Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Mencari


__ADS_3

Nadia pulang ke rumahnya dengan gontai, langkah kakinya diseret seakan-akan tak mempunyai tenaga untuk berjalan. Fisiknya lelah, ditambah dengan hatinya yang hancur. Rasanya Nadia ingin segera sampai rumah dan tidur saja.


Huft... Hahh...


Berulang kali Nadia menghela nafasnya lelah sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya. Perjalanan kali ini terasa sangat lama menurut gadis itu. Setelah beberapa menit berjalan, Nadia segera saja masuk ke dalam rumah kontrakannya.


Kondisi rumah kontrakan Nadia sepi karena kedua orangtuanya tengah pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan berjualannya. Kedua orangtua Nadia berjualan sayuran dan sembako pada sore hari didepan rumah kontrakannya sehingga pada siang hari mereka akan berbelanja ke pasar.


Nadia segera masuk kedalam kamarnya kemudian membuang asal tas selempangnya, ia segera melempar tubuhnya keatas kasur empuknya. Tak lama kemudian dia segera menyelami alam mimpinya tanpa tahu bahwa di tempat yang berbeda tengah terjadi keributan yang besar.


***


Di rumah Keluarga Farda...


Ketiga anak Andre terbangun dari tidurnya pada hari menjelang sore. Ketiganya langsung saja mencari Bunda mereka secara bersamaan. Setelah terbangun, Abel bahkan sudah tak mengingat lagi peristiwa yang membuatnya trauma tadi.


"Bunda..." teriak ketiganya.


Abel membuka pintu kamarnya kemudian berteriak secara bersamaan memanggil sang Bunda Nadia. Mama Anisa dan Papa Reza yang mendengar teriakan ketiga cucunya pun keluar dari kamarnya.


Ceklek...


"Kalian sudah bangun?" tanya Mama Anisa saat keluar dari kamarnya dan melihat ketiga cucunya tengah berdiri sambil mengucek-ucek matanya.


"Nenek, Bunda mana? Kok nggak temani kita tidur" tanya Anara.


"Ya, nda ohong. Atanya elalu emani ita tidul, api ni ndak" kesal Arnold sambil mencebikkan bibirnya kesal.


Mama Anisa bingung mau menjawab apa pasalnya tadi setelah Andre menarik tangan Nadia, dia dan suaminya segera masuk ke dalam kamar. Bahkan mereka keluar dari kamar pun karena mendengar teriakan ketiga cucunya.


"Kita cari Bunda dibawah yuk" ajak Papa Reza.

__ADS_1


Akhirnya Anara dan Abel digandeng tangannya oleh Mama Anisa sedangkan Arnold digendong oleh Papa Reza. Mereka menuruni tangga satu persatu, namun saat sampai di lantai satu semuanya bingung karena terlihat sangat sepi. Bahkan seperti tak ada kehidupan sama sekali.


"Kalian duduk disini dulu, biar kakek yang cari papa kalian" ucap Papa Reza.


"Ukan papa, api Unda" seru Arnold.


"Iya... Kakek akan cari bunda kalian" ucap Papa Reza.


Papa Reza pun pergi untuk mencari keberadaan Andre dan Nadia, sedangkan istri dan ketiga cucunya tengah menunggu di ruang keluarga.


***


Papa Reza mencari keduanya di taman belakang terlebih dahulu karena mereka berdua memang sering menghabiskan waktu disana. Namun nihil, saat sampai disana Papa Reza sama sekali tak menemukan keduanya. Papa Reza kemudian berbalik arah masuk untuk menuju kamar Andre.


Tok... Tok... Tok...


"Ndre, kamu ada didalam nggak?' seru Papa Reza sambil terus mengetuk pintu kamar anaknya.


"Kalau Andre berada didalam kamar, lalu dimana Nadia? Nggak mungkin kan kalau Nadia didalam kamar Andre juga" batin Papa Reza mulai berpikir negatif.


Ceklek...


Tak berapa lama, Andre keluar dari kamarnya mengenakan pakaian santainya dan terlihat sekali kalau anaknya itu baru saja bangun tidur. Rambut yang acak-acakan bahkan Andre pun masih terus mengucek kedua matanya dengan tangan kemudian menyandarkan kepalanya di pintu.


Papa Reza segera melongokkan kepala kearah dalam kamar milik Andre. Matanya menelisik semua yang ada didalam kamar itu, namun yang dicarinya tak juga ia temukan. Andre yang melihat tingkah papanya itu merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Papa cari apa di kamar Andre? Kalau papa cari anak-anak, dia ada dikamarnya" ucap Andre.


"Papa cari Nadia. Dia ada disini nggak? Soalnya ketiga anakmu waktu bangun tidur nyariin Bundanya terus" ucap Papa Reza dengan tatapan bertanya.


"Nadia nggak ada disini, pa. Mungkin dia ada di rumahnya" jawab Andre dengan santai.

__ADS_1


Papa Reza yang mendengar jawaban Andre pun terheran-heran, mana mungkin Nadia ada di rumahnya sedangkan dia masih punya kewajiban untuk menjaga ketiga cucunya.


"Mana mungkin Nadia jam segini udah pulang ke rumahnya? Ini kan masih sore dan biasanya Nadia pulang waktu malam hari sampai ketiga anakmu itu tidur. Dia baik-baik aja kan, Ndre? Nadia pulang tiba-tiba apa karena sakit atau orangtuanya yang sedang sakit?" cerocos Papa Reza.


Andre yang mendengar ucapan dan pertanyaan yang dilayangkan oleh Papa Reza secara bertubi-tubi tanpa jeda pun hanya bisa menghela nafasnya kasar.


"Papa kalau tanya itu satu-satu dong" kesal Andre sedangkan Papa Reza hanya bisa cengengesan saja.


"Nadia dan kedua orangtuanya baik-baik saja. Andre udah nggak butuh pengasuh buat ketiga anakku" ucap Andre.


"Ya jelas udah nggak butuh, orang sebentar lagi kamu sama Nadia nikah. Pasti yang mengasuh dan menjaga anak kamu ya istri kamu" ucap Papa Reza dengan antusias.


Seketika saja Andre menepuk dahinya pelan saat apa yang ia maksud dengan apa yang dipahami oleh Papa Reza ternyata berbeda.


"Bukan itu maksud Andre" sanggah Andre.


"Lalu gimana maksudnya, Ndre?" gemas Papa Reza.


"Andre memutuskan untuk tidak menggunakan Nadia sebagai pengasuh ketiga anakku karena dia tak becus menjaga ketiganya. Aku tak suka orang tak becus dan ceroboh seperti Nadia itu ada disekitar ketiga anak-anakku. Menjaga ketiga anakku saja dia tidak becus, apalagi kalau nantinya menjadi istriku. Aku tak bisa membayangkannya" ucap Andre.


Papa Reza yang mendengar ucapan Andre pun seketika terkejut, bahkan kini matanya melotot tajam kearah anak laki-lakinya itu. Dia menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Andre.


"Dan kamu juga bicara dengan kalimat seperti itu di depan Nadia?" tanya Papa Reza dengan nada datarnya.


"Ya, aku mengucapkannya di depan Nadia. Jadi sepertinya pernikahan itu takkan pernah terjadi" jawab Andre dengan santai.


"Papa kecewa dengan kamu, Ndre. Kamu ini seorang laki-laki tetapi mulutmu itu tak mencerminkan kalau kau seorang lelaki. Kalau kau memang ingin membatalkan rencana pernikahanmu dengan Nadia, bilang sama kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya sudah menerimamu dan merestui hubungan kalian, tetapi dengan seenaknya kau menginjak harga dirinya. Perlu kau ingat kalau bukan karena Nadia ada disini, Abel tak mungkin berada dilingkungan keluarga kita. Bahkan dia yang membantu mamamu untuk memberikan pelajaran pada Aneta. Papa nggak bisa bayangin bagaimana reaksi mamamu kalau tahu mengenai hal ini" ucap Papa Reza panjang lebar.


Sedangkan Andre yang mendengarkan ucapan papanya hanya bisa terdiam dengan pikiran kosongnya. Ia tak memikirkan sampai hal kesitu, seharusnya dia mengembalikan Nadia ke orangtuanya dan membicarakan hal ini baik-baik namun dia malah menghina dan merendahkan Nadia.


"Tahu mengenai apa..."

__ADS_1


__ADS_2