang memasukkan beberapa strawberry yang dipetiknya langsung kedalam mulutnya.
Nadia segera menghentikan laju tangan Arnold agar bocah kecil itu tak memasukkan lagi strawberry dalam mulut kecilnya. Ia tak mau anaknya sakit perut karena memakan strawberry terlalu banyak apalagi rasanya juga asam.
"Kenapa bunda?" Tanya Arnold dengan mencebikkan bibirnya kesal karena kegiatannya terganggu.
"Strawberrynya belum di cuci, nak. Sebelum makan harus di cuci dulu biar nanti nggak sakit perut dan jangan memakan sesuatu secara berlebihan" pesan Nadia pada anaknya itu.
"Lho... Bukannya berani kotor itu lebih baik ya bunda? Berarti ini walaupun strawberrynya kotor belum di cuci itu lebih baik dimakan daripada nggak dimakan sama sekali lho" Tanya Arnold menirukan sebuah kalimat pada iklan televisi.
Nadia hanya bisa menepuk dahinya pelan dan mengelus dadanya sabar. Ia sendiri yang biasanya pintar dalam bersilat lidah akhirnya mengaku kalah pada anaknya sendiri. Namun kini Nadia tetap kukuh untuk mencuci beberapa strawberry yang akan dimakan oleh anak-anaknya. Ia juga ikut memetik beberapa buah untuk dijadikan oleh-oleh. Setelah kurang lebih 3 jam mereka mengelilingi kebun buah itu, akhirnya semua memutuskan untuk mengakhiri liburan kali ini.
Keempat anaknya yang begitu aktif dan bersemangat, membuat Nadia dan Andre begitu bahagia. Mereka tak menyangka jika liburan kali ini bisa ditutup dengan kebahagiaan karena semua bisa membaur jadi satu. Semua buah yang akan djadikan oleh-oleh sudah dibungkus rapi oleh petugas disana. Setelah selesai dengan pembayarannya, mereka masuk dalam mobil kemudian meninggalkan area kebun buah itu. Mobil melaju meninggalkan kebun buah itu dengan keempat bocah kecil yang sudah tertidur lelap. Terlihat sekali kalau mereka sudah kelelahan.
__ADS_1