
"Yoyoyo... Nenek cantik yang kecantikannya nggak melebihi bunda, Arnold datang..." seru bocah kecil laki-laki yang langsung berlari masuk kedalam rumah yang sudah terbuka pintunya.
Setelah hampir 10 jam berkendara, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Andre sampai juga di rumah dengan selamat. Mereka semua turun dari mobil membuat Arnold diikuti oleh Alan berlari masuk kedalam rumah. Sedangkan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah aktif dua bocah laki-laki itu. Andre menurunkan koper dibantu oleh sopir dan satpam kemudian membawanya masuk kedalam rumah. Sedangkan Nadia membawa kedua anak gadisnya lebih dahulu masuk menyusul adik-adiknya.
Mama Anisa dan Papa Reza yang berada di dalam kamar pun langsung saja keluar hingga berlari tergopoh-gopoh saat mendengar seruan dari seseorang yang mereka rindukan. Saat sampai di lantai bawah, Mama Anisa langsung saja memeluk Arnold dan Alan yang tengah tiduran diatas karpet ruang keluarga.
"Nenek kangen..." seru Mama Anisa sambil mengecupi seluruh permukaan wajah Arnold dan Alan.
Bahkan Arnold sampai menggunakan tangannya agar neneknya itu berhenti menciumnya. Ia sungguh geli dengan ciuman itu pasalnya hampir seluruh wajahnya itu basah oleh air liur dari neneknya.
"Nenek, ini basah semua lho muka ganteng Arnold" protesnya.
Mama Anisa sama sekali tak mempedulikan protesan dari Arnold bahkan melihat Alan yang tertawa karena kegelian itu membuatnya sangat bahagia. Akhirnya keceriaan didalam rumahnya akan kembali seperti semula. Tiba-tiba saja Nadia, Anara, dan Abel masuk dalam ruang keluarga kemudian memeluk Papa Reza yang tengah berdiri melihat istri juga cucu-cucunya.
"Bunda, ini lho nenek tuh suka cium-cium Arnold sampai mukanya basah" adu Arnold saat melihat adanya Nadia.
"Nggak papa lah, lagi pula nenek pasti kangen sama Arnold kan" ucap Nadia sambil terkekeh geli.
Arnold hanya mencebikkan bibirnya kesal karena ternyata aduannya sama sekali tak berpengaruh. Akhirnya ia hanya pasrah saja dijadikan sasaran kecupan maut dari Mama Anisa. Andre masuk dengan membawa beberapa koper kemudian memasukkannya kedalam kamar kecuali yang berisi oleh-oleh.
***
"Mana oleh-oleh buat nenek? Jangan bilang lupa ya" tagih Mama Anisa setelah disoorkan koper yang masih tertutup.
__ADS_1
"Buka aja itu kopernya, nek. Oleh-oleh itu yang beliin Arnold lho pakai uang tabungannya aku" ucap Arnold membanggakan dirinya.
"Lho? Bukannya itu belinya pakai uang papa, ya?" tanya Anara bingung.
Arnold yang mendengar ucapan dari kakaknya itu pun mencebikkan bibirnya kesal. Pasalnya dirinya itu tengah mempunyai misi agar dipuji oleh kakek dan neneknya namun malah Anara membocorkannya. Sedangkan Mama Anisa dan Papa Reza tertawa geli melihat tingkah kedua cucunya yang tak bisa diajak bekerjasama itu.
"Kak Nara mah nggak asyiikkk" gerutu Arnold.
Anara hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal itu karena bingung dengan maksud ucapan adiknya. Pasalnya adiknya itu sering sekali ngambek karena dirinya yang berbicara. Padahal dia berbicara jujur namun Arnold pasti selalu memarahinya.
Akhirnya mereka sore itu langsung saja membongkar koper berisi oleh-oleh yang dibawanya. Ternyata oleh-oleh yang dibeli kebanyakan adalah makanan khas daerah itu membuat Mama Anisa senang bukan main. Terlebih menantunya juga akan membagi-bagikan oleh-oleh itu ke tetangga sekitar.
***
"Mereka memperlakukan dan menyambut kalian dengan baik kan?" tanya Mama Anisa.
Mama Anisa begitu kepikiran dengan ucapan Papa Reza malam itu jika cucu-cucunya sepertinya ada beban saat liburan. Bahkan melihat raut wajah Andre dan Nadia, mereka juga begitu berhati-hati ketika berbicara melalui video call dengannya. Sontak saja Papa Reza langsung menyimpulkan jika disana mereka tengah menghadapi tekanan batin membuat Mama Anisa berpikir itu berasal dari kedua orangtua Nadia.
"Mereka baik kok, ma. Kalian nggak usah khawatir, memang awalnya canggung namun semuanya perlahan mencair karena cucu mama yang rusuh itu" ucap Andre sambil terkekeh geli.
Mama Anisa sudah menduga jika Arnold lah yang akan menjadi pencair suasana disana. Kedua orangtua Andre bersyukur jika hubungan diantara mereka dengan sang besan bisa baik walaupun semuanya berawal dari sebuah komunikasi yang tidak lancar.
Setelah pembicaraan itu, akhirnya mereka memutuskan untuk masuk kamar masing-masing agar bisa beristirahat tak terkecuali Nadia dan Andre. Keduanya berjalan menaiki tangga dengan saling bergandengan tangan kemudian masuk kamar. Sesampainya di kamar, mereka duduk diatas ranjang untuk berbincang.
__ADS_1
"Masalah satu persatu selesai, aku harap hubungan keluarga kita tetap rukun selamanya" ucap Andre dengan tersenyum tulus.
Nadia langsung menyandarkan kepalanya dibahu kokok milik sang suami, sedangkan Andre mengelus lembut rambut istrinya dengan lembut. Terlihat sekali kalau mereka kini tengah bahagia karena ganjalan yang selama ini ada didalam pikiran telah diselesaikan dengan baik.
"Amin... Semoga kita tetap bahagia seperti ini dengan anak-anak juga orangtua kita. Mas, aku ingin punya baby lagi deh. Alan udah nggak mau aku pegang lama-lama karena selalu mengikuti Arnold terus" ucap Nadia.
Mendengar ucapan istrinya itu sontak saja Andre langsung menghentikan usapannya pada rambut Nadia. Bahkan kini tubuhnya menegang, bayang-bayang tentang pendarahan yang terjadi pada Nadia hingga membuatnya koma langsung berputar dalam otak Andre.
"Mas..." panggilnya.
Nadia terus memanggil-manggil suaminya saat tak mendengar suara Andre menjawab pertanyaannya. Bahkan kini Nadia menegakkan posisi badannya menjadi menghadap kearah Andre yang matanya menatap lurus kedepan. Tatapan Andre terlihat kosong bahkan ia sampai menggoyangkan bahu sang suami namun tak ada respons apapun.
Melihat hal ini tentunya membuat Nadia panik hingga terus menggoncangkan dan menepuk pelan pipi Andre.
"Mas... Hei, ada apa?" paniknya sambil menangis.
Tiba-tiba saja Andre tersadar setelah mendengar isakan istrinya kemudian menatap mata Nadia yang sudah sembab karena menangis. Andre segera saja menarik istrinya kedalam pelukannya dan mengelus punggung Nadia dengan lembut.
"Maafkan aku membuatmu khawatir" ucap Andre menenangkan istrinya.
Semenjak bangun dari komanya entah mengapa sikap Nadia sedikit sensitif terutama jika menyangkut dengan Baby Alan. Bahkan saat ada tetangga yang mencibirnya karena tak memberikan ASI nya saat koma membuatnya drop dan sering melamun sendiri. Bahkan Andre pernah memergokinya tengah menangis sendirian, hal ini membuatnya merasa sakit hati.
"Kamu kenapa, mas? Apa permintaanku begitu sulit? Aku ingin sekali merasakan menimang bayi dari kecil hingga memberinya ASI seperti yang lainnya" ucap Nadia membuat Andre mematung.
__ADS_1