
"Inat ya Kak Jun, angan mau talo diculuh inggal dicana. Angan mau dimamanpatin. Talo ada apa-apa, telak anggil ama Alan yang tencang tida tali. Alan akalan atang tutuk celamattan talian" ucap Alan memberi pesan kepada Zunai yang sudah berada dalam mobil kakeknya.
Alan tadinya ingin ikut mereka menemani Zunai namun tak diijinkan oleh Nadia. Kalau ada Alan disana pasti akan semakin repot karena pasti Ega juga memilih ikut. Hal ini nantinya dikhawatirkan kalau Andre dan Papa Reza kuwalahan mengawasi tingkah Alan yang sangat aktif. Bisa saja terjadi sesuatu yang tak dinginkan sehingga tak mau jika membawa banyak anak kecil.
"Adahal Alan tu talo itut ndak batal lepotin lho. Malah jutlu antu talian celecaikan macalah. Toh Alan nih anti bica aga dili cendili ndak pelu diwawasin" ucap Alan dengan percaya dirinya.
Tetap saja mau beralasan apapun itu, Nadia takkan pernah mengijinkannya. Ia hanya ingin Zunai, Andre, dan mertuanya segera kembali dengan selamat juga cepat. Kalau ada Alan pasti ada saja ulah bocah cilik itu yang membuat semuanya jadi terkendala.
"Kami pamit pergi dulu, semoga hasil yang kita dapatkan nanti sesuai ekspektasi. Semoga kami pulang dengan membawa kejelasan dari peristiwa di masa lalu" ucap Papa Reza yang kemudian memeluk Mama Anisa.
Mama Anisa juga sering bertemu dengan Dewi dan Budhe Ana dulu saat sebelum kejadian naas itu terjadi. Ia begitu bahagia saat suaminya mengabarkan bahwa Zunai dan Ega adalah keponakannya sendiri. Mengenai Dewi dan Budhe Ana yang diceritakan oleh Zunai itu tentunya membuat Mama Anisa ikut geram.
"Hati-hati di jalan. Jaga Zunai dengan baik, jangan sampai lepas dari pengawasan kalian. Apalagi kita tak mengetahui karakter dari Budhe Ana yang sekarang" ucap Mama Anisa memperi pesan.
Andre dan Papa Reza menganggukkan kepalanya kemudian pergi berlalu dari sana setelah berpamitan dengan istri dan anak-anaknya. Mereka segera saja masuk dalam mobil kemudian Andre melajukan kendaraan itu dengan kecepatan sedang.
"Talo tita cucul meleka caja mana, nek?" tanya Alan saat mereka semua berjalan masuk dalam rumah.
"Enggak" tegas Mama Anisa masih menolak permintaan dari cucunya itu.
__ADS_1
Tentu saja Alan langsung cemberut melihat neneknya tak menyetujui permintaannya itu. Bahkan tadi Alan sebenarnya ingin sembunyi-sembunyi untuk ikut masuk dalam mobil namun sudah ketahuan oleh Arnold. Bahkan telinganya dijewer oleh kakaknya itu karena sering sekali membantah keputusan orangtuanya.
"Alan, jangan bikin bunda khawatir dengan kamu menghilang atau diam-diam ikut dalam mobil ya" ucap Arnold yang langsung menjewer adiknya yang tadi mengendap-endap ingin masuk dalam mobil.
***
"Zunai, kalau mengantuk langsung tidur saja ya. Itu susu dan cemilannya dimakan, udah disiapin sama bunda" ucap Andre sambil menunjuk sebuah tas ransel lumayan besar yang berada disamping keponakannya itu duduk.
Zunai memang duduk di kursi belakang sendirian dengan adanya sabuk mobil yang membuat gadis kecil itu aman. Zunai menganggukkan kepalanya kemudian megambil susu dan cemilan untuk menemani kebosanannya. Biasanya ia akan ada teman berbincang yaitu Alan dan saudaranya yang lain namun kali ini dia sendiri disini yang anak kecil.
"Kakek, Zunai takut nanti bertemu budhe. Budhe kalau marah itu seram lho, dulu waktu ibu pinjam uang selalu ngomel dan lempar sapu" cerita Zunai pada Papa Reza.
Perasaannya semakin tak tenang, bahkan mungkin saja Dewi mengalami peristiwa lebih menyakitkan dulu saat dirinya sering ke rumah itu. Namun Dewi tak mau yang namanya menceritakan masalahnya padanya. Papa Reza semakin kalut bahkan kini perasaannya sedikit sesak, tak pernah ia membayangkan bagaimana kehidupan yang dialami oleh adiknya itu.
"Lalu budhe sering mukul gitu nggak?" tanya Papa Reza sambil mencoba menahan sesak dalam dadanya.
"Enggak sih. Tapi budhe sering berkata kasar bahkan ibu selalu tutupin telinga Zunai biar nggak dengar apapun yang beliau ucapkan" jawab Zunai sambil mengingat-ingat kejadian dulu.
Papa Reza hanya menganggukkan kepalanya mengerti sambil menghela nafasnya lega. Ia sedikit lega karena ternyata apa yang ditakutkannya tak terjadi. Beruntung Zunai mempunyai ingatan yang baik sehingga masih bisa mengingat kejadian dulu.
__ADS_1
"Kalau ayah kamu gimana waktu sama ibu dan kamu? Ayah baik nggak?" tanya Papa Reza mencoba menggali infromasi.
"Ayah baik. Saking baiknya kata ibu sering dimanfaatkan orang. Bahkan ayah sering memberi uang pada budhe Ana tapi nggak pernah dikembalikan. Ibu sering marah sama ayah karena gara-gara itu kita jadi makan sama nasi dan garam saja" ucap Zunai sambil menganguk-anggukkan kepalanya.
Papa Reza langsung melihat kearah Andre yang sama terkejutnya dengan dirinya. Mereka memilih diam untuk menetralkan rasa sesak dalam dadanya itu. Segera saja mereka memilih diam saja setelah pembicaraan itu. Semakin mereka tahu fakta di masa lalu, tentunya malah akan membuat keduanya sakit hati. Namun mereka bersyukur karena Dewi setidaknya mempunyai seorang pendamping yang baik hati walaupun setelah istrinya meninggal itu pergi tak tahu kemana.
***
Setelah mengemudikan mobil dalam waktu kurang lebih 5 jam lamanya secara bergantian, akhirnya kendaraan itu memasuki gerbang masuk sebuah desa. Butuh waktu 5 jam lamanya karena tadi mereka beberapa kali berhenti untuk istirahat dan ke kamar mandi. Disamping kanan dan kirinya ada sawah yang membuat suasana sejuk seketika menerpa wajah ketiganya karena jendela dibuka.
"Zunai ingat nggak kalau rumahnya didekat sini dulunya?" tanya Papa Reza pada Zunai yang kini begitu bersemangat melihat sawah.
"Heem... Didepan sana ada belokan lalu ke kiri. Disitu ada rumah Pak RT lalu tak jauh dari situ tempat tinggal kami dulu" ucap Zunai sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Papa Reza dan Andre menghela nafas lega karena ternyata Zunai masih mengingatnya. Mungkin jika tidak ingat, mereka akan kebingungan dalam bertanya. Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah sederhana yang kemudian Andre segera menghentikan mobilnya di pinggir lapangan sepak bola.
"Itu rumahnya Pak RT" tunjuk Zunai membuat ketiganya segera saja keluar.
Andre menggendong Zunai dengan Papa Reza langsung saja memasuki halaman rumah sederhana itu. Ternyata disana sudah ada ibu-ibu yang sedang memetik beberapa buah-buahan di halaman rumahnya. Mendengar ada suara langkah kaki masuk dalam halaman rumahnya, sontak saja ibu-ibu segera melihat kearah siapa yang datang.
__ADS_1
"Zunai..." seru wanita paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca.